KETIK, BATU – Program 1 Desa dan Kelurahan 1 Dokter di Kota Batu diharapkan menjadi salah satu penggerak percepatan penanggulangan tuberkulosis (TBC).
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), dr. Benyamin Paulus Octavianus, menilai kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan dukungan pemerintah daerah dapat mendorong Kota Batu menjadi percontohan nasional dalam menekan kasus penyakit menular tersebut.
Menurut dr. Beny, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pemberantasan TBC karena menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus. Presiden Prabowo Subianto pun menginginkan angka kasus penyakit tersebut dapat terus ditekan.
“Dari provinsi kalau Jawa Timur kan bagus mengobatinya di atas 90 persen. Provinsi yang paling jelek aja mengobatinya di atas 80 persen,” ungkapnya saat diwawancarai awak media di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Menurutnya, tantangan utama pemberantasan TBC terletak pada pemeriksaan orang-orang yang berkontak erat dengan pasien. Penanganan selama ini cenderung berfokus pada mereka yang telah sakit, sedangkan orang yang berpotensi tertular, termasuk anggota keluarga yang tinggal serumah, belum seluruhnya diperiksa.
“Masalah kita adalah orang yang kontak erat serumah yang diobati yang sakit aja. Yang ketularan gak diperiksa,” kata dr Benny.
Karena itu, ia mendorong penguatan gerakan pemeriksaan kesehatan masyarakat, termasuk melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Upaya ini diharapkan dapat membantu menemukan orang yang diduga mengalami TBC agar segera mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.
dr. Benny menilai Kota Batu memiliki modal untuk mendukung langkah tersebut, mulai dari kesiapan tenaga kesehatan hingga komitmen pemerintah daerah.
Ia secara khusus menyoroti program satu desa satu dokter yang dinilainya sebagai potensi untuk memperkuat pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat.
“Dengan SDM Batu yang luar biasa, bayangkan Kota Batu menyiapkan satu desa satu dokter. Itu mungkin di Indonesia tinggal Batu aja tuh, gak banyak daerah kayak gitu,” ujarnya.
Ia berharap dukungan SDM dan komitmen politik pemerintah daerah dapat mendorong Kota Batu menekan kasus TBC dan stunting sekaligus menjadi percontohan nasional.
“Kota Batu saya mengharapkan menjadi kota yang mampu menurunkan stunting, menurunkan TBC lebih ekstrem karena SDM-nya ada. Ada komitmen politik dari wali kota, wakil wali kota sama di DPRD-nya semua sudah semangat sama-sama,” tutur dia.
Sementara itu, kasus TBC di Kota Batu tercatat mencapai 589 kasus. Kecamatan Batu menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi mencapai 55 persen dari total kasus tersebut.
“Faktor pemicu nomor satu itu kan karena ini kan menularnya cepat, jadi otomatis pada daerah padat penduduk. Dengan lingkungan yang tidak sehat, dengan interaksi masyarakat yang intens, itu cukup menjadi kantong TBC,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Aditya Prasaja.
Ia menerangkan, TBC berkembang secara kronis sehingga seseorang dapat membawa bakteri penyebab penyakit tersebut sebelum merasakan gejala yang mengganggu.
Kondisi ini menjadi tantangan dalam upaya menemukan kasus sejak dini karena orang yang merasa sehat cenderung enggan menjalani pemeriksaan maupun terapi pencegahan.
“Jadi kalau belum sakit ya terapi pencegahan itulah. Terapi pencegahan kalau orang merasa tidak sakit ya tidak mau,” tambah dia.
Selain deteksi dini, kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas juga menjadi perhatian. dr Aditya menyebut pengobatan TBC dapat berlangsung selama tiga hingga enam bulan.
Pasien yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya berisiko mengalami resistansi obat, sehingga membutuhkan penanganan dengan obat lain dan durasi terapi yang lebih panjang.
“Kadang-kadang juga kejadian, dia harusnya minum rutin enam bulan, kadang-kadang dia dua bulan merasa sudah enak badannya, tidak dilanjutkan. Ini bahaya sekali,” tegas dr Aditya.
Ia mengingatkan bahwa penghentian pengobatan sebelum waktunya dapat memicu resistansi bakteri terhadap obat yang digunakan.
Akibatnya, penanganan menjadi lebih kompleks karena pasien perlu menjalani terapi lanjutan dengan obat berbeda dan waktu pengobatan yang lebih lama.
Melalui deklarasi Desa/Kelurahan Siaga TBC dan peluncuran program 1 Desa dan Kelurahan 1 Dokter, Pemkot Batu memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan TBC dengan mendorong keterlibatan masyarakat serta memperluas akses pelayanan kesehatan di tingkat desa dan kelurahan.
