Sending love secara sederhana berarti “mengirimkan cinta” atau kasih sayang kepada orang lain. Namun, maknanya bisa jauh lebih dalam daripada sekadar sebuah kalimat.
Pernahkah kita mengirim pesan kepada seseorang bukan karena membutuhkan sesuatu, melainkan hanya untuk mengatakan, “Semoga hari ini kamu baik-baik saja”?
Pesan sederhana seperti itu mungkin terlihat kecil. Namun, di tengah kehidupan yang semakin sibuk, penuh tekanan, dan terkadang membuat seseorang merasa sendirian, perhatian kecil dapat memiliki makna yang besar. Inilah salah satu bentuk sederhana dari apa yang kini dikenal sebagai sending love mengirimkan cinta, doa, empati, dan energi positif kepada diri sendiri maupun orang lain.
Sending love bukan sekadar ungkapan yang populer di media sosial. Jika dilakukan secara sadar, kebiasaan ini dapat menjadi cara sederhana untuk merawat hubungan dengan diri sendiri, menjaga hubungan dengan orang lain, sekaligus menghadirkan ketenangan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.
Saat Bahagia, Jangan Hanya Menikmatinya Sendiri
Ketika mendapatkan kabar baik, meraih prestasi, memiliki keluarga yang mendukung, atau berada dalam kondisi kehidupan yang menyenangkan, kita sering kali fokus menikmatinya sendiri.
Padahal, kebahagiaan akan terasa lebih bermakna ketika dibagikan.
Kita bisa mengirimkan doa kepada teman, memberikan apresiasi kepada pasangan, mengucapkan terima kasih kepada orang tua, atau sekadar mengirim pesan kepada seseorang yang sudah lama tidak kita sapa.
“Semoga kamu juga mendapatkan kebahagiaan hari ini.”
Sederhana, tetapi bisa menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti.
Membagikan kebahagiaan juga melatih kita untuk bersyukur. Sebab, manusia sering kali cepat terbiasa dengan apa yang dimilikinya. Sesuatu yang dahulu terasa istimewa perlahan menjadi biasa. Dengan berbagi kasih dan kebaikan, kita belajar kembali menyadari bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang apa yang kita terima, tetapi juga tentang apa yang mampu kita berikan.
Saat Susah, Kirimkan Cinta kepada Diri Sendiri
Namun, sending love justru menjadi semakin penting ketika kehidupan sedang berada di titik terendah.
Ketika gagal, kehilangan, kecewa, menghadapi konflik, atau berada dalam tekanan, seseorang mudah terjebak dalam pikiran negatif.
“Kenapa saya gagal?”
“Kenapa semua ini terjadi kepada saya?”
“Saya memang tidak cukup baik.”
Pikiran-pikiran semacam itu dapat membuat masalah terasa semakin berat.
Di sinilah pentingnya belajar memberikan kasih sayang kepada diri sendiri. Kita dapat mengatakan, “Saya memang sedang mengalami kesulitan, tetapi saya tetap berharga dan layak mendapatkan kasih sayang.”
Kalimat sederhana tersebut bukan berarti kita sedang menyangkal masalah. Justru sebaliknya, kita mengakui bahwa masalah itu ada, tetapi tidak membiarkannya menentukan harga diri kita.
Kita sedang mengalami kegagalan, tetapi kita bukanlah kegagalan itu.
Kita sedang terluka, tetapi kita bukanlah luka itu.
Kita sedang menghadapi masa sulit, tetapi masa sulit bukanlah seluruh kehidupan kita.
Mengirimkan Cinta Bukan Berarti Membenarkan Kesalahan.
Ada satu hal penting yang perlu dipahami. Mengirimkan cinta kepada orang yang pernah menyakiti kita bukan berarti membenarkan kesalahannya.
Kita tetap boleh kecewa. Kita tetap boleh menjaga batas. Kita tetap boleh mencari keadilan.
Namun, kita juga memiliki pilihan untuk tidak membawa kemarahan itu sepanjang hidup.
Mengirimkan doa dan kedamaian kepada seseorang yang pernah menyakiti kita dapat menjadi cara untuk melepaskan beban emosional secara perlahan. Bukan demi mereka semata, tetapi demi ketenangan diri kita sendiri.
Sebab, terkadang yang paling melelahkan bukan peristiwa yang terjadi, melainkan terus-menerus menghidupkan kembali peristiwa tersebut di dalam pikiran.
Mulai dari Tiga Kalimat Sederhana
Tidak perlu menunggu memiliki waktu khusus untuk mempraktikkan sending love. Kita dapat memulainya kapan saja.
Tarik napas perlahan. Beri ruang untuk diri sendiri. Kemudian katakan dalam hati:
Untuk diri sendiri:
“Semoga saya bahagia. Semoga saya damai. Semoga saya kuat menghadapi hari ini.”
Untuk orang yang kita sayangi:
“Semoga kamu sehat. Semoga kamu bahagia. Semoga langkahmu selalu dimudahkan.”
Untuk keadaan yang sulit:
“Saya menerima bahwa tidak semua hal dapat saya kendalikan. Semoga saya diberi kekuatan, ketenangan, dan jalan terbaik.”
Kalimat-kalimat tersebut memang sederhana. Tetapi sering kali, perubahan besar dalam hidup justru dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan kesadaran.
Dengan demikian, sending love bukan tentang menjadi manusia yang selalu bahagia. Bukan pula tentang berpura-pura bahwa semua masalah baik-baik saja.
Ia adalah tentang bagaimana kita memilih untuk tetap menghadirkan kebaikan, bahkan ketika hidup sedang tidak sesuai harapan.
Saat bahagia, bagikan cinta agar kebahagiaan tidak berhenti pada diri sendiri. Saat terluka, berikan cinta kepada diri sendiri agar luka tidak berubah menjadi kebencian.
Karena kita mungkin tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi dalam hidup. Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana hati kita meresponsnya
*) Dr.H.Miftahul Huda, M.H merupakan Dosen Fakultas Syariah UIN Malang
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat ada pada redaksi.(*)
