KETIK, JEMBER – Semangat persatuan yang lahir dari Sumpah Pemuda 1928 mendapat relevansi baru di tengah tantangan sosial masa kini. Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember memanfaatkan momentum 28 Oktober 2026 untuk meluncurkan Pusat Studi Kesejahteraan Lansia, sebagai upaya mendorong perhatian yang lebih serius terhadap kesejahteraan warga lanjut usia.
Peluncuran tersebut dikemas dalam seminar yang berlangsung di Hotel Bintang Mulia, Jember, Rabu, 28 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar perguruan tinggi untuk memperluas peran akademik, tidak hanya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam menjawab persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Kehadiran pusat studi tersebut menandai langkah Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember dalam membangun perhatian terhadap kelompok lansia melalui kajian ilmiah, edukasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Isu kesejahteraan lansia dinilai membutuhkan keterlibatan bersama, mulai dari keluarga dan komunitas hingga lembaga pendidikan serta pemerintah.
Sejumlah pimpinan universitas dan fakultas hadir dalam kegiatan itu. Di antaranya Wakil Rektor I UIN KHAS Jember Prof. Dr. M. Khusna Amal, S.Ag., M.Si., Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) Dr. H. Nawawi, M.Fil.I., serta Dekan Fakultas Dakwah Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag.
Turut hadir Wakil Dekan I Dr. Uun Yusufa, M.A., Wakil Dekan II Dr. Achmad Fathor Rosyid, S.Sos., M.Si., Wakil Dekan III Dr. Ahmad Winarno, M.Pd.I., dan Kepala Bagian Tata Usaha Sunarto, S.E.
Seminar tersebut menghadirkan Prof. Dr. Tri Budi Raharjo dan Dr. Tri Suratmi, M.Pd., sebagai pemateri untuk memperkaya perspektif mengenai kesejahteraan lansia dan mendorong pengembangan perhatian terhadap kelompok lanjut usia.
Wakil Rektor I UIN KHAS Jember, Prof. Dr. M. Khusna Amal, menegaskan bahwa keberadaan organisasi tidak semestinya berhenti pada struktur kelembagaan dan aktivitas administratif. Organisasi harus mampu mengambil peran dalam kehidupan sosial serta menghadirkan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kita harus memahami bahwa organisasi bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan bagian penting dari struktur sosial masyarakat. Organisasi memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah persoalan sosial, membangun kesadaran kolektif, dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya. Karena itu, keberadaan organisasi tidak cukup hanya terlihat dalam struktur kepengurusan, tetapi juga harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial yang melekat pada keberadaannya. Pengetahuan yang dihasilkan di lingkungan akademik perlu terhubung dengan kebutuhan masyarakat, termasuk dalam merespons persoalan yang dihadapi warga lanjut usia.
Melalui pusat studi ini, Fakultas Dakwah diharapkan dapat mengembangkan pendekatan yang menghubungkan penelitian dan praktik sosial. Dengan demikian, pembahasan mengenai kesejahteraan lansia tidak berhenti sebagai wacana akademik, tetapi dapat menjadi pijakan bagi lahirnya program yang relevan dengan kebutuhan mereka.
Peluncuran pusat studi pada Hari Sumpah Pemuda membawa pesan yang lebih luas tentang makna persatuan. Jika generasi muda pada 1928 mengikrarkan persatuan sebagai fondasi kebangsaan, generasi masa kini menghadapi tantangan untuk menerjemahkan semangat tersebut ke dalam tindakan nyata, termasuk membangun solidaritas antargenerasi.
Dalam konteks itu, perhatian terhadap lansia menjadi bagian dari tanggung jawab bersama. Mereka bukan sekadar kelompok yang membutuhkan bantuan, melainkan individu yang memiliki pengalaman, pengetahuan, serta nilai kehidupan yang berharga bagi generasi berikutnya.
Kesejahteraan lansia pun tidak cukup diukur dari terpenuhinya kebutuhan material. Penghormatan terhadap martabat, kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan sosial, akses terhadap layanan yang dibutuhkan, serta lingkungan yang mendukung kehidupan secara layak merupakan bagian penting dari kesejahteraan mereka.
Tantangan tersebut semakin relevan di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi. Sebagian lansia menghadapi hambatan dalam memperoleh informasi, mengakses layanan, atau mempertahankan keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, pendekatan terhadap lansia perlu bergeser dari sekadar pemberian bantuan menuju pemenuhan hak, penghargaan terhadap suara mereka, dan penguatan kesempatan untuk tetap berkontribusi.
Generasi muda dapat mengambil peran melalui edukasi, pendampingan sosial, pemanfaatan teknologi yang inklusif, serta pengembangan ruang komunikasi lintas generasi. Namun, berbagai upaya tersebut perlu disusun berdasarkan kebutuhan nyata lansia, dengan tetap melibatkan mereka dalam menentukan bentuk dukungan yang diperlukan.
Sebagai institusi yang mengembangkan keilmuan dakwah, Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember memiliki peluang untuk memperkuat kontribusi keilmuan dalam menjawab persoalan kemanusiaan. Dakwah tidak hanya diwujudkan melalui penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga melalui tindakan yang memperkuat kepedulian, solidaritas, pendampingan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Kesejahteraan lansia memiliki keterkaitan erat dengan nilai kemanusiaan, penghormatan kepada orang yang lebih tua, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan dalam mengembangkan penelitian maupun program pengabdian yang lebih responsif terhadap kebutuhan kelompok lanjut usia.
Keberadaan Pusat Studi Kesejahteraan Lansia membuka peluang kolaborasi antara dosen, mahasiswa, keluarga, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan. Kerja sama tersebut dapat diarahkan pada penelitian, pendidikan masyarakat, pendampingan sosial, serta penyusunan program yang berangkat dari persoalan nyata di lapangan.
Melalui pendekatan lintas disiplin dan lintas generasi, pusat studi ini diharapkan mampu memperluas pemahaman mengenai persoalan lansia sekaligus mendorong lahirnya solusi yang lebih terarah.
Meski demikian, dampak sebuah pusat studi tidak cukup diukur dari seremoni peluncurannya. Keberlanjutan program, kualitas penelitian, jangkauan kolaborasi, serta manfaat yang dirasakan masyarakat akan menjadi penentu penting bagi kontribusinya dalam jangka panjang.
Momentum Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa persatuan bangsa harus terus diwujudkan dalam tindakan yang menjawab kebutuhan masyarakat. Solidaritas tidak hanya diperlukan di antara generasi muda, tetapi juga dalam membangun hubungan yang saling menghormati antara generasi muda dan generasi lanjut usia.
Peluncuran Pusat Studi Kesejahteraan Lansia oleh Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan tanggung jawab akademik dengan kepedulian kemanusiaan. Upaya ini sekaligus membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk mengambil bagian lebih besar dalam mendorong kesejahteraan sosial.
Ke depan, tantangan utamanya adalah memastikan pusat studi tersebut berkembang menjadi ruang produksi pengetahuan, kolaborasi, dan pengabdian yang berkelanjutan. Persoalan lansia tidak dapat dibebankan kepada keluarga semata, melainkan membutuhkan dukungan kolektif dari berbagai unsur masyarakat.
Pada akhirnya, kemajuan suatu bangsa bukan hanya tercermin dari kemampuan generasi mudanya menatap masa depan, tetapi juga dari kesediaannya menghormati dan menyejahterakan generasi yang telah lebih dahulu berkontribusi.
Dari semangat persatuan menuju kepedulian sosial, peluncuran pusat studi ini diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat solidaritas antargenerasi sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat. (*)
