KETIK, MALANG – Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) bersama Grand Mercure Malang Mirama meluncurkan gerakan bertajuk Beyond Waste pada Kamis, 4 Juni 2026. Program kolaborasi yang juga melibatkan Local Preneur dan People Hub tersebut digelar untuk mendorong pengelolaan limbah makanan (food waste) menjadi produk bernilai guna sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Peluncuran gerakan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 sekaligus upaya meningkatkan kesadaran berbagai sektor terhadap pentingnya pengelolaan limbah secara berkelanjutan.
Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama, Sugito Adhi, mengatakan bahwa program Beyond Waste merupakan langkah nyata dalam penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan.
“Beyond Waste diharapkan menjadi awal dari gerakan sustainability yang dapat diterapkan secara nyata. Kami tidak hanya mengelola limbah, kami sedang membangun warisan tanggung jawab untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Menurut Sugito, limbah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat secara ekonomi maupun sosial.
“Gerakan ini bukan hanya tentang pengurangan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Dari pengolahan food waste, masyarakat bisa menciptakan lapangan kerja baru, sementara industri dapat membangun kemandirian material melalui pemanfaatan sumber daya yang selama ini terbuang,” katanya.
Sementara itu, Operational Manager Grand Mercure Malang Mirama, Wahyu Widianto, mengungkapkan bahwa volume sampah makanan di hotel sangat bergantung pada tingkat hunian. Rata-rata limbah makanan yang dihasilkan berkisar antara 13 hingga 15 kilogram per hari, dengan penyumbang terbesar berasal dari layanan sarapan.
“Jika kuota sarapan berada di angka 250, sampah yang dihasilkan berkisar 8 hingga 10 kilogram. Namun saat hunian mencapai 400 hingga 500 tamu, volume sampah makanan bisa naik menjadi 13 sampai 15 kilogram,” jelasnya.
Menurut Wahyu, pihak hotel menerapkan batas maksimal limbah makanan sebesar 15 kilogram per hari sesuai standar jaringan hotel Accor. Sejumlah langkah pengurangan limbah juga telah dilakukan, seperti mengolah roti sisa menjadi hidangan penutup dan memanfaatkan buah yang masih layak konsumsi menjadi produk olahan seperti selai.
Sisa makanan yang tidak lagi layak dikonsumsi kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kompos maupun pakan ternak.
Founder Local Preneur, Baskoro, menilai pengelolaan limbah harus menjadi bagian dari tanggung jawab industri terhadap lingkungan.
“Kami mendukung penuh para pelaku industri untuk mulai memperhatikan dampak lingkungan di sekitarnya. Langkah yang diambil tidak harus selalu besar, tetapi bisa dimulai dari hal-hal yang dapat dilakukan saat ini,” ujarnya.
Pemberian hasil pengolahan limbah makanan kepada ayam di Grand Mercure Malang Mirama. (Foto: Aliyah/Ketik.com)
Dari kalangan akademisi, Dosen Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa limbah makanan yang tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan pencemaran lingkungan serta emisi gas rumah kaca.
“Limbah restoran maupun rumah tangga jika tidak dimanfaatkan justru akan menambah cemaran serta meningkatkan emisi gas rumah kaca yang dapat mengganggu dan merusak lapisan atmosfer,” katanya.
Ia menambahkan bahwa limbah organik memiliki banyak manfaat apabila diolah menjadi pakan ternak maupun pupuk untuk sektor pertanian. Selain itu, pengelolaan limbah juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Gerakan Beyond Waste melibatkan berbagai pihak mulai dari industri perhotelan, UMKM kuliner, akademisi hingga organisasi non-pemerintah. Rangkaian kegiatan meliputi komitmen ESG, talkshow keberlanjutan, pemaparan isu limbah makanan, hingga demonstrasi pengolahan limbah menjadi pakan ternak bersama peternak lokal.
Melalui gerakan ini, para pihak menargetkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah serta pengurangan volume limbah makanan. Program tersebut juga diharapkan dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, dan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
