Ada kekhawatiran yang patut dibicarakan secara terbuka: Gerakan Pramuka berisiko semakin ditinggalkan generasi muda dalam lima tahun mendatang jika tidak berani melakukan perubahan mendasar.
Kekhawatiran ini bukan berarti Pramuka akan hilang. Apalagi untuk menyalahkan pembina, pelatih, pengurus kwartir maupun generasi terdahulu yang selama ini membangun Gerakan Pramuka.
Justru sebaliknya. Kritik diperlukan karena Pramuka masih memiliki nilai pendidikan yang besar bagi generasi muda. Namun, sesuatu yang pernah relevan tidak otomatis akan selalu relevan.
Generasi muda berubah. Teknologi berkembang. Cara belajar bergeser. Pola komunikasi, cara membangun komunitas, mencari pengalaman hingga mempersiapkan masa depan juga mengalami perubahan.
Jika Pramuka tidak ikut beradaptasi, bukan nilai kepramukaan yang ditolak. Bisa jadi cara menyampaikan nilai tersebut yang sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan anak muda.
Kegiatan yang Monoton Bisa Kehilangan Daya Tarik
Salah satu tantangan yang terlihat adalah pola kegiatan yang berulang. Upacara, latihan rutin, baris-berbaris, tali-temali hingga perkemahan memang memiliki nilai pendidikan.
Namun, ketika semuanya dilakukan dengan pola yang sama dari tahun ke tahun tanpa inovasi, kegiatan tersebut berpotensi berubah menjadi rutinitas.
Di sisi lain, generasi muda memiliki begitu banyak pilihan. Mereka bisa belajar desain, teknologi, coding, kewirausahaan, fotografi, olahraga, musik, membuat konten, bergabung dalam komunitas sosial hingga membangun usaha sejak usia muda.
Karena itu, Pramuka perlu menjawab pertanyaan sederhana: mengapa anak muda harus memilih Pramuka?
Jawaban atas pertanyaan itu semestinya dicari oleh Gerakan Pramuka, bukan justru dibebankan kepada generasi muda.
Jangan Jadikan Anak Muda Sekadar Objek Pembinaan
Persoalan lainnya adalah pola pembinaan yang terlalu berpusat pada orang dewasa.
Dalam banyak situasi, anak muda masih lebih sering ditempatkan sebagai peserta yang menerima arahan. Sementara keputusan mengenai program, kegiatan dan arah organisasi lebih banyak ditentukan oleh orang dewasa.
Padahal, generasi sekarang membutuhkan ruang partisipasi yang lebih luas.
Mereka perlu diberi kesempatan menyampaikan gagasan, berbeda pendapat, mengkritik, merancang kegiatan, mengambil keputusan, memimpin proyek, bahkan mengalami kegagalan dan belajar dari kesalahan.
Tidak masuk akal jika Pramuka mengajarkan kepemimpinan tetapi anak muda tidak mendapatkan ruang untuk benar-benar memimpin.
Begitu pula dengan kemandirian. Nilai tersebut sulit tumbuh apabila setiap gagasan harus menunggu persetujuan orang dewasa.
Aturan Penting, Tetapi Kepercayaan Juga Dibutuhkan
Pembinaan tentu membutuhkan aturan. Namun, aturan semestinya menjadi pagar keselamatan, bukan tembok yang menghambat kreativitas.
Ketika gagasan baru terlalu banyak dicurigai, kreativitas dibatasi prosedur panjang, perbedaan dianggap sebagai pembangkangan dan eksperimen selalu dipandang sebagai risiko, anak muda bisa memilih ruang lain yang memberikan mereka kebebasan lebih besar.
Yang dibutuhkan bukan selalu tambahan instruksi, tetapi juga kepercayaan.
Anak muda perlu diberi kesempatan membuat kegiatan sendiri, mengelola program dan anggaran secara bertanggung jawab, membangun kolaborasi dengan komunitas lain serta menciptakan format kegiatan yang baru.
Dalam konteks ini, pembina tidak harus selalu berada di depan sebagai pengendali. Pembina juga dapat mengambil posisi sebagai mentor, fasilitator dan penjaga arah.
Jangan Terjebak Romantisme Masa Lalu
Pengalaman generasi terdahulu tentu berharga. Tradisi perlu dihormati dan sejarah harus dipahami.
Namun, masa lalu tidak boleh menjadi alasan untuk menolak perubahan.
