KETIK, JAKARTA – Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang lahir pada 31 Januari 1926. Sejak berdiri, NU telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga pendidikan, sosial, kemasyarakatan, hingga perjuangan kebangsaan.
Dalam perjalanan panjangnya, kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah mengalami berbagai pergantian tokoh. Mulai dari para ulama pendiri yang menjadi peletak dasar organisasi, hingga generasi penerus yang membawa NU menghadapi tantangan zaman.
Berdasarkan data yang dihimpun Ketik.com, berikut daftar Ketua Umum PBNU dari masa ke masa:
1. KH Hasan Gipo (1926–1929)
2. KH Ahmad Noor (1929–1937)
3. KH Mahfudz Siddiq (1937–1946)
4. KH Nahrawi Thohir (1946–1951)
5. KH Abdul Wahid Hasyim (1951–1954)
6. KH Muhammad Dahlan (1954–1956)
7. KH Idham Chalid (1956–1984)
8. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (1984–1999)
9. KH Hasyim Muzadi (1999–2010)
10. KH Said Aqil Siradj (2010–2021)
11. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) (2021–2026)
12. KH Abdul Hakim (2026–2031)
KH Abdul Hakim atau yang akrab disapa Gus Kikin menjadi tokoh terbaru yang dipercaya memimpin PBNU. Ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 dalam Muktamar NU ke-35 yang digelar di Tambakberas, Jombang.
Gus Kikin resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU pada 31 Agustus 2026, menandai babak baru perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Selain jabatan Ketua Umum, NU juga memiliki posisi strategis lainnya, yakni Rais Aam PBNU. Jabatan ini merupakan otoritas tertinggi dalam bidang keulamaan yang memiliki peran penting dalam memberikan pandangan dan arah keagamaan bagi organisasi.
Sejumlah ulama besar pernah mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU, di antaranya KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, hingga KH Miftachul Akhyar.
Pergantian kepemimpinan PBNU dari masa ke masa menjadi gambaran perjalanan panjang NU dalam menjaga tradisi keislaman, memperkuat pendidikan pesantren, serta terus berkontribusi dalam kehidupan sosial dan kebangsaan Indonesia.
Dengan usia yang telah memasuki satu abad, NU terus menunjukkan perannya sebagai organisasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, sekaligus mempertahankan nilai-nilai keulamaan dan kebangsaan yang menjadi fondasinya. (*)
.png)