KETIK, KEDIRI – Permasalahan sampah organik hingga saat ini masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah di Indonesia. Volume sampah yang terus meningkat, terutama dari limbah rumah tangga dan pasar, menuntut adanya solusi yang efektif, berkelanjutan, dan bernilai ekonomis.
Salah satu inovasi yang mulai banyak dikembangkan adalah budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) atau yang dikenal sebagai maggot.
Melalui program Magang Berdampak (eks Magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka, MBKM), salah satu mahasiswi dari Program Studi Di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Brawijaya Kediri, yaitu Tyara Salmaa,kek mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan budidaya maggot di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, Kabupaten Bekasi.
Kegiatan ini juga mendapat arahan langsung dari mentor lapangan yaitu Bapak Widyatmoko yang memberikan arahan dalam pelaksanaan kegiatan teknis maupun pengembangan wawasan di bidang perikanan dan lingkungan, serta memperoleh arahan Dr. Zainal Abidin selaku dosen pembimbing dari kampus.
Budidaya maggot memanfaatkan limbah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan limbah dapur sebagai pakan utama larva. Dalam prosesnya, maggot mampu mengurai sampah organik secara cepat dan efisien, sehingga dalam waktu relatif singkat volume limbah dapat berkurang secara signifikan.
Hal ini menjadikan budidaya maggot sebagai salah satu solusi ramah lingkungan dalam pengelolaan sampah. Menurut Yuwita dan Hasyim (2022), siklus hidup Black Soldier Fly (BSF) berlangsung sekitar 40 hari, yang terdiri dari fase telur selama 3 hari, larva (maggot) 18 hari, prepupa 14 hari, pupa 3 hari, dan lalat dewasa 3 hari.
Lalat betina mampu menghasilkan 500–900 telur dan meletakkannya di tempat yang aman dekat sumber pakan, sehingga mendukung keberlanjutan budidaya.
Menariknya, maggot Black Soldier Fly (BSF) tidak hanya berperan dalam mengurai limbah, tetapi juga memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Berdasarkan penelitian Nisa et al. (2023), maggot mengandung protein sebesar 25,22–41,22% dengan kadar karbohidrat yang sangat rendah, yaitu kurang dari 0,05%.
Selain itu, maggot juga memiliki kandungan lemak sebesar 0,73–1,02%, kadar air 64,86–74,44%, serta kadar abu 2,88–4,65%.
Kandungan nutrisi tersebut menjadikan maggot sebagai alternatif pakan yang potensial, khususnya untuk mendukung pertumbuhan ikan dan ternak secara lebih efisien.
Tidak hanya itu, sisa hasil budidaya maggot berupa kasgot (bekas media maggot) juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Kasgot mengandung unsur hara yang baik untuk pertumbuhan tanaman, sehingga dapat digunakan sebagai pupuk alami yang ramah lingkungan.
Dengan demikian, budidaya maggot memberikan manfaat ganda, yaitu mengurangi sampah sekaligus menghasilkan produk bernilai guna.
Melalui kegiatan ini, diharapkan budidaya maggot dapat semakin dikenal dan diterapkan secara luas oleh masyarakat sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang efektif, sekaligus sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Ke depan, inovasi seperti ini diharapkan mampu mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam bidang lingkungan dan ketahanan pangan.
Melalui kegiatan MBKM atau Magang Berdampak 2026 ini telah mendukung pencapaian beberapa agenda Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu:
SDG 4 (Quality Education)
Kegiatan ini meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam bidang budidaya perikanan, pengelolaan limbah organik, serta monitoring dan pelaporan ilmiah. Mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di lapangan yang mendukung pembelajaran berbasis praktik dan penguatan kompetensi profesional.
SDG 12 (Responsible Consumption and Production)
Kegiatan budidaya maggot berkontribusi dalam pengelolaan limbah organik menjadi produk yang bernilai guna seperti pakan alternatif dan pupuk organik (kasgot). Hal ini mendukung pola produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan serta ramah lingkungan.
SDG 14 (Life Below Water)
Pemanfaatan maggot sebagai pakan alternatif ikan membantu mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial berbasis sumber daya laut. Dengan demikian, kegiatan ini secara tidak langsung mendukung keberlanjutan ekosistem perairan.
SDG 17 (Partnerships for the Goals)
Kegiatan ini memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, instansi pemerintah, dan mitra seperti Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Sinergi ini mendukung pengembangan inovasi serta implementasi program berbasis keberlanjutan.(*)
