Sing Salah Seleh: Sebuah Mekanisme Penyelamatan Moral

28 Agustus 2026 11:03 28 Agt 2026 11:03

Erry Himawan, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Sing Salah Seleh: Sebuah Mekanisme Penyelamatan Moral

Oleh: Erry Himawan*

Dalam bentuk yang sederhana, ungkapan simh salah seleh dapat diberikan makna sebagai siapa yang salah, hendaknya mengaku salah.

Ungkapan ini juga termuat di dalamya akan kerendahan hati, mengakui kesalahan bahkan bersedia menerima risiko. Adalah sebuah petuah bijak Jawa, yang semestinya dapat dijadikan salah satu pedoman dan pegangan hidup.

Saat ini, sing salah seleh, terasa sangat mahal. Faktanya, kebanyakan orang ingin menang, tetapi tanpa mau atau tidak siap mengakui kesalahan. Sebagian besar orang inginnya dipuji saat sukses, namun mencari kambing hitam ketika gagal.

Semua kesalahan akan dipoles dengan penggambaran diri yang baik, sekuat tenaga dan pikiran ditutupi dengan berbagai macam alasan, bahkan diputarbalikkan sehingga orang yang sebetulnya bersalah malahan tampil sebagai korban.

Dalam kehidupan yang semakin kompetitif ini, mengaku bersalah sering kali dianggap sebuah kelemahan. Orang takut mengakui kesalahan karena takut kehilangan jabatan, kekuasaan, reputasi atau kepercayaan.

Pada akhirnya, kesalahan justru dipertahankan hanya untuk seseorang tidak mau kehilangan muka dan kehormatan. Di sinilah petuah bijak Jawa tersebut menjadi penting.

“Saya akui, saya bersalah”, orang yang berani berkata seperti itu, saya menyatakan bahwa orang tersebut telah memiliki moral yang baik. Orang tersebut patut diacungi dua jempol sebagai apresiasi.

Kenapa orang tersebut memiliki moral yang baik? Karena ia telah menunjukkan sikap sebagai seorang ksatria yang memiliki nurani yang bersih ketimbang orang yang selalu mempertahankan kesalahan dengan seribu alasan. Persoalannya akan menjadi lain dan serius ketika “tidak mau mengaku salah” menjadi sebuah budaya.

Petuah bijak Jawa tersebut, terkait erat dengan krisis moral yang sedang kita hadapi. Krisis ini muncul ketika manusia kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Lebih parah lagi, ketika seseorang sebetulnya sudah tahu bahwa dirinya bersalah, namun dirinya merasa benar.

Yang perlu diluruskan adalah sing salah seleh, janganlah dipahami sebagai ajakan untuk pasrah kepada keadaan. Janganlah pasrah kepada nasib. Seleh, berarti menerima kenyataan dengan jujur dan lapang dada, kemudian memperbaikinya. Seleh, bukan berarti menyerah tanpa usaha, ikhtiar dan perjuangan.

Seorang anak yang melakukan kesalahan lalu meminta maaf dengan segera bukan berarti ia kehilangan harga diri. Seorang pejabat yang mau mengakui kegagalan dan kesalahan bukan berarti ia kehilangan kewibawaan dan kehormatan.

Lanjut, seorang pemimpin yang berani mengoreksi keputusan yang telah dibuat dan ditetapkan bukan berarti ia lemah. Tetapi semuanya merupakan bentuk dari rasa tanggung jawab. 

Orang yang tidak mau mengakui kesalahan, sejatinya ia telah menggali liang kuburnya sendiri. Ia semakin terperangkap dalam kesalahannya sendiri. Kesalahan kecil yang tidak pernah diakui dan dibenahi, akan menjadi bom waktu. Ia akan menjadi kesalahan besar.

Kebohongan kecil yang terus hidup dan berkembang pada “lingkungan” yang mendukungnya, akan menjadi sebuah kebohongan sistemik. Oleh karena itu, saya menyatakan dengan tegas, bahwa seleh adalah salah satu mekanisme penyelamatan moral.

Ketika terjadi kegagalan, biasanya yang pertama terucap adalah, “siapa yang bersalah?” Bukan, “apa yang seharusnya diperbaiki?” Padahal, menyalahkan pihak lainnya, adalah sebuah sikap yang tidak bijaksana. Menyalahkan orang lain, tidak otomatis menyelesaikan masalah. Malahan mencari kambing hitam.

Oleh sebab itu, budaya sing salah seleh, mengajak kita mengubah pertanyaan, “siapa yang bertanggung jawab?” Kesalahan perlu kiranya dicari dengan tujuan agar kita tahu dan paham akan akar masalah. Namun perlu juga diperhatikan tanggung jawab, agar masalah tersebut tidak berulang di masa yang akan datang.

Manusia tidak mungkin hidup tanpa kesalahan. Dan yang menjadikan pembeda antara manusia yang dewasa dengan yang tidak dewasa adalah bukanlah ada atau tidak adanya kesalahan, tetapi lebih kepada bagaimana ia menyikapi kesalahan yang terjadi.

Kesalahan dapat menjadi guru apabila kita mau belajar. Kegagalan dapat menjadi pijakan kalau kita mau mengevaluasi. Yang terakhir, kekeliruan dapat menjadi pengalaman jika kita mau mengakuinya.

Orang yang mengakui kesalahannya mungkin akan kehilangan muka untuk sesaat, tetapi ia memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, orang yang sering mempertahankan kesalahan bahkan tidak merasa bersalah mungkin terlihat menjadi pemenang untuk hari ini, tetapi ia sesungguhnya sedang menabung masalah untuk hari esok.

Bangsa ini membutuhkan keberanian untuk kembali kepada nilai sederhana: sing salah seleh. Bukan untuk mempermalukan orang yang salah, tetapi untuk membuka jalan perbaikan. Bukan untuk menghukum tanpa batas, tetapi untuk memastikan adanya tanggung jawab. Bukan untuk mencari siapa yang paling buruk, tetapi untuk menemukan apa yang harus diperbaiki.

Pada akhirnya, sing salah seleh bukanlah sebuah filosofi kekalahan. Ia justru merupakan filosofi kemenangan moral. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah salah. Namun, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengakui kesalahan serta memperbaikinya, dan tidak mengulanginya. Sing salah seleh. Sing bener ngadeg. Sing bener dadi pepadang.

*) Erry Himawan adalah “Pak Guru” di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya 

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

Salah Seleh Kanal Opini Erry Himawan