KETIK, BLITAR – Bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day, Jumat 1 Mei 2026, ratusan warga Blitar Selatan justru memilih merayakan dengan aksi nyata. Mereka yang tergabung dalam paguyuban petani tebu dan sopir truk bergotong royong memperbaiki jalan rusak sepanjang sekitar 15 kilometer dari Desa Gunung Gede menuju Pantai Tambakrejo.
Alih-alih turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan, masyarakat ini turun langsung ke jalan untuk memperbaikinya.
Inisiatif tersebut muncul dari keresahan warga atas kondisi jalan yang kian rusak dan menghambat aktivitas ekonomi, terutama distribusi hasil pertanian dan akses transportasi menuju kawasan wisata.
Salah satu tokoh masyarakat Tambakrejo, Rofi, mengatakan gerakan ini lahir dari kesadaran bersama, bukan karena dorongan pihak luar.
“Kalau menunggu bantuan pemerintah, khawatirnya jalan makin rusak dan tidak bisa dilewati. Akhirnya kami sepakat bergerak bersama,” ujarnya.
Penggalangan dana dilakukan secara sukarela, dengan nominal sumbangan mulai dari Rp150 ribu hingga Rp450 ribu per orang. Sementara warga lain yang tidak menyumbang secara materi tetap terlibat sebagai relawan dalam kerja bakti.
Menurut Rofi, gagasan awal berasal dari dua tokoh paguyuban, yakni Yudi dari sopir truk dan Mianto dari petani tebu.
“Dari kesepakatan Mas Yudi dan Mas Mianto, warga mulai urunan. Minimal sekitar Rp150 ribu sampai Rp400 ribu, tapi semuanya sukarela,” jelasnya.
Meski dilakukan secara mandiri, ia menegaskan bahwa aksi ini bukan bentuk protes terhadap pemerintah daerah, melainkan langkah cepat agar kerusakan tidak semakin parah.
Hasilnya mulai terlihat. Jalan yang sebelumnya rusak berat kini berangsur membaik dan kembali bisa dilalui kendaraan, terutama untuk menunjang aktivitas warga dan distribusi hasil bumi.
“Kalau masyarakat bersatu, gotong royong seperti ini terbukti bisa jadi solusi. Tidak harus selalu menunggu program yang prosesnya lama,” pungkas Rofi.
