Kemarau Tekan Pasokan, Harga Cabai Keriting di Pasar Labuha Halmahera Selatan Tembus Rp120 Ribu per Kilogram

30 Agustus 2026 09:00 30 Agt 2026 09:00

Thumbnail Kemarau Tekan Pasokan, Harga Cabai Keriting di Pasar Labuha Halmahera Selatan Tembus Rp120 Ribu per Kilogram

Cabai Merah Keriting di Pasar Labuha Halmahera Selatan (Foto: Mursal/Ketik.com)

KETIK, HALMAHERA SELATAN – Harga sejumlah kebutuhan dapur di Pasar Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan, bergerak tinggi. Cabai merah keriting menjadi komoditas paling mahal dengan harga mencapai Rp120 ribu per kilogram, disusul cabai rawit Rp100 ribu per kilogram.

Sementara bawang merah dan bawang putih masing-masing dijual Rp50 ribu per kilogram. Adapun tomat berada di kisaran Rp15 ribu per kilogram.

Wa Risma, salah satu pedagang di Pasar Labuha, mengatakan harga cabai tidak selalu sama pada setiap lapak. Perbedaan itu dipengaruhi sumber barang, terutama antara komoditas yang diperoleh langsung dari petani dan yang didatangkan melalui pemasok.

Perbedaan rantai pasok tersebut membuat biaya pengadaan setiap pedagang tidak seragam, sehingga harga yang diterima konsumen juga dapat berbeda.

“Harga cabai merah di setiap lapak bisa berbeda. Tergantung kami beli langsung dari petani atau mengambilnya dari pemasok,” kata Wa Risma Minggu 30 Agustus 2026.

Untuk cabai merah keriting, Wa Risma memilih mengambil pasokan dari luar daerah. Pertimbangannya bukan hanya harga, tetapi juga kualitas, ukuran dan daya tahan komoditas selama dipasarkan.

Dalam menentukan barang dagangan, pedagang juga memperhitungkan kualitas dan risiko penyusutan agar komoditas tidak cepat rusak sebelum terjual.

“Kalau cabai merah keriting saya ambil dari luar daerah. Kualitasnya lebih bagus, lebih tahan lama, dan ukurannya juga berbeda dibandingkan hasil petani lokal,” ujarnya.

Menurut Wa Risma, ketergantungan terhadap pasokan dari luar Halmahera Selatan juga terjadi pada sejumlah pedagang lain di Labuha. Barang dari daerah lain masih menjadi salah satu sumber utama untuk menjaga ketersediaan kebutuhan masyarakat di pasar.

Kondisi tersebut membuat suplai dari luar daerah memiliki peran cukup besar dalam memenuhi permintaan pasar, terutama ketika hasil pertanian lokal sedang terbatas.

“Hampir rata-rata pedagang di Labuha banyak mengambil bahan dagangan dari luar daerah,” katanya.

Wa Risma menyebut keterbatasan pasokan lokal belakangan ini juga dipengaruhi musim kemarau yang telah berlangsung hampir empat bulan. Kondisi tersebut membuat sebagian petani kesulitan mempertahankan produksi, sementara hasil panen yang tersedia dinilai belum mencukupi kebutuhan pedagang.

Berkurangnya hasil pertanian ikut menekan sisi penawaran di pasar. Ketika jumlah barang yang tersedia menyusut sementara permintaan tetap ada, pergerakan harga menjadi lebih mudah terdorong naik.

“Kemarau sudah hampir empat bulan. Banyak petani yang gagal panen. Ada juga yang panen, tetapi hasilnya tidak seberapa sehingga sulit untuk kami ambil dalam jumlah banyak,” ungkap Wa Risma.

Persoalan air menjadi tantangan lain bagi petani selama musim kering. Kebutuhan pengairan meningkat, sementara penggunaan air berbayar menambah biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan tanaman.

Menurut Wa Risma, tingginya biaya input tersebut tidak selalu sebanding dengan nilai hasil panen yang diperoleh petani.

“Kalau petani memakai air berbayar untuk tanaman, pemakaiannya tentu banyak. Biayanya ikut naik, sementara hasil panennya belum tentu seimbang. Itu yang membuat petani kewalahan,” jelasnya.

Tekanan biaya tidak hanya terjadi di tingkat produksi. Pedagang juga harus memperhitungkan pengeluaran operasional selama menjalankan usaha di kawasan Pasar Labuha.

Wa Risma mengaku lapak yang ditempatinya berdiri di atas lahan milik warga dengan biaya sewa sekitar Rp10 juta per tahun. Selain itu, terdapat retribusi harian yang menurutnya berkisar antara Rp6 ribu hingga Rp20 ribu.

Biaya sewa, retribusi, ongkos pengadaan hingga risiko barang rusak menjadi bagian dari komponen yang ikut diperhitungkan pedagang sebelum menentukan margin penjualan.

“Lapak ini tanah milik warga. Sewanya sekitar Rp10 juta satu tahun. Selain itu, setiap hari masih ada retribusi yang dibayar, kisarannya Rp6 ribu sampai Rp20 ribu,” tutur Wa Risma.

Wa Risma mengatakan kondisi perdagangan di Pasar Labuha saat ini masih dihadapkan pada terbatasnya hasil pertanian lokal selama musim kemarau, sementara sebagian kebutuhan pedagang tetap dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah.

Tombol Google News

Tags:

Ekonomi Pasar Cabai Merah Keriting Pasar labuha Kemarau Pasokan Lokal Tipis Halmahera Selatan Maluku Utara