Anak muda hari ini akan menghadapi dunia yang berbeda. Mereka berhadapan dengan kecerdasan buatan, perubahan iklim, disrupsi pekerjaan, ekonomi digital, perang informasi, persoalan kesehatan mental, ketidakpastian ekonomi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Pertanyaannya, apakah Pramuka sudah cukup membekali mereka menghadapi persoalan tersebut?
Jika belum, inilah pekerjaan rumah yang harus segera dijawab.
Nilai-nilai lama sebenarnya tetap bisa dipertahankan dengan cara yang baru. Kemandirian dapat diwujudkan melalui kemampuan mengelola kehidupan dan karier di tengah ketidakpastian. Gotong royong dapat dikembangkan menjadi kemampuan berkolaborasi lintas komunitas dan dunia digital.
Begitu pula cinta alam yang dapat diterjemahkan dalam aksi menghadapi krisis iklim. Sementara kepemimpinan dapat diarahkan pada kemampuan mengelola proyek, organisasi dan mengambil keputusan dalam situasi kompleks.
Dengan demikian, keterampilan hidup yang diajarkan Pramuka harus terus disesuaikan dengan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan untuk menghadapi masa depan.
Jangan Sampai Pramuka Hanya Sibuk dengan Seremoni
Pramuka juga perlu mengevaluasi budaya kegiatan yang terlalu menonjolkan aspek seremonial.
Seragam, upacara, pelantikan, atribut, perlombaan hingga peluncuran program memang memiliki fungsi sebagai identitas dan tradisi.
Namun, persoalan muncul ketika energi organisasi lebih banyak terserap untuk urusan administratif dan seremoni, sementara substansi pendidikan justru kurang mendapatkan perhatian.
Pramuka tidak boleh sekadar terlihat sibuk. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap kegiatan memberikan pengalaman yang bermakna.
Sebab banyak kegiatan tidak selalu berarti banyak pembelajaran. Banyak acara tidak otomatis menghasilkan banyak perubahan. Begitu pula banyak peserta belum tentu membuat semuanya merasa memiliki.
Ukuran keberhasilan Pramuka semestinya dilihat dari perubahan yang terjadi pada anak muda: apakah mereka menjadi lebih mandiri, kreatif, tangguh, peduli, mampu memimpin dan siap menghadapi masa depan.
Senioritas Jangan Mengalahkan Kompetensi
Budaya senioritas juga perlu mendapatkan perhatian.
Pengalaman memang penting, tetapi pengalaman tidak semestinya menjadi tiket otomatis untuk menentukan arah organisasi.
Generasi muda harus dinilai dari gagasan, kompetensi, integritas dan kontribusinya, bukan semata-mata dari usia.
Jangan sampai anak muda terus mendapatkan pesan bahwa mereka belum cukup dewasa untuk menentukan sesuatu karena masih berstatus peserta didik.
Jika selalu menunggu sampai dianggap cukup dewasa, kapan mereka akan benar-benar belajar menjadi pemimpin?
Di organisasi lain, anak muda diberi ruang untuk merumuskan, mengambil keputusan, menjalankan dan mengevaluasi program. Dari proses itulah pengalaman kepemimpinan terbentuk.
Karena itu, menjadi ironis ketika Pramuka kerap disebut sebagai tempat mencetak pemimpin bangsa, tetapi ruang kepemimpinan bagi generasi mudanya sendiri masih terbatas.
Bagaimana mungkin anak muda dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan jika pengalaman memimpin mereka hanya dibatasi pada lingkup yang sangat kecil?
Khususnya bagi golongan Penegak dan Pandega usia 16-25 tahun, ruang untuk mengambil keputusan perlu diperbesar. Jika setiap keputusan penting tetap harus menunggu orang dewasa, maka fungsi Pramuka sebagai laboratorium kepemimpinan akan kehilangan maknanya.
Padahal, pengalaman lahir dari keputusan. Tidak semua keputusan akan benar. Kesalahan pun merupakan bagian dari proses belajar, selama ada evaluasi dan perbaikan.
Pramuka Harus Menjawab Persoalan Nyata Anak Muda
Pramuka perlu lebih sering bertanya tentang persoalan yang benar-benar dihadapi generasi muda.
Bagaimana mereka menghadapi perubahan dunia kerja? Bagaimana membangun kemampuan finansial? Bagaimana menyaring banjir informasi dan disinformasi? Bagaimana menggunakan kecerdasan buatan secara bijak? Bagaimana menciptakan peluang usaha? Bagaimana membangun jejaring? Bagaimana menjaga lingkungan dan menghadapi tekanan sosial?
Jika Pramuka tidak hadir dalam persoalan-persoalan tersebut, jangan heran jika anak muda mencari jawaban di tempat lain.
Pramuka harus mampu hadir dalam kehidupan nyata mereka, bukan hanya dalam kegiatan rutin organisasi.
Jadikan Pramuka sebagai Laboratorium
Masa depan tidak bisa dibangun hanya dengan menjalankan program yang hasilnya sudah dapat diprediksi.
Pramuka perlu berani menjadi laboratorium sosial bagi generasi muda.
Berikan mereka ruang untuk membuat proyek lingkungan, mengembangkan aplikasi, membangun media digital, merintis usaha, membangun jejaring, membuat kegiatan lintas komunitas hingga menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.
Biarkan mereka mencoba.
Ketika gagal, lakukan evaluasi. Ketika berhasil, kembangkan.
Di situlah pendidikan sesungguhnya berlangsung. Anak muda tidak cukup hanya mendengarkan nasihat. Mereka perlu mengalami, mencoba, memimpin, gagal, memperbaiki dan akhirnya menemukan keberhasilan.
Pertanyaan Besarnya Bukan Sekadar Bagaimana Mempertahankan Anggota
Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya, "Bagaimana agar anak muda tetap masuk Pramuka?"
Pertanyaan yang harus dijawab adalah, "Mengapa anak muda harus memilih Pramuka?"
Jika jawabannya hanya karena kewajiban sekolah, tradisi, seragam atau karena kegiatan tersebut sudah dilakukan sejak dahulu, maka Pramuka perlu mulai waspada.
Anak muda akan bertahan ketika mereka merasa Pramuka memberikan sesuatu yang berarti bagi kehidupan mereka.
Pramuka harus menjadi tempat untuk belajar, bertumbuh, membangun pertemanan, berkreasi, memimpin, berkontribusi dan mempersiapkan masa depan.
Lima Tahun Bukan Waktu yang Panjang
Lima tahun mendatang bukanlah waktu yang lama.
Generasi yang saat ini masih duduk di bangku sekolah akan segera menjadi bagian penting dari kampus, dunia kerja, komunitas, masyarakat dan kepemimpinan bangsa.
Pertanyaannya, apakah mereka masih akan melihat Pramuka sebagai ruang yang menarik untuk berkembang?
Jawabannya sangat ditentukan oleh keputusan yang dibuat hari ini.
Jika kegiatan terus monoton, anak muda hanya menjadi objek pembinaan, ruang gerak dibatasi, keputusan terlalu didominasi orang dewasa, senioritas dibiarkan, inovasi dicurigai dan kegiatan lebih banyak berisi seremoni daripada pengalaman bermakna, maka risiko Pramuka ditinggalkan generasi muda akan semakin besar.
Namun, jika Pramuka berani berbenah, masa depannya justru dapat menjadi lebih kuat.
Pramuka tidak perlu mengikuti seluruh tren anak muda. Pramuka juga tidak perlu kehilangan jati diri hanya demi terlihat modern.
Yang dibutuhkan adalah keberanian membedakan antara nilai yang harus dipertahankan dan cara yang harus diperbarui.
Nilai boleh tetap kokoh. Cara harus terus berkembang.
Tradisi boleh dijaga. Inovasi harus diberi ruang.
Orang dewasa tetap dibutuhkan. Tetapi anak muda harus dipercaya.
Sebab masa depan Pramuka pada akhirnya bukan ditentukan oleh seberapa kuat generasi sekarang mempertahankannya, melainkan seberapa jauh generasi muda merasa bahwa Pramuka adalah ruang milik mereka dan relevan dengan masa depan yang akan mereka hadapi.
Jika hari ini ruang itu tidak diberikan, jangan salahkan mereka ketika lima tahun mendatang memilih ruang yang lain.
Bukan generasi muda yang harus dipaksa mencintai Pramuka. Pramukalah yang harus terus berusaha menjadi organisasi yang layak dicintai, dipercaya, dan dibutuhkan generasi muda.
*) Muhammad Romli merupakan Sekretaris Kwarcab Sumenep sekaligus Purna Ketua DKC Pramuka Sumenep
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
