KETIK, JAKARTA – Salat tahajud merupakan salah satu ibadah sunah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.
Ibadah yang dilakukan pada sepertiga malam terakhir ini bahkan disebut Rasulullah SAW sebagai salat paling utama setelah salat wajib.
Namun, Imam Al-Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub mengisahkan sebuah cerita penuh hikmah tentang seorang ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim.
Meski dikenal tidak pernah meninggalkan salat tahajud selama bertahun-tahun, namanya justru tidak tercantum dalam daftar hamba yang dicintai Allah SWT.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah kepada Allah SWT tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap sesama manusia.
Dikisahkan, pada suatu malam Abu bin Hasyim bangun seperti biasa untuk melaksanakan salat tahajud. Saat hendak mengambil air wudhu di sumur, ia dikejutkan oleh sosok asing yang berdiri di bibir sumur.
“Wahai hamba Allah, siapakah engkau?” tanya Abu bin Hasyim.
Sosok tersebut tersenyum dan menjawab, “Aku adalah malaikat utusan Allah SWT.”
Mendengar jawaban itu, Abu bin Hasyim merasa terkejut sekaligus bangga. Tidak setiap hari seseorang didatangi oleh malaikat.
Ia pun kembali bertanya, “Apa yang sedang engkau lakukan di sini?”
“Aku diperintahkan untuk mencari hamba-hamba pecinta Allah SWT,” jawab sang malaikat.
Abu bin Hasyim kemudian memperhatikan sebuah kitab tebal yang dibawa sang malaikat. Rasa penasarannya pun muncul.
“Wahai malaikat, buku apakah yang engkau bawa itu?” tanyanya.
“Ini adalah kumpulan nama-nama para hamba pecinta Allah SWT,” jawab sang malaikat.
Mendengar hal tersebut, Abu bin Hasyim yakin namanya termasuk di dalamnya. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok yang tak pernah meninggalkan tahajud, selalu bermunajat dan berdoa di tengah keheningan malam.
“Apakah namaku tercantum di dalam buku itu?” tanya Abu bin Hasyim dengan penuh harap.
Sang malaikat lalu membuka lembar demi lembar buku tersebut. Ia mencari nama Abu bin Hasyim dengan teliti, namun tidak menemukannya.
Abu bin Hasyim meminta malaikat memeriksanya sekali lagi. Namun hasilnya tetap sama.
“Benar, namamu tidak ada di dalam buku ini,” kata sang malaikat.
Mendengar jawaban tersebut, Abu bin Hasyim langsung gemetar dan tersungkur ke tanah. Air matanya mengalir deras.
“Betapa ruginya diriku. Aku selalu berdiri di setiap malam untuk tahajud dan bermunajat, tetapi namaku tidak termasuk dalam golongan hamba pecinta Allah SWT,” ucapnya sambil menangis.
Melihat kesedihan Abu bin Hasyim, sang malaikat kemudian menjelaskan penyebabnya.
“Wahai Abu bin Hasyim, bukan aku tidak mengetahui bahwa engkau bangun setiap malam saat orang lain tertidur, mengambil air wudhu ketika udara dingin, dan menghabiskan malam untuk beribadah. Namun, Allah melarang tanganku untuk menuliskan namamu,” ujar malaikat.
Abu bin Hasyim yang masih diliputi rasa penasaran kemudian bertanya, “Apa yang menjadi penyebabnya?”
Sang malaikat menjawab, “Engkau memang bermunajat kepada Allah SWT, tetapi engkau bangga dan menceritakan ibadahmu kepada banyak orang. Engkau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri. Di sekelilingmu ada orang yang sakit dan kelaparan, namun tidak engkau jenguk dan tidak engkau beri makan.”
“Bagaimana mungkin engkau menjadi hamba yang mencintai Allah dan dicintai-Nya, sementara engkau tidak mencintai makhluk ciptaan-Nya?” lanjut sang malaikat.
Ucapan tersebut membuat Abu bin Hasyim tersadar.
Ia menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu fokus membangun hubungan dengan Allah SWT, tetapi melupakan hubungan dengan sesama manusia.
Pesan Penting dari Kisah Abu bin Hasyim
Kisah yang dituturkan Imam Al-Ghazali dalam Mukasyafatul Qulub ini mengandung pesan mendalam bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan.
Islam juga mengajarkan pentingnya solidaritas sosial, membantu orang yang membutuhkan, serta menjaga hubungan baik dengan sesama makhluk.
Karena itu, umat Islam diingatkan untuk tidak merasa bangga dengan amal ibadah yang dimiliki. Salat, puasa, zikir, dan berbagai amalan lainnya hendaknya dibarengi dengan kerendahan hati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Sebab, mencintai Allah SWT juga berarti mencintai ciptaan-Nya.
Wallahu a'lam bishawab.(*)
.png)