KETIK, PALEMBANG – Pemerintah resmi mengumumkan kebijakan besar di sektor pertanian dengan menurunkan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen.
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dalam acara Rembuk Tani dan Sosialisasi Kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi yang digelar di Grand Ballroom PT Pusri Palembang, Jumat 1 Mei 2026.
Penurunan harga ini merupakan tindak lanjut dari diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 tentang perubahan tata kelola pupuk nasional.
Menko Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa kunci dari penurunan harga ini adalah pergeseran sistem subsidi. Pemerintah kini meninggalkan pendekatan cost plus dan beralih ke sistem market to market.
"Melalui efisiensi dan kebijakan yang tepat, harga pupuk bisa turun tanpa harus membebani anggaran negara secara signifikan. Kita melakukan penghematan hingga 20 persen," ujar pria yang akrab disapa Zulhas tersebut di hadapan ratusan petani se-Sumatra Selatan.
Ia menambahkan, meski harga turun, nilai subsidi negara tetap terjaga di kisaran Rp45 triliun hingga Rp46 triliun.
Hal ini dimungkinkan karena penyaluran subsidi dilakukan lebih awal, sehingga beban bunga yang selama ini ditanggung industri pupuk dapat ditekan secara drastis.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan saat berinteraksi dengan para petani, dalam acara Rembuk Tani di Ballroom Pusri Palembang, Jumat 1 Mei 2026. (Foto: Yola/Ketik.com)
Bangun 7 Pabrik Baru, Salah Satunya di Sumsel
Selain memangkas harga, pemerintah melalui PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan pembangunan satu pabrik pupuk baru setiap tahunnya.
Dalam kurun waktu lima tahun ke depan, ditargetkan akan ada tujuh pabrik baru untuk menjamin ketersediaan stok nasional.
"Luar biasa terobosan yang dilakukan Pupuk Indonesia. Dalam lima tahun bisa membangun tujuh pabrik baru, dan salah satunya akan dibangun di Sumatra Selatan," tegas Zulhas.
Acara yang dihadiri oleh petinggi Pupuk Indonesia, Gubernur Sumsel, Walikota Palembang, serta jajaran TNI dan Polri ini menjadi ruang strategis bagi para petani. Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme tinggi dari ratusan perwakilan petani yang hadir untuk berdialog langsung.
Bagi para petani, momen ini bukan sekadar sosialisasi satu arah, melainkan wadah untuk memastikan suara dari sawah dan ladang terdengar langsung oleh pengambil kebijakan di tingkat pusat.
Zulhas berharap dengan sistem yang lebih efisien ini, produktivitas petani akan meningkat seiring dengan biaya produksi yang lebih murah.
"Kita ingin lima atau enam tahun mendatang, Pupuk Indonesia menjadi produsen yang sangat efisien sehingga petani kita lebih sejahtera," pungkasnya.(*)
