Apakah Kita Benar-Benar Masyarakat yang Inklusif? Menjadi Manusia Tanpa Syarat

20 Agustus 2026 14:52 20 Agt 2026 14:52

Yuni Lasari, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Apakah Kita Benar-Benar Masyarakat yang Inklusif? Menjadi Manusia Tanpa Syarat

Oleh: Yuni Lasari*

Ada sebuah ironi dalam cara kita merayakan keberagaman. Kita mudah mengagumi perbedaan ketika ia hadir sebagai budaya, tradisi, bahasa, makanan, atau pakaian. Perbedaan terasa indah ketika menjadi festival.

Namun, ketika perbedaan hadir sebagai manusia yang hidup sangat dekat dengan kita dengan tubuh, identitas, gender, seksualitas, keyakinan, kondisi fisik, atau pilihan hidup yang berbeda, respons kita kadang berubah.

Kita mulai bertanya. Memberi nasihat. Membandingkan. Bahkan, tanpa sadar, meminta mereka menyesuaikan diri. Barangkali kita tidak bermaksud menyakiti. Kita mungkin hanya ingin tahu atau merasa sedang menunjukkan kepedulian.

Namun, dari percakapan-percakapan kecil semacam itu, kita dapat melihat persoalan yang lebih besar: ada orang-orang yang bukan hanya hidup dengan perbedaan, tetapi juga harus terus bernegosiasi dengan lingkungannya agar perbedaan itu dapat diterima.

Mereka belajar kapan harus bicara dan kapan harus diam. Bagian mana dari dirinya yang aman untuk diceritakan. Bagaimana berpakaian, berbicara, bekerja, atau menjalani kehidupan tanpa terlalu menarik perhatian. Mereka berada di ruang yang sama dengan kita, tetapi belum tentu merasa memiliki ruang yang sama.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah hidup berdampingan selalu berarti hidup secara inklusif

Mempertanyakan Keberagaman

Indonesia tidak kekurangan keberagaman. Kita hidup bersama berbagai agama, etnis, budaya, kelas sosial, kondisi tubuh, gender, seksualitas, dan pengalaman hidup. Bhinneka Tunggal Ika bahkan telah lama menjadi pengingat bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan bersama.

Namun, mungkin selama ini kita terlalu cepat menyamakan beragam dengan inklusif. Masyarakat yang beragam adalah masyarakat yang memiliki banyak perbedaan.

Masyarakat yang inklusif melangkah lebih jauh, ia memastikan bahwa perbedaan tersebut memiliki tempat yang layak dalam kehidupan bersama.

Artinya, inklusivitas bukan sekadar persoalan siapa yang boleh masuk ke dalam sebuah ruang. Ia menyangkut apakah orang yang sudah berada di dalamnya dapat merasa aman, dihormati, didengar, memiliki akses, dan berpartisipasi tanpa harus menghilangkan bagian dari dirinya agar sesuai dengan ukuran mayoritas.

Kita tidak kekurangan keberagaman. Yang mungkin masih kurang adalah ruang yang cukup aman bagi keberagaman itu untuk hidup.

Ketika Tidak Inklusif, Siapa yang Dirugikan?

Kita mungkin mengira persoalan inklusivitas hanya menyangkut mereka yang berada di pinggir. Seolah-olah ketika kelompok minoritas tidak memperoleh ruang yang layak, hanya merekalah yang mengalami kerugian.

Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Ketika seseorang takut menunjukkan identitasnya, masyarakat kehilangan satu suara. Ketika penyandang disabilitas tidak dapat mengakses fasilitas publik, masyarakat kehilangan partisipasi.

Ketika perempuan membatasi mobilitasnya karena merasa tidak aman, masyarakat kehilangan kebebasan dan produktivitasnya. Ketika kelompok minoritas agama atau etnis memilih diam karena khawatir mengalami stigma, ruang publik kehilangan keragaman perspektif.

