KETIK, TULUNGAGUNG – Pengakuan internasional kembali menghampiri putra terbaik Nusantara atas pengabdian tanpa lelah dalam merawat akar budaya bangsa. Kebanggaan itu kali ini dihadirkan drg. Agus Darwito, budayawan asal Desa/Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung.
Dedikasi melestarikan kearifan lokal tak hanya memelihara identitas nasional, tetapi juga membanggakan Indonesia di panggung global
Sosok yang dikenal ramah dan kini menginjak usia 62 tahun ini resmi mengukir prestasi tingkat dunia pada 6 Oktober 2026. Mewakili Provinsi Jawa Timur, ia dianugerahi gelar kehormatan Global Citizenship XXI serta Aristocrat Philosopher Word dari UNESCO.
Penghargaan prestisius ini merupakan wujud apresiasi dunia atas kontribusi pemikiran, komitmen, dan kerja kerasnya dalam memajukan kebudayaan serta nilai-nilai kemanusiaan yang sejalan dengan misi perdamaian global di era modern.
"Tentunya saya sangat bersyukur atas penghargaan dari UNESCO ini. Terlebih dalam perhelatan istimewa tersebut, saya bersama beberapa tokoh daerah lainnya mendapat kehormatan disandingkan dengan Sultan Kacirebonan IX, Sultan PR. Abdulgani Natadiningrat," ungkap Agus saat diwawancarai pada Senin, 12 Oktober 2026.
Momen berharga tersebut turut dihadiri oleh H.R.H. Pangeran Mohammad Soleh Ridwan, selaku National President Word Philosophical Forum (WPF) UNESCO Indonesia.
Dalam pesannya, beliau menekankan bahwa keberagaman potensi dan kompetensi individu seharusnya tidak menjadi ajang saling menjatuhkan, melainkan dipadukan menjadi kekuatan kolektif demi kemajuan masyarakat, termasuk pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan bangsa.
Agus juga mengungkapkan rasa sukacitanya karena acara berlangsung dalam suasana hangat dan dihadiri oleh para delegasi, tokoh adat, serta tamu undangan dari tingkat nasional hingga internasional. Momen ini menjadi tonggak baru dalam menyelaraskan tradisi Nusantara dengan agenda perdamaian dunia.
Menurutnya, misi utama WPF - UNESCO adalah membangkitkan kesadaran, membangun rasa saling percaya, serta menguatkan diplomasi kebudayaan non-pemerintah antarnegara demi mewujudkan perdamaian global berlandaskan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Kiprah Agus di dunia kebudayaan memang sudah teruji sejak lama melalui berbagai peran aktifnya, antara lain Anggota Kasepuhan Jowo Dipