Juara dan penghargaan sering kali membuat orang terlena dan berpuas diri. Tetapi, itu tidak berlaku untuk Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya.
Meski telah memperoleh sederet penghargaan bergengsi di bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan, Herdiat justru bekerja lebih keras lagi.
Seperti diketahui, pada September 2025, Kabupaten Ciamis memperoleh pengakuan internasional dalam The 6th ASEAN Environmentally Sustainable Cities Award. Ciamis mendapat penghargaan kategori Clean Land for Small Cities atau kota kecil dengan lahan terbersih.
Penghargaan tersebut bukanlah hadiah yang datang secara tiba-tiba. Di belakangnya terdapat proses panjang, kepemimpinan yang konsisten, kerja aparatur pemerintah, dan—yang paling penting—partisipasi masyarakat Ciamis.
Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, jumlah sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir di Ciamis berhasil ditekan secara drastis, dari sekitar 45 truk setiap hari pada 2019 menjadi hanya sembilan truk per hari pada 2024. Ciamis juga mengembangkan ratusan TPS3R dan bank sampah berbasis masyarakat.
Inilah salah satu sikap yang patut diapresiasi dari Herdiat. Yaitu, keberaniannya untuk tidak menjadikan penghargaan sebagai alasan untuk beristirahat. Ia menyadari bahwa piala dapat dipajang, tetapi kebersihan harus terus diperjuangkan setiap hari.
Karena itu, pada Jumat, 18 September 2026, Herdiat memimpin langsung apel bersama dan Gerakan Jumat Bersih atau Jumsih. Gerakan tersebut melibatkan ASN, TNI, Polri, akademisi, BUMN, BUMD, lembaga vertikal, serta berbagai unsur masyarakat.
Mereka kemudian diterjunkan ke delapan titik strategis, antara lain kawasan Stadion Galuh, Gelanggang Galuh Taruna, Terminal Ciamis, Pasar Subuh, Pasar Manis, Jalan Letnan Samuji, serta kawasan Sungai Cimemen dan Jalan Rumah Sakit.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa bagi Herdiat, kebersihan bukan hanya urusan petugas kebersihan atau dinas lingkungan hidup. Kebersihan adalah tanggung jawab bersama.
Para pejabat dan aparatur negara harus menjadi teladan dengan turun langsung ke lapangan, bukan hanya memberikan perintah dari balik meja.
Di sinilah Gerakan Jumsih memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar kerja bakti. Jumsih adalah pendidikan sosial, gerakan keteladanan, sekaligus ajakan untuk mengembalikan semangat gotong royong.
Gerakan seperti ini penting karena persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan hanya dengan menambah armada pengangkut atau memperluas tempat pembuangan akhir.
Selama masyarakat masih membuang sampah sembarangan dan tidak memilah sampah dari rumah, sebanyak apa pun kendaraan dan petugas yang disediakan tidak akan pernah mencukupi.
Herdiat juga menunjukkan cara berpikir yang antisipatif. Ia tidak menunggu Ciamis mengalami darurat sampah terlebih dahulu untuk kemudian bertindak. Ia justru memasang alarm sejak dini.
Menurut Herdiat, sejumlah kabupaten, kota, dan provinsi telah menghadapi darurat sampah. Jika tidak bergerak sekarang, bukan tidak mungkin dua atau tiga tahun mendatang Ciamis mengalami persoalan serupa.
Karena itu, gerakan kebersihan harus dilakukan secara berkelanjutan, dimulai dari rumah, lingkungan kerja, hingga ruang-ruang publik. Cara berpikir seperti inilah yang dibutuhkan dalam kepemimpinan daerah: mencegah sebelum krisis terjadi.
Selama ini, tidak sedikit pemerintah daerah baru bergerak setelah tempat pembuangan akhir penuh, sampah menumpuk di jalan, sungai tersumbat, masyarakat melakukan protes, atau bencana banjir datang.
Herdiat memilih pendekatan berbeda. Prestasi kebersihan tidak membuatnya merasa Ciamis telah aman selamanya. Ia memahami bahwa pertumbuhan penduduk, pola konsumsi, penggunaan plastik sekali pakai, perkembangan kawasan ekonomi, dan perubahan gaya hidup akan terus meningkatkan volume sampah.
Karena itu, Jumsih dapat dibaca sebagai bentuk kewaspadaan ekologis. Gerakan ini bukan karena Ciamis telah gagal mengelola kebersihan, melainkan karena pemerintah daerah ingin mempertahankan keberhasilan sekaligus mencegah ancaman yang mungkin datang.
Gerakan Jumat Bersih tersebut juga sejalan dengan semangat Gerakan Indonesia ASRI—Aman, Sehat, Resik, dan Indah—sebagaimana diarahkan Presiden Prabowo Subianto. Di Ciamis, gagasan besar itu diterjemahkan Herdiat ke dalam tindakan nyata.
ASRI tidak cukup menjadi slogan yang dipasang di spanduk atau disampaikan dalam pidato. Aman berarti lingkungan terbebas dari ancaman banjir, pencemaran, penyakit, dan bencana ekologis.
Sehat berarti masyarakat hidup dalam lingkungan dengan air, udara, tanah, serta sanitasi yang terjaga. Resik berarti kebersihan menjadi kebiasaan sehari-hari. Sementara indah berarti ruang publik ditata dengan nyaman, hijau, dan manusiawi.
Dengan pengertian tersebut, kebersihan sebenarnya bukan persoalan kecil. Kebersihan berhubungan langsung dengan kesehatan, kualitas hidup, produktivitas masyarakat, daya tarik investasi, dan perkembangan pariwisata.
Daerah yang bersih mencerminkan pemerintahan yang tertib dan masyarakat yang berdisiplin. Sebaliknya, sampah yang dibiarkan menumpuk sering menjadi tanda lemahnya tata kelola dan rendahnya kesadaran bersama.
Karena itu, pernyataan Herdiat bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan alam harus menjadi kebutuhan harga mati yang tidak dapat ditawar layak mendapatkan dukungan.
Alam bukan sekadar latar tempat manusia menjalani kehidupan. Alam adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Merusak alam pada akhirnya sama dengan merusak masa depan manusia.
Karena itu, apa yang dilakukan Herdiat layak diapresiasi sebagai contoh kepemimpinan ekologis di tingkat daerah.
Melalui Gerakan Jumat Bersih yang dipimpinnya, ia mengirimkan pesan sederhana tetapi sangat penting. Yaitu, jangan menunggu lingkungan rusak untuk mulai peduli, jangan menunggu sampah menjadi darurat untuk mulai bergerak, dan jangan menunggu bencana datang untuk mulai mencintai alam.(*)
*) Toto Izul Fatah, adalah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.