Begitu pula ketika seseorang menyembunyikan orientasi seksual atau identitas gender karena takut kehilangan pekerjaan, keluarga, atau keamanan, yang hilang bukan hanya kebebasan individu, tetapi juga kesempatan masyarakat untuk mengenal kehidupan yang lebih beragam.

Eksklusi membuat sebagian manusia mengecil agar sebagian yang lain tetap nyaman. Dan ketika itu berlangsung terus-menerus, ketidakinklusifan bukan lagi persoalan antarindividu. Ia menjadi persoalan sosial. Kita mulai terbiasa dengan ketimpangan.

Kita menganggap wajar ketika kelompok tertentu harus bekerja lebih keras untuk memperoleh hak yang sama. Kita menganggap biasa ketika seseorang harus menjelaskan dirinya berulang kali. Pada titik tertentu, kita bahkan tidak lagi melihatnya sebagai masalah karena ketidakadilan tersebut telah menjadi bagian dari keseharian.

Di sinilah masyarakat yang tidak inklusif perlahan kehilangan sesuatu yang penting: kemampuan untuk melihat manusia di balik labelnya.

Tidak Harus Sepakat untuk Hidup Bersama

Pengalaman kelompok LGBTIQ+ memperlihatkan bagaimana persoalan tersebut dapat mencapai bentuk yang paling ekstrem. Pada 16 Juli 2026, sejumlah transpuan di Bogor mengalami persekusi yang disertai intimidasi, ancaman, penganiayaan, dan pengusiran.

Komnas Perempuan menilai peristiwa tersebut sebagai bagian dari pola kekerasan berbasis prasangka terhadap kelompok tertentu dan menegaskan bahwa perbedaan identitas, pandangan, maupun cara berekspresi tidak dapat menjadi alasan untuk melakukan kekerasan.

Peristiwa tersebut seharusnya tidak hanya membuat kita bertanya siapa yang salah. Ia juga mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam: bagaimana sebuah perbedaan dapat berubah menjadi alasan untuk menghilangkan rasa aman seseorang?

Namun, eksklusi tidak selalu hadir dalam bentuk persekusi. Ia dapat hadir jauh lebih sederhana. Seorang perempuan memilih rute perjalanan yang lebih jauh karena merasa lebih aman. Penyandang disabilitas tidak dapat memasuki sebuah gedung karena tidak tersedia akses yang layak.

Seorang anggota kelompok minoritas agama harus berpikir berkali-kali sebelum menjalankan keyakinannya secara terbuka. Seseorang menyembunyikan pasangan atau identitasnya di tempat kerja karena takut menjadi bahan pembicaraan.

Tidak semuanya masuk berita. Tidak semuanya berakhir dengan kekerasan. Tetapi semuanya menunjukkan satu hal: ruang yang secara formal terbuka belum tentu terasa aman bagi semua orang.

Mengapa Ruang Inklusif Terasa Begitu Jauh?

Feminisme mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada persoalan individu, tetapi melihat struktur yang membuat pengalaman tertentu dianggap normal sementara pengalaman lainnya dianggap berbeda.

Banyak ruang sosial dibangun dari pengalaman kelompok yang dominan. Akibatnya, apa yang dialami kelompok tersebut dianggap sebagai pengalaman “umum”, sementara kebutuhan kelompok lain diposisikan sebagai tambahan. Karena itu, sesuatu yang tampak netral belum tentu netral.

Kita dapat melihatnya dalam keluarga, kampus, tempat kerja, transportasi publik, media, bahkan kebijakan negara. Ruang yang disebut “untuk semua” dapat tetap eksklusif jika standar “semua” itu diam-diam dibangun berdasarkan pengalaman orang-orang tertentu.

Relasi ketidakadilan perlu dibaca melalui persilangan berbagai posisi sosial dan relasi kuasa. Gender tidak berdiri sendiri; ia berkelindan dengan kelas, agama, etnisitas, disabilitas, usia, dan kategori sosial lainnya.

