Di Hari Sumpah Pemuda, Atlet Difabel Kota Malang Bersiap Berlaga di Kejurda Paralimpik Jatim

28 Oktober 2026 11:23 28 Okt 2026 11:23

Lutfia Indah, Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Di Hari Sumpah Pemuda, Atlet Difabel Kota Malang Bersiap Berlaga di Kejurda Paralimpik Jatim

Para atlet difabel Kota Malang yang telah diberangkatkan dan siap untuk berlaga di Kejuaraan Daerah (Kejurda) Paralimpik Piala Gubernur Jatim 2026 di Mojokerto. (Foto: Lutfia/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Semangat Sumpah Pemuda turut dirasakan oleh para atlet difabel Kota Malang. Para atlet difabel telah diberangkatkan dan siap untuk berlaga di Kejuaraan Daerah (Kejurda) Paralimpik Piala Gubernur Jatim 2026 di Mojokerto. 

Semangat tersebut salah satunya ditunjukkan oleh Rara Lingga Mardiani Pragasiwi selaku Wakil Ketua NPCI Kota Malang. Rara sendiri merupakan atlet cabang olahraga (cabor) boccia di klasifikasi BC1. 

Boccia sendiri merupakan olahraga bola ketangkasan yang dirancang untuk atlet dengan difabel fisik berat, terutama Cerebral Palsy. Kota Malang sendiri mengirimkan 4 atlet di cabor boccia dan 1 atlet untuk cabor catur netra. 

Rara mengaku telah rutin berlatih dengan tim setiap Selasa hingga Jumat di Stadion Gajayana dan mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Malang. Mulai dari persiapan fisik dan mental terus didorong mengingat Kejurda Piala Gubernur bagi atlet difabel ini baru pertama kali digelar. 

"Selama ini kami memang sudah secara rutin melakukan latihan di Stadion Gajayana. Nah, kebetulan NPCI ini kan setara dengan KONI. Jadi kita disupport penuh oleh Disporapar. Memang kita sudah ada dari lama, tapi tahun ini baru terbentuk lagi kepengurusannya," ujarnya, Rabu, 28 Oktober 2026.

Dalam cabor boccia, terdapat klasifikasi berdasarkan tingkat difabel agar pertandingan tetap adil. Mulai dari BC1, BC2, BC3, dan BC4, sehingga atlet dengan kondisi yang relatif seimbang dapat bertanding satu sama lain.

"Jadi tidak semua cerebral palsy itu akan head-to-head. Kalau tidak seimbang, enggak mungkin. Mungkin dalam bahasa sederhananya itu tingkat keparahan, gitu ya, tingkat derajat disabilitasnya gitu," jelasnya. 

Selain klasifikasi atlet, peralatan olahraga boccia juga membutuhkan biaya yang cukup besar. Harga satu set bola boccia berkisar belasan hingga puluhan juta rupiah. Beruntungnya, bantuan senilai Rp18 juta diberikan untuk membeli perlengkapan boccia. 

"Untuk latihannya, karena kita sudah ada bola, jadi teman-teman itu berlatih secara rutin. Kalau yang tahun lalu untuk paralimpiknya, kami nekat karena belum ada bolanya. Kami juga belum pernah melihat bola secara langsung, tekniknya seperti apa," katanya. 

Rara mengaku optimistis mampu meraih juara di Kejurda Paralimpik Piala Gubernur tersebut. Terlebih kesempatan berlatih dan dukungan fasilitas yang memadai, atlet boccia Kota Malang mampu meningkatkan keterampilan dan bersaing dengan atlet dari daerah lain.

"Kami percaya diri di dua cabor, karena untuk catur netra, kami memiliki atlet yang sempat menjuarai nasional dan kompetisi yang lain. Lalu untuk boccia ini dengan alat dukung dan berlatih terus, saya rasa salah satu di antara kita bisa meraih medali itu," pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Kota Malang Sumpah Pemuda Hari Sumpah Pemuda Difabel Kota Malang Berita Kota Malang