Kecerdasan Buatan, Lagom dan Pemilu

Editor: Mustopa

1 Des 2023 07:12

Thumbnail Kecerdasan Buatan, Lagom dan Pemilu
Oleh: Tomy Michael*

Sebetulnya Pemilihan Umum 2024 (Pemilu 2024) menjadi peristiwa yang harus dikawal dengan baik. Artinya semua pemilu harus memiliki perhatian khusus dari pemerintah dan siapapun dalam pelaksanaannya. Para pasangan calon presiden (capres) dan pasangannya tidak bersaing dengan manusia yang memiliki roh dan jiwa namun bagaimana ia menunjukkan dirinya mampu menjawab kecerdasan buatan. Apabila mereka menolak maka bukanlah pilihan bijaksana karena dunia semakin menuju ke arah sana dan jika mereka menerima maka harus ada penyertaan yang bijaksana. Ketika para capres memiliki visi misi yang terkesan untuk menghidupi manusia pad aumumnya maka akan timbul penolakan halus pada kecerdasan buatan. Misalnya saja bagaimana memenuhi pasal-pasal hak asasi manusia dalam Pasal 28A hingga Pasal 28J UUD NRI Tahun 1945 dengan kecerdasan buatan. 

Sebagai contoh Pasal 28B ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 termaktub bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Cara ortodoks yaitu dengan membuka saluran penerimaan informasi dan penegakan hukum yang menolak keadilan restoratif. Tetapi apabila dikolaborasikan dengan kecerdasan buatan maka bisa dilakukan dengan membuka layanan 24 jam melalui robot yang terkoneksi dengan algoritma penyelesaian permasalahan anak. Bisa saja dibedakan sesuai sifat umum atau khususnya kasus. Penyebaran video kampanye yang masif akan kekerasan dan diskriminasi harus menjadi bagian penting. Sebaran-sebaran telnologi demikian menjadikan siapapun harus berbenah tetapi tidak meninggalkan peran manusia itu sendiri. Tentu ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan kecerdasan buatan tetapi harus ada batasan juga sejauh mana ia bisa menyelesaikan masalah terkait pasal ini.

Kecerdasan buatan sebaiknya menjadi saran untuk memberikan edukasi yang bebas hoaks karena negara harus memberi informasi yang terpercaya. Kaitan lainnya terhadap Pemilu 2024, kecerdasan buatan dapat menarik generasi penerus paham akan siapa yang dipilihnya. Kadang kala kampanye hanya berusaha menarik suara generasi yang mereka memiliki hak untuk memilih sedangkan mereka yang masih duduk di sekolah dasar atau sekolah menengah pertama bukanlah tujuan utama. Dalam hal ini haruslah dipahami bahwa proses kepedulian para capres terhadap anak-anak sekolah bukanlah membebani mereka akan dunia politik namun bagaimana mereka agar memiliki kepedulian akan negaranya. Tidak ada salahnya memberikan visi dan misi yang konkret akan program yang diajukan untuk anak-anak sekolah. Dengan demikian akan menjadikan program yang bisa mengenai seluruh pihak. 

Tampaknya simulasi untuk melakukan pemilihan umum bisa dijadikan program Komisi Pemilihan Umum untuk anak-anak sekolah. Anak-anak diajarkan teknik memilih dengan melakukan penelusuran terlebih dahulu, setelah mereka mengetahui maka keinginan mereka yang tidak terpenuhi akan bisa dipenuhi secara bertahap atau langsung hingga respons dalam melakukan kerjasama jika mengalami kekalahan. Semua ini bisa dikemas melalui kecerdasan buatan dan secara tidak langsung pendidikan terkait pemilu menjadi kemajuan suatu bangsa.

Baca Juga:
Mitos Bisnis yang Menyesatkan

Ketika kecerdasan buatan sudah teratas maka lagom pun tercipta. Lagom dalam bahasa Swedia diartikan sebagai “in moderation”, “just right” atau “not too much and not too little”. Ketika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “secukupnya”, “tepat” atau “tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit”, sebagaimana orang Swedia biasa menjawab pertanyaan ini dengan aksen Swedia mereka yang manis. Orang Swedia percaya bahwa memiliki kata yang menggambarkan “secukupnya” adalah hal yang unik dan tidak dimiliki oleh bahasa lain di dunia. Sebetulnya banyak filosofi adat di Indonesia yang memiliki kesamaan dengan lagom dan itu bisa menjadi pegangan dalam mengatasi kecerdasan buatan jikalau rasa khawatir masih mengikuti.lagom tercapai maka seluruhnya mendapatkan haknya masing-masing. Kembali lagi pada esensi pemilu yang diadakan di Indonesia bulan Februari mendatang. Pemilu 2024 tidak sekadar memilih namun ada kontrak sosial yang harus diterima oleh para calon dari masyarakat untuk dipenuhi. Pemikiran-pemikiran futuristis harus menjadi tujuan utama tanpa meninggalkan agama dan moral bangsa. 

Kita tidak lagi berbicara akan penyelesain masalah secara personal namun harus mendunia. Peran serta negara sebagai subjek hukum harus terlihat jelas. Masyarakat global adalah masyarakat Indonesia dan sebaliknya. 

 

*) Oleh: Tomy Michael adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Baca Juga:
Film Layak Dicintai, Bukan Ditakuti oleh Mereka yang Terpaksa

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id. Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi

Baca Sebelumnya

DPRD Surabaya Prioritaskan Kesejahteraan Pendidikan dan Guru

Baca Selanjutnya

Khofifah Berharap Bandara Internasional Dhoho Dapat Tunjang Perekonomian hingga Budaya di Kediri Raya

Tags:

opini Lagom Pemilu Tomy Michael Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Untag Surabaya

Berita lainnya oleh Mustopa

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H