KETIK, HALMAHERA SELATAN – Api membakar pepohonan. Asap mengepul di antara batang-batang karet yang menjulang tinggi. Namun, ketika malam menyelimuti kawasan Hutan Kota Taman Budaya Saruma, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, sesuatu yang tak biasa justru mengejutkan petugas pemadam kebakaran.
Bukan kobaran api, melainkan jeritan misterius dari balik gelapnya hutan.
Kisah itu diungkapkan dua pejabat Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan yang berada di lokasi kebakaran pada Selasa 20 Oktober 2026. Keduanya mengaku mendengar suara perempuan ketika proses pemadaman berlangsung hingga malam.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Halmahera Selatan, Ali Dano Hasan, mengaku mendengar jeritan perempuan dewasa dari dalam kawasan wisata. Suaranya menyerupai seseorang yang sedang meminta pertolongan.
"Saya dengar ada suara perempuan dewasa berteriak minta tolong. Tapi saya tidak berani masuk lebih jauh ke dalam taman untuk memastikan dari mana suara itu berasal," cerita Ali saat dikonfirmasi, Senin 26 Oktober 2026.
Ali tidak mengetahui asal suara tersebut. Namun, menurutnya, kawasan hutan kota itu sejak lama dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat tentang keberadaan makhluk tak kasatmata bernama Moro.
"Hutan kota itu memang dihuni makhluk halus yang biasa disebut Moro," ungkapnya.
Pengalaman serupa diceritakan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Halmahera Selatan, Indra Faris.
Saat itu, Indra bersama personelnya masih berjibaku memadamkan api. Di tengah operasi yang berlangsung hingga malam, terdengar suara perempuan memberikan peringatan dari arah pepohonan.
"Hati-hati! Awas, ada api di atas!" tutur Indra, menirukan suara yang didengarnya.
Indra semula mengira hanya dirinya yang mendengar seruan tersebut. Namun, setelah bertanya kepada salah seorang kepala bidang, ternyata suara yang sama juga terdengar oleh rekannya.
"Saya pikir hanya saya yang dengar. Lalu saya tanya salah satu kepala bidang, ternyata dia juga mendengar suara yang sama," katanya.
Beberapa menit kemudian, suasana kembali berubah. Dari arah kawasan yang gelap, terdengar jeritan menyerupai suara anak perempuan meminta pertolongan.
Seorang petugas yang sedang mengarahkan air ke titik kebakaran tiba-tiba melepaskan selang beserta noselnya dan meninggalkan posisi. Personel lainnya menyusul, termasuk Indra yang memimpin operasi pemadaman.
"Setelah beberapa menit, terdengar lagi suara anak perempuan berteriak minta tolong. Ada anggota yang langsung melepas selang dan nosel lalu lari. Ternyata semua anggota ikut lari karena mendengar suara itu. Saya juga ikut lari," kisah Indra.
Meski sempat dikejutkan kejadian tersebut, petugas tetap menjalankan tugas pemadaman.
Indra menjelaskan, penanganan kebakaran Hutan Karet Taman Budaya Saruma berlangsung hampir sepekan. Petugas terus melakukan pemadaman dan bersiaga mengantisipasi titik api susulan.
Kebakaran itu dikhawatirkan meluas hingga mengancam permukiman penduduk dan kawasan sekitar Kantor Bupati Halmahera Selatan.
"Kami melakukan pemadaman dan siaga hampir satu minggu karena kawasan itu berpotensi membuat api merambat sampai ke permukiman warga dan sekitar Kantor Bupati," jelasnya.
Bagi sebagian masyarakat, kisah tersebut mungkin mengingatkan pada kepercayaan tentang Moro yang telah lama dikenal dalam cerita lokal.
Kebakaran akhirnya berhasil ditangani. Namun, jeritan perempuan yang didengar para petugas malam itu masih menyisakan misteri. Hingga kini, belum diketahui siapa yang sebenarnya meminta pertolongan dari balik gelapnya Hutan Karet Taman Budaya Saruma.