Karena itu, tidak cukup mengatakan, “Semua orang diperlakukan sama.” Keadilan kadang justru menuntut kita memperlakukan kebutuhan yang berbeda secara berbeda agar setiap orang memperoleh kesempatan yang setara.

Inklusif Bukan Berarti Membiarkan

Ada perbedaan antara membiarkan seseorang berada di sebuah ruang dan benar-benar memberinya kesempatan menjadi bagian dari kehidupan bersama.

Seseorang mungkin diperbolehkan hadir dalam rapat, tetapi pendapatnya tidak sungguh dipertimbangkan. Ia boleh bekerja, tetapi merasa harus menyembunyikan bagian tertentu dari identitasnya. Ia boleh menggunakan fasilitas publik, tetapi fasilitas tersebut tidak dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhannya. Secara formal, pintunya terbuka. Namun, keterbukaan belum tentu menghadirkan kesetaraan.

Inklusivitas tidak berhenti pada kesediaan untuk membiarkan. Ia menuntut kesediaan untuk berbagi ruang, akses, suara, dan kesempatan secara adil. Itulah sebabnya ruang inklusif perlu dibangun sejak awal dengan mempertimbangkan keberagaman penggunanya. Bukan hanya membuka pintu, tetapi memastikan orang dapat masuk, merasa aman, didengar, dan ikut menentukan apa yang terjadi di dalamnya.

Bahasa: Ruang Pertama yang Harus Kita Benahi

Sebagai dosen Ilmu Komunikasi, saya melihat bahwa ruang inklusif juga dimulai dari bahasa.

Seseorang tidak selalu dikeluarkan dari ruang sosial melalui larangan. Ia dapat terlebih dahulu ditempatkan di luar batas “kita” melalui kata-kata: disebut menyimpang, tidak normal, tidak sesuai, bermasalah, atau ancaman.

Sara Mills dalam Language and Sexism menunjukkan bahwa diskriminasi tidak selalu hadir secara terang-terangan. Ia dapat bekerja secara tidak langsung melalui stereotip, asumsi, humor, konteks, dan cara seseorang ditempatkan dalam wacana.

Karena itu, persoalannya bukan hanya apakah kita menggunakan kata kasar. Kadang eksklusi hadir dalam candaan. Kadang dalam stereotip. Kadang dalam pertanyaan yang terus meminta seseorang menjelaskan dirinya.

Media mempunyai tanggung jawab besar dalam proses ini. Kelompok minoritas tidak seharusnya hanya muncul ketika menjadi kontroversi, korban, atau masalah. Mereka juga harus hadir sebagai manusia yang utuh—yang bekerja, belajar, berkarya, mencintai, berpikir, dan menjalani kehidupan. Komunikasi inklusif berarti tidak hanya berbicara tentang mereka, tetapi memberi mereka kesempatan untuk berbicara tentang dirinya sendiri.

Mencoba Membangun Ruang yang Lebih Inklusif

Lalu, bagaimana ruang semacam itu dapat dibangun? Mungkin tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua tempat. Kebutuhan sebuah kampus tentu berbeda dengan transportasi publik, tempat kerja, keluarga, atau ruang digital. Namun, ada beberapa hal yang dapat menjadi titik awal.

Pertama, Mendengarkan pengalaman mereka yang selama ini berada di pinggir menjadi salah satunya. Kebijakan tentang kelompok tertentu akan sulit benar-benar menjawab kebutuhan mereka jika pengalaman kelompok tersebut tidak pernah dilibatkan dalam prosesnya.

Hal yang sama berlaku pada desain ruang. Aksesibilitas, keamanan, fasilitas, hingga mekanisme pengaduan sering kali baru diperhatikan setelah persoalan muncul. Padahal, mempertimbangkan keberagaman sejak awal mungkin akan membuat ruang tersebut lebih mudah digunakan oleh lebih banyak orang.

