Dulu, Palembang dikenal sebagai Venesia dari Timur. Sungai Musi membelah kota, anak sungai berkelok jadi urat nadi, dan pasang surut adalah jam dinding bagi warganya.
Masyarakat tidak kaget melihat air naik ke bawah rumah panggung. Justru dari situlah hidup berdenyut. Anak-anak berenang di kala pasang, ibu-ibu mencuci di batanghari, bapak-bapak mencari ikan. Air bukan musuh. Air adalah teman serumah.
Tapi Palembang hari ini seperti orang yang amnesia. Hujan turun dua jam saja, Jalan Angkatan 45 sudah jadi kolam. Simpang Polda, KM 5, KM 6, dan puluhan titik lain berubah jadi danau dadakan. Warga kaget, mengeluh, memaki.
Seolah banjir adalah bencana asing yang baru mampir kemarin sore. Padahal nenek moyang kita sudah hidup berdampingan dengan air selama ratusan tahun.
Pertanyaannya: apa yang berubah? Jawabannya pahit. Yang berubah bukan hujannya. Yang berubah adalah cara kita memperlakukan air.
Kota Air yang Menutup Urat Nadinya Sendiri
Palembang dibangun di atas rawa dan anak sungai. Dulu ada lebih dari 100 anak sungai yang aktif. Sekarang? Banyak yang mati pelan-pelan karena ditimbun jadi ruko, perumahan, dan jalan.
Fungsi alaminya sebagai jalur larian air dihilangkan. Ketika hujan turun, air bingung mau lewat mana. Akhirnya dia naik ke jalan dan masuk ke rumah warga.
Bahkan anak sungai yang dulu tempat masyarakat menggantungkan hidup sehari-hari, kini beralih fungsi menjadi saluran pembuangan limbah rumah tangga dari perumahan mewah.
Rumah panggung yang dulu jadi solusi cerdas untuk hidup di kota air, kini diganti rumah beton tanpa kolong. Halaman tanah diganti paving block dan cor. Air hujan yang seharusnya meresap, langsung lari ke selokan.
Masalahnya, selokan kita lebih kecil dari ego pembangunan. Banyak yang tersumbat sampah, banyak yang ujungnya buntu karena proyek pembangunan menutup salurannya.
Masyarakat yang Lupa Identitasnya
Ini yang paling menyedihkan. Kita, orang Palembang, justru yang paling sering buang sampah ke sungai. Plastik, kasur bekas, helm, kursi, bahkan kulkas bisa ditemui di anak sungai dan di dalam gorong-gorong. Kita marah saat banjir, tapi lupa bahwa tangan kita sendiri yang menyumbat jalan air.
Dan satu hal lagi: sebagai orang tua, kita kurang mengedukasi anak untuk tertib dalam kebersihan. Tak jarang saya melihat anak-anak bermain sambil dengan entengnya membuang bungkus jajan di tempat dia bermain.
Kita menuntut pemerintah menormalisasi sungai, tapi menolak ketika tanah di pinggir sungai mau dibebaskan. Kita ingin bebas banjir, tapi membangun rumah sampai mepet ke selokan tanpa menyisakan ruang resapan. Kita menyalahkan pemerintah sepenuhnya, padahal kesadaran kolektif kitalah yang pertama kali runtuh.
Palembang bukan hanya tanggung jawab Dinas PUPR. Palembang adalah rumah kita bersama. Kalau kita masih merasa jadi “wong Palembang asli”, maka menjaga sungai sama dengan menjaga marwah leluhur. Orang Palembang sejati tidak akan tega membuat sungainya menangis karena sampah.
Pembangunan yang Egois dan Buta Air
Mari jujur. Banyak pengusaha dan pengembang membangun tanpa peduli ke mana air akan lari. Rawa ditimbun jadi klaster mewah. Anak sungai di-cor jadi lahan parkir. Akibatnya, kawasan yang dulu jadi penampungan air alami sekarang justru jadi penyumbang banjir terbesar.
Pemerintah juga tidak bisa lepas tangan. Edukasi ke masyarakat soal bahaya buang sampah sembarangan masih lemah. Penegakan aturan ke pengembang yang menutup saluran air tidak tegas. Normalisasi sungai jalan, tapi tidak diiringi penataan ulang tata ruang yang konsisten.
Solusinya Apa?
Untuk kita, masyarakat Palembang:
- Berhenti buang sampah ke sungai. Sesederhana itu. Mulai dari diri sendiri, dari rumah sendiri. Kalau kita sayang Palembang, jangan kotori urat nadinya.
- Kembalikan semangat rumah panggung. Tidak harus secara fisik, tapi secara filosofi. Bangun rumah dengan kolong resapan, sisakan tanah terbuka di halaman, buat sumur resapan.
- Tegur pengembang yang serakah. Laporkan jika ada yang menimbun anak sungai tanpa izin. Air itu hak semua orang, bukan cuma milik ruko.
Untuk pemerintah:
- Audit total drainase kota. Petakan mana saluran yang mati, mana yang tersumbat, mana yang buntu. Buka kembali anak sungai yang bisa diselamatkan.
- Tegas ke pengembang. Jangan terbitkan IMB kalau tidak ada analisis drainase yang jelas. Hukum berat yang menutup aliran air alami.
- Edukasi yang masif dan tidak membosankan. Kampanye “Palembang Kota Air” harus hidup lagi. Libatkan seniman, influencer, sekolah, masjid. Bikin warga bangga kalau rumahnya tidak nyumbang banjir.
Palembang tidak ditakdirkan untuk tenggelam. Leluhur kita sudah kasih warisan ilmu: hidup selaras dengan air. Rumah panggung, kanal, dan kebiasaan tidak panik saat pasang adalah bukti kita pernah cerdas.
Sekarang tinggal pilih. Mau terus kaget setiap hujan dua jam, atau mau bangkit dan ingat lagi siapa kita? Palembang adalah kota air. Jangan sampai anak cucu kita nanti cuma kenal Musi dari cerita, karena sungainya sudah mati jadi got dan jalan cor.
Banjir bukan cuma urusan pemerintah. Banjir adalah cermin. Cermin dari seberapa egois kita membangun, seberapa malas kita menjaga, dan seberapa jauh kita lupa bahwa kita ini wong sungai.
Sudah saatnya Palembang berdamai lagi dengan air. Bukan melawannya, tapi merangkulnya. Seperti zaman nenek moyang kita.
*) Septi N merupakan ibu rumah tangga di Palembang
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
