Ternate menyebut dirinya sebagai Kota Pusaka. Sebuah identitas yang semestinya tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tercermin dalam cara pemerintah memperlakukan sejarah, tradisi, dan kebudayaan masyarakatnya. Namun, ada satu hal yang patut dipertanyakan dalam praktik seremonial Pemerintah Kota Ternate: mengapa tari Soya-Soya begitu sering digunakan untuk menyambut pemimpin dan tamu kehormatan?
Soya-Soya tentu bukan sekadar tarian. Ia memiliki sejarah dan nilai kepahlawanan yang kuat. Tarian ini berkaitan dengan semangat perjuangan dan keberanian masyarakat Ternate. Karena itu, Soya-Soya justru perlu ditempatkan secara tepat agar makna historisnya tidak mengalami penyederhanaan hanya menjadi sebuah tarian seremonial.
Ketika seorang pemimpin atau tamu kehormatan datang ke Ternate, yang hendak kita tunjukkan tentu adalah penghormatan, keramahan, persahabatan, dan keterbukaan masyarakat Ternate.
Lalu pertanyaannya: apakah selalu harus Soya-Soya?
Bukankah Ternate memiliki berbagai tarian tradisional lain yang memiliki motif pergaulan, kebersamaan, persahabatan, dan interaksi sosial yang lebih sesuai dengan semangat penyambutan?
Di sinilah pemerintah perlu melakukan evaluasi.
Jangan sampai karena Soya-Soya sudah populer dan dianggap sebagai representasi budaya Ternate, kemudian hampir setiap penyambutan pemimpin dan tamu kehormatan selalu menggunakan tarian yang sama. Jika pola ini terus berlangsung, kita justru berisiko mempersempit wajah kebudayaan Ternate.
Padahal, kekayaan budaya Ternate tidak hanya Soya-Soya. Ada tarian-tarian tradisional dengan karakter dan motif pergaulan yang juga merupakan bagian dari identitas masyarakat. Tarian-tarian tersebut semestinya mendapatkan kesempatan yang sama untuk tampil di ruang publik, terutama dalam agenda resmi pemerintah.
Di sinilah letak tanggung jawab pemerintah sebagai pengelola kebudayaan daerah. Pemerintah tidak cukup hanya mengambil simbol budaya yang sudah dikenal, lalu menggunakannya berulang kali dalam berbagai acara.
Pemerintah memiliki tanggung jawab yang lebih besar: mengenali keragaman budaya, memahami fungsi dan makna setiap tradisi, serta memastikan seluruh kekayaan tersebut tetap hidup.
Kalau setiap tamu datang disambut dengan Soya-Soya, lalu kapan tarian-tarian pergaulan itu diperkenalkan?
Kalau setiap pemimpin datang selalu disambut dengan simbol yang sama, bagaimana generasi muda Ternate akan mengenal bahwa daerah ini memiliki begitu banyak jenis tarian tradisional dengan fungsi dan makna yang berbeda?
Jangan sampai pelestarian budaya justru berubah menjadi pengulangan simbol budaya. Pelestarian seharusnya berarti memberikan ruang kepada keragaman.
Soya-Soya tetap penting. Bahkan, semakin penting untuk dijaga nilai sejarahnya. Tetapi tidak berarti Soya-Soya harus menjadi jawaban untuk setiap acara penyambutan.
Pemerintah Kota Ternate perlu mulai menyusun semacam tata kelola pemanfaatan seni tradisional dalam kegiatan resmi, dengan mempertimbangkan sejarah, fungsi, motif, dan konteks masing-masing tarian.
Tarian perang memiliki ruang dan konteksnya.
Tarian pergaulan memiliki ruang dan konteksnya.
Tarian penyambutan memiliki nilai dan pesannya sendiri.
Semua harus ditempatkan secara proporsional.
Jika benar Ternate ingin dikenal sebagai Kota Pusaka, maka ukuran keberhasilannya bukan seberapa sering kita menampilkan satu tarian, melainkan seberapa serius kita menjaga seluruh warisan budaya yang dimiliki.
Jangan sampai tamu datang ke Ternate dan hanya mengenal Soya-Soya, sementara tarian-tarian lain yang tak kalah berharga justru hanya dikenal oleh sebagian kecil masyarakatnya sendiri.
Kota Pusaka seharusnya memperlihatkan keragaman, bukan keseragaman. Maka, sudah waktunya Pemerintah Kota Ternate berani mengevaluasi pola penyambutan selama ini.
Berikan ruang kepada tarian-tarian bermotif pergaulan untuk tampil sebagai representasi keramahan dan persahabatan masyarakat Ternate.
Bukan berarti menghilangkan Soya-Soya. Tetapi mengembalikan setiap tarian pada konteks dan maknanya.
Sebab, merawat tradisi bukan sekadar menampilkannya di depan pejabat dan tamu kehormatan. Merawat tradisi berarti memahami sejarahnya, menghargai maknanya, menjaga keberagamannya, dan memastikan seluruh kekayaan budaya Ternate memiliki masa depan.
Ternate Kota Pusaka. Jangan hanya merawat yang sudah terkenal. Rawat pula yang mulai dilupakan.
*) Samsu Somadayo adalah Akademi Universitas Kharun dan juga Ketua LSM Pulpen Maluku Utara
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
Panjang naskah maksimal800 kata
Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
Hak muat redaksi.(*)
.png)