KETIK, BANGKALAN – Upaya mengusulkan Pangeran Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional terus berlanjut. Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mulai merampungkan sejumlah tahapan penting, salah satunya melalui seminar pengusulan yang digelar untuk memperkuat kajian akademik serta mengumpulkan bukti autentik sejarah perjuangan tokoh asal Madura tersebut.
Seminar ini menjadi bagian dari persyaratan pengusulan gelar Pahlawan Nasional yang harus melalui sejumlah tahapan, termasuk penyusunan naskah akademik dan pelaksanaan seminar di tingkat lokal maupun nasional.
Direktur Pemberdayaan Potensi dan Sumber Daya Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia, Dr. Salahuddin Yahya, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu tahapan penting dalam proses pengusulan Pangeran Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional.
Menurutnya, selama proses kajian berlangsung, tim telah menemukan sejumlah bukti dan autentifikasi sejarah yang mendukung pengusulan tersebut.
"Sepanjang pelaksanaan kegiatan, kita menemukan bukti-bukti dan autentifikasi sejarah yang sangat mendukung untuk diajukan," ujar Salahuddin Yahya. Sabtu 07 Nopember 2026.
Ia menjelaskan, proses pengusulan tidak bisa dilakukan secara langsung, melainkan harus memenuhi persyaratan administrasi dan dokumen sejarah yang disusun secara berjenjang.
Mekanismenya dimulai dari rekomendasi pemerintah kabupaten, kemudian gubernur, hingga Menteri Sosial. Selanjutnya, usulan diteruskan kepada Dewan Gelar untuk dilakukan pembahasan sebelum disampaikan kepada Presiden.
"Kita hanya melengkapi kebutuhan-kebutuhan administrasi dan dokumen tiap fase untuk dipastikan disampaikan ke TP2GD, TP2GP melalui rekomendasi secara berjenjang, bupati, kemudian gubernur, sampai dengan Menteri Sosial, lalu masuk ke Dewan Gelar," jelasnya.
Meski demikian, Salahuddin menegaskan bahwa keputusan akhir pemberian gelar Pahlawan Nasional sepenuhnya menjadi kewenangan Presiden.
"Pada akhirnya, itu hak pribadi Pak Presiden. Nanti Dewan Gelar akan menyerahkan kepada Pak Presiden. Pak Presiden yang menentukan siapa yang akan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional tahun 2026," tegasnya.
Terkait tahapan pengusulan Pangeran Trunojoyo, Salahuddin menyebut aspirasi tersebut diarahkan untuk diajukan pada 2027 setelah seluruh persyaratan dan dokumen pendukung dipersiapkan.
Ia juga mengingatkan masyarakat Madura, terutama generasi muda, agar tidak hanya mengenal Pangeran Trunojoyo sebagai tokoh sejarah, tetapi juga mengambil nilai perjuangan dan nasionalisme yang diwariskannya.
Menurutnya, kesadaran sejarah merupakan bagian penting dalam membangun kecintaan terhadap bangsa dan negara.
"Saya kira kita perlu meneladani dan yang terpenting adalah melek sejarah. Karena penghargaan terhadap sejarah itu salah satu bukti loyalitas dan kebanggaan terhadap nasionalisme kita," ungkapnya.
Ia menambahkan, Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak terbentuk secara tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan panjang sejarah dan perjuangan berbagai tokoh bangsa, termasuk Pangeran Trunojoyo yang memiliki akar perjuangan di Madura.
Sementara itu, Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Prof. Dr. Safi, S.H., M.H., mengatakan, pengusulan Pangeran Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional saat ini masih dalam tahap penyelesaian sejumlah persyaratan.
Menurutnya, seminar yang digelar menjadi bagian dari proses penyusunan dokumen akademik yang nantinya menjadi dasar pengajuan kepada pemerintah.
"Pengajuannya masih belum kita lakukan, karena kita masih melakukan tahapan-tahapan yang harus dilalui dari awal, termasuk pada hari ini masuk di tahapan seminar," kata Safi.
Ia menjelaskan, sesuai ketentuan, proses pengusulan harus didukung sedikitnya dua kali seminar untuk mendapatkan masukan dan respons publik. Setelah seminar pertama, UTM merencanakan seminar lanjutan yang akan dilaksanakan di Kabupaten Sampang.
"Minimal harus ada dua kali seminar untuk mendapatkan respons dari publik. Nanti seminar kedua insyaallah akan kita laksanakan di Kabupaten Sampang," jelasnya.
UTM menargetkan seluruh dokumen persyaratan dapat diselesaikan tahun ini. Selanjutnya, pada awal 2027, berkas pengusulan akan mulai diproses melalui Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Jawa Timur untuk diteruskan kepada TP2GP di tingkat pusat.
"Kalau secara dokumen, insyaallah kita targetkan tahun ini rampung. Makanya dalam waktu dekat ini akan ada seminar lagi sebagai bagian dari tahapan yang harus dilalui," ungkapnya.
Selain melengkapi dokumen akademik, UTM juga berencana melakukan audiensi dengan Menteri Sosial dan Menteri Kebudayaan, serta Gubernur Jawa Timur. Langkah tersebut dilakukan untuk mendapatkan dukungan sekaligus mengawal proses pengusulan agar berjalan sesuai tahapan.
Safi menyebut, inisiatif pengusulan kali ini berasal dari UTM. Namun, upaya menjadikan Pangeran Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional sebenarnya bukan hal baru.
Ia mengungkapkan, sebelumnya pernah ada upaya pengusulan pada 2002 dan 2006, termasuk melalui pihak-pihak di Sampang. Namun, pengajuan tersebut belum berhasil sampai memperoleh gelar yang diharapkan.
"Kalau yang sekarang inisiatif dari UTM. Cuma sebelumnya memang sudah ada yang melakukan. Tahun 2002 pernah dilakukan, termasuk Pemkab Sampang pada 2006. Hanya saja, saat itu belum berhasil," paparnya.
Menurut Safi, UTM memiliki tanggung jawab untuk ikut mengawal pengusulan tersebut, terlebih nama universitas yang menggunakan nama besar Trunojoyo menjadi bagian dari identitas sejarah Madura.
Ia berharap seluruh rangkaian seminar dapat menghasilkan kajian akademik yang kuat, komprehensif, serta didukung bukti sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Harapannya, seminar ini bisa merampungkan dokumen akademik yang memang harus kita siapkan," pungkasnya.
Melalui proses tersebut, UTM berharap perjuangan Pangeran Trunojoyo mendapatkan pengakuan yang lebih luas dalam sejarah nasional. Namun, seluruh proses tetap harus mengikuti mekanisme dan ketentuan pengusulan gelar Pahlawan Nasional yang berlaku. (*)
