Go International! Dua Mahasiswa UIN Malang Ikuti Short Course Bersama Dosen Senior NUS di Singapura

30 Oktober 2026 14:07 30 Okt 2026 14:07

Moh. Faiz, Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Go International! Dua Mahasiswa UIN Malang Ikuti Short Course Bersama Dosen Senior NUS di Singapura

Moh Faiz (kiri) dan Meisa Rahmawati (kanan), mahasiswa Sastra Inggris UIN Malang, berfoto bersama Dr. Azhar Ibrahim (tengah), dosen senior National University of Singapore (NUS), di ArCH Square, Singapura, dalam rangkaian program I-SMASH 2026, Selasa, 27 Oktober 2026. (Foto: Faiz/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Moh Faiz dan Meisa Rahmawati, Mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Humaniora, UIN Malang, raih kesempatan merasakan perkuliahan di National University of Singapore (NUS), Kampus Terbaik di Asia.

Kesempatan tersebut diperoleh kedua mahasiswa ini melalui program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) 2026 dari Fakultas Humaniora, UIN Malang, di Singapura pada 26 hingga 31 Oktober 2026.

Selama mengikuti program tersebut, keduanya berkesempatan belajar dan berdiskusi bersama dua akademisi senior NUS, yakni Azhar Ibrahim, Ph.D.dan Dr. Suriani Suratman. Keduanya merupakan dosen senior di Department of Malay Studies, Faculty of Arts and Social Sciences, NUS.

"Atmosfer perkuliahan di sini terasa sangat dinamis. Setiap kali ada presentasi, para mahasiswa langsung aktif memberikan tanggapan, baik berupa pertanyaan maupun masukan yang membangun. Saat kami bergabung di kelas Dr. Suriani, kami melihat latar belakang mahasiswa yang sangat beragam, baik dari latar agama maupun tingkat semester. Menariknya, diskusi tetap mengalir setara tanpa ada kesan paling tahu," ungkap Faiz.

Menurut Faiz, Meski jumlah peserta perkuliahan relatif sedikit, suasana diskusi berlangsung aktif. Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai budaya akademik yang mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

Keberanian menyampaikan pendapat dan keterbukaan menerima pandangan berbeda menjadi hal yang menarik perhatiannya. Setiap mahasiswa memiliki kesempatan menyampaikan pandangan, mengajukan pertanyaan, hingga memberikan masukan terhadap presentasi yang disampaikan.

Pengalaman serupa turut dirasakan Meisa Rahmawati. Ia mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan akademik secara langsung di NUS dan berdiskusi bersama mahasiswa serta dosen yang memiliki wawasan luas.

"Bersyukur diberi kesempatan belajar di sini dan bisa berdiskusi langsung dengan dosen serta mahasiswa NUS. Wawasan mereka luar biasa kritis dan bernas, wajar saja kalau NUS menjadi salah satu kampus terbaik di Asia dan masuk jajaran 15 besar dunia," ujar Meisa.

Foto Moh Faiz dan Meisa Rahmawati mengikuti sesi pemaparan materi dan diskusi akademik di ArCH Square, Singapura, Selasa, 27 Oktober 2026. (Foto: Faiz/Ketik.com)Moh Faiz dan Meisa Rahmawati mengikuti sesi pemaparan materi dan diskusi akademik di ArCH Square, Singapura, Selasa, 27 Oktober 2026. (Foto: Faiz/Ketik.com)

Salah satu pengalaman menarik diperoleh ketika Moh Faiz dan Meisa Rahmawati bergabung dalam kelas Malay Middle Class yang diampu Dr. Suriani Suratman.

Dalam perkuliahan tersebut, Dr. Suriani membahas perubahan struktur sosial masyarakat Melayu, khususnya pergeseran dari hierarki tradisional yang didominasi kalangan elite dan bangsawan kerajaan menuju struktur masyarakat modern.

Pembahasan ini memberikan pemahaman mengenai perkembangan kelas menengah dan perubahan kedudukan sosial dalam masyarakat Melayu.

Tidak berhenti pada pengalaman perkuliahan, kedua mahasiswa juga mengikuti sesi akademik bersama Dr. Azhar Ibrahim bertajuk On Heritage Matters: Conservation and Contestation in Southeast Asia, yang membahas persoalan warisan budaya atau Cultural Heritage.

Dalam sesi tersebut, Dr. Azhar mengajak mahasiswa memahami bagaimana warisan budaya dimaknai, dilestarikan, diperebutkan, serta digunakan untuk membangun identitas masyarakat dan memperjuangkan keadilan sosial.

Pada sesi konsultasi penelitian, Dr. Azhar menekankan pentingnya membangun tradisi membaca yang kuat di kalangan mahasiswa. Ia mendorong mahasiswa untuk memperluas bacaan melalui buku akademik, artikel jurnal, serta karya para pemikir yang relevan dengan bidang keilmuan masing-masing.

Dr. Azhar juga mengajak mahasiswa Indonesia untuk mengenal tradisi pemikiran yang berkembang di Indonesia, Asia, dan negara-negara Global South. Menurutnya, penguasaan teori Barat perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap gagasan intelektual yang lahir dari konteks sosial dan budaya masyarakat sendiri.

Pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif mahasiswa dalam memahami persoalan akademik melalui beragam pendekatan. Bagi Moh Faiz dan Meisa Rahmawati, kesempatan berdiskusi bersama kedua dosen senior NUS tersebut menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan akademik mereka sebagai mahasiswa Sastra Inggris.

Lebih lanjut, program I-SMASH merupakan salah satu inisiatif internasional Fakultas Humaniora UIN Malang yang dirancang untuk memberikan pengalaman pembelajaran lintas negara. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memperluas wawasan akademik sekaligus mengenal lingkungan pendidikan tinggi internasional secara langsung.

Bagi Faiz dan Meisa, kesempatan belajar bersama kedua akademisi senior NUS tersebut menjadi pengalaman berharga untuk memperluas wawasan sekaligus memperdalam pengetahuan yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di UIN Malang.(*)

Tombol Google News

Tags:

Mahasiswa UIN Malang I-smash 2026 Sastra Inggris Uin Fakultas Humaniora Uin Mahasiswa Malang