Ruang aman juga membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan bahwa diskriminasi tidak diperbolehkan. Ia membutuhkan mekanisme yang membuat seseorang cukup percaya untuk menyampaikan persoalan ketika sesuatu terjadi, sekaligus merasa bahwa keluhannya akan ditanggapi.

Dalam media dan komunikasi, barangkali langkahnya dapat dimulai dari kesediaan melihat kelompok minoritas bukan hanya ketika mereka menjadi berita. Mereka juga memiliki kehidupan sehari-hari, pekerjaan, gagasan, kreativitas, relasi, dan cerita yang tidak selalu berkaitan dengan identitas minoritasnya. Beri mereka posisi sebagai subjek dan bila menyangkut kehidupannya, sebagai bagian dari pengambil keputusan.

Ruang inklusif tidak mungkin dibangun oleh satu pihak saja. Ia membutuhkan keluarga yang mau mendengarkan, institusi yang bersedia mengevaluasi kebijakannya, media yang lebih berhati-hati dalam merepresentasikan kelompok rentan, serta individu yang bersedia memeriksa kembali prasangka dan kebiasaan yang selama ini dianggap biasa.

Kita mungkin tidak selalu langsung tahu harus mulai dari mana. Tetapi mungkin, salah satu langkah awalnya adalah bersedia mendengarkan pengalaman yang berbeda dari pengalaman kita sendiri.

Pada Akhirnya, Inklusif Itu Apa?

Mungkin setelah semua pembicaraan tentang gender, minoritas, akses, media, kebijakan, dan ruang aman, kita perlu kembali kepada pertanyaan yang paling sederhana. Apa sebenarnya arti inklusif?

Mungkin jawabannya bukan masyarakat yang sudah selesai dengan segala perbedaannya. Bukan pula masyarakat yang selalu sepakat.

Masyarakat inklusif barangkali adalah masyarakat yang bersedia terus belajar mengenali pengalaman yang berbeda dari pengalaman kita sendiri, lalu bersama-sama memperbaiki ruang kehidupan agar setiap orang dapat hadir dengan aman dan bermartabat.

Sebab tidak semua dari kita mengalami ruang dengan cara yang sama. Ada yang sejak awal merasa nyaman berada di dalamnya, ada yang membutuhkan akses berbeda, ada yang pernah merasa tidak didengar, dan ada pula yang mungkin baru menyadari bahwa selama ini kenyamanan yang dirasakannya tidak dimiliki oleh semua orang.

Karena itu, inklusivitas bukan pekerjaan untuk “menerima mereka yang berbeda”. Ia adalah pekerjaan bersama untuk melihat kembali bagaimana kita menciptakan kehidupan yang memungkinkan setiap orang hadir tanpa harus mengurangi dirinya sendiri.

Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya tentang mengakui bahwa kita berbeda. Ia juga tentang belajar hidup bersama ketika perbedaan itu hadir dalam keluarga, kampus, tempat kerja, lingkungan sosial, ruang publik, maupun ruang digital.

Mungkin dari sanalah inklusivitas dapat tumbuh: bukan dari tuntutan agar kita semua menjadi sama, tetapi dari kesediaan untuk memberi ruang, mendengarkan pengalaman yang berbeda, dan memperlakukan setiap orang dengan martabat yang sama.

Kita tidak harus memahami seluruh pengalaman satu sama lain untuk mulai menghormatinya. Kita tidak harus menjadi sama untuk dapat hidup bersama.

Dan mungkin, menjadi manusia tanpa syarat dimulai dari kesediaan sederhana untuk memastikan bahwa tidak seorang pun perlu mengecilkan dirinya hanya agar merasa memiliki tempat dalam kehidupan bersama. (*)

*) Yuni Lasari S.I.Kom., M. I.Kom merupakan dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Tribhuwana Tunggadewi; pemerhati isu gender dan feminisme.

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

Yuni Lasari Dosen Ilmu Komunikasi Unitri