KETIK, MALANG – Dosen Universitas Terbuka (UT) Malang berkolaborasi dengan Bunda PAUD Kecamatan Lowokwaru untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru. Melalui permainan sirkuit ala F1, peserta didik diajak belajar interaktif dan lebih menyenangkan.
Esti Kurniawati Mahardika, S. Pd.,M. Pd, Dosen PG PAUD UT menjelaskan minimnya perhatian pemerintah terhadap guru PAUD menjadi landasan pengabdian masyarakat dilakukan. Masa pengabdian telah dimulai sejak 28 April hingga 30 Mei 2026.
Para guru dibagi ke dalam 7 kelompok yang terdiri dari 3 TK dan 4 Pos PAUD. Sedangkan jumlah keseluruhan peserta terdapat 15 orang guru, yakni 6 guru TK dan 9 guru PAUD di Kecamatan Lowokwaru.
"Untuk pengabdian masyarakat ini sebetulnya yang disasarnya adalah guru-guru atau pendidik dan pengasuh di Kelompok Bermain (KB). Selama ini mereka seperti kurang mendapat perhatian karena semuanya swadaya," ujarnya, Rabu, 13 Mei 2026.
Proses pembuatan permainan sirkuit yang dapat diterapkan untuk media pembelajaran anak PAUD. (Foto: Esti Kurniawati Mahardika)
Terdapat beberapa rangkaian kegiatan yang dimulai dari pembekalan teori untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru. Di sini para guru dikenalkan dan diajak membuat rancangan permainan sirkuit.
Berlanjut pada pelatihan kedua, dilakukan penerapan konsep pada permainan sirkuit. Mulai dari pos kegiatan dalam permainan, alat dan bahan, hingga manfaat yang didapatkan siswa pada masing-masing pos.
"Pelatihan hari kedua adalah praktik langsung membuat permainan sirkuit berdasarkan rancangan atau desain yang sudah dibuat. Mereka membuat beberapa pos kegiatan untuk satu permainan sirkuit," lanjutnya.
Esti menyebut permainan sirkuit sangat efektif digunakan sebagai pembelajaran anak usia dini. Terlebih selama ini kegiatan pembelajaran masih konvensional dengan minim kreativitas.
"Anak-anak merasa senang dengan permainan ini karena selama ini pembelajarannya berbasis pensil, kertas, dan lembar kerja. Terdapat beberapa pos kegiatan yang dirangkum, didesain, dimodifikasi menjadi sebuah permainan sirkuit yang menyenangkan untuk anak-anak," ungkapnya.
Permainan sirkuit sendiri menggunakan acuan layaknya sirkuit motor F1 namun dimodifikasi ke dalam permainan edukatif bagi anak PAUD. Dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang terdapat pada setiap pos, mulai dari pos 1 sampai pos 5.
"Jadi kita menyusunnya ada lima pos kegiatan dengan asumsi pos satu itu untuk aspek perkembangan misalkan sosial emosional, pos dua untuk aspek perkembangan bahasa, pos tiga untuk kognitif, dan seterusnya sesuai dengan aspek perkembangan yang ada di PAUD," jelasnya.
Saat ini permainan sirkuit masih dalam proses produksi yang ditargetkan rampung di akhir bulan Mei 2026. Setelah rampung masa produksi, permainan sirkuit dapat mulai dilakukan pada tahun ajaran baru nanti.
Esti menjelaskan, melalui pengabdian masyarakat tersebut diharapkan wawasan dan kompetensi pedagogik guru PAUD di Kecamatan Lowokwaru semakin meningkat. Merekapun mendapatkan pengalaman membuat permainan sirkuit sebagai alternatif pembelajaran yang lebih kreatif bagi anak PAUD.
"Tentunya mereka dapat mengembangkan pembelajaran yang menarik untuk anak usia dini. Permainan sirkuit ini dapat dinikmati dan digunakan oleh anak-anak usia dini di wilayah Kota Malang, khususnya Kecamatan Lowokwaru yang kemarin mengikuti pelatihan," tutupnya. (*)
