Perjuangan R.A. Kartini dan Proyek Emansipasi yang Belum Selesai
R.A. Kartini mengidentifikasi perempuan sebagai pihak yang dipandang “penuh kasih namun tidak kompeten”—sebuah paternalistik yang tampak baik hati, namun melumpuhkan aspirasi perempuan di ruang publik.
Surat kepada Ny. Abendanon, 10 Agustus 1900
“Seorang gadis Jawa adalah sebutir permata, pendiam, tak bergerak-gerak seperti boneka kayu; bicara hanya bila benar-benar perlu dengan suara berbisik, sampai semut pun tak sanggup mendengarnya; berjalan setindak demi setindak seperti siput; tertawa halus tanpa suara, tanpa membuka bibir, sungguh buruk nian kalau giginya tampak seperti luwak.”
Baca Juga:
19 Siswa SMKN 3 Malang Lolos SNBP 2026, Tembus UB, UM hingga Politeknik NegeriKondisi Gender Indonesia 2026: Kemajuan dan Gagasan
0,692: indeks kesetaraan gender WEF 2025
22,46%: keterwakilan perempuan di legislatif (masih jauh dari paritas)
Total 376.529 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2025 (Catahu KemenPPPA)
The Continuum Model
Dalam continuum model, manusia secara default memproses kesan mengenai “perempuan” menggunakan kategorisasi, bukan individualisasi, ketika tidak memiliki motivasi dan atensi yang cukup untuk memproses informasi. Proses ini berlangsung di bawah ambang kesadaran, atau jauh sebelum penilaian rasional bekerja.
Disebut continium model karena manusia menilai individu lain berdasarkan continium atau rentan dan bukan kategori hitam putih. Adapun prosesnya yakni;
Baca Juga:
Antisipasi Krisis Energi, Universitas Brawijaya Siap Terapkan Skema Perkuliahan HybridInitial Categorization, Masyarakat meemandang perempuan hangat namun tidak kompeten. Kemudian Confirmatory Categorization, dimulai dengan perjuangan R.A Kartini dalam memperjuangkan hak nya sebagai manusia, perempuan kemudian dianggap layak mendapatkan peran dan berdaya sebagai manusia pun berperan di berbagai sektor. Recategorization, Masyarakat sudah harus menyadari bahwa perempuan juga merupakan individu berdaya dan berkompeten. Dan Piecemeal Integration, dimana Peran perempuan diperhitungkan sama hal nya dengan kelompok mayoritas
Stereotype Content Model
Stereotip tidak muncul secara acak, melainkan ditentukan oleh struktur sosial. Struktur sosial yang tidak setara memprediksi stereotip, yang kemudian melahirkan berbagai emosi, dan akhirnya mendorong diskriminasi yang nyata.
Perempuan sendiri digolongkan ke dalam beberapa stereotip:
- Pride (Membanggakan)
Posisi ideal yang selama ini normatif bagi kelompok dominan. Mereka menganggap bahwa perempuan yang membanggakan ialah perempuan yang berada di bawah kendali kelompok dominan.
- Envy (Iri)
Perempuan yang berjalan pada penegakan keadilan dan kesetaraan gender, serta memilih untuk berdaya, dianggap “terlalu ambisius” dan “tidak feminin”.
- Pity (Iba)
Perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, asisten pribadi, sekretaris, serta profesi atau posisi yang dianggap baik, justru sering dikunci dalam posisi subordinat tanpa kebebasan berpendapat dan berdaya.
- Contempt (Menjijikkan)
Perempuan yang “tidak memenuhi standar” kecantikan atau hal-hal ideal dalam kelompok dominan dipinggirkan. Mereka menerima bentuk diskriminasi yang paling aktif dan pengabaian sistemik.
Meneruskan Tongkat Estafet Perjuangan Kartini 2026
Lebih dari 120 tahun pasca ditulisnya surat-surat oleh Kartini dari balik tembok pingitan, Indonesia masih berhadapan dengan mekanisme psikologis yang sama, yakni perempuan dikategorikan dan bukan diindividualisasi.
Perjuangan 2026 bukan lagi soal akses ke sekolah, melainkan soal melampaui stereotip. Belum adanya implementasi kebijakan dalam negeri terhadap hak reproduksi perempuan, perlindungan dari kekerasan, hingga keadilan ekonomi menjadi bukti bahwa proyek emansipasi belum selesai.
Sebagaimana gambaran R.A. Kartini terhadap perempuan di masa modern yang ia tuliskan dalam suratnya:
“Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang ‘gadis modern’ yang berani, yang dapat berdiri sendiri, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang dan gembira, penuh semangat dan keasyikan. Gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kebahagiaan dirinya sendiri, tetapi berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan bersama. Hati saya menyala-nyala karena semangat yang menggelora akan zaman baru.”
Surat kepada Stella Zeehandelaar, 29 Mei 1899
Referensi
Fiske, S.T., Cuddy, A.J.C., Glick, P., & Xu, J. (2002). A model of (often mixed) stereotype content. Journal of Personality & Social Psychology, 82(6), 878–902.
Fiske, S.T. (2012). The continuum model and the stereotype content model. In Handbook of Theories of Social Psychology (pp. 267–288). SAGE.
World Economic Forum. (2025). Global Gender Gap Report 2025. WEF.
BPS. (2024). Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia 2023. Badan Pusat Statistik.
Kartini, R.A. (1911). Door Duisternis tot Licht [Habis Gelap Terbitlah Terang]. J.H. Abendanon
*) Pryska Dhyonetta, S.Psi adalah Mahasiswi Magister Sains Psikologi Universitas Brawijaya 2025
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
*) Ketentuan pengiriman naskah opini:
Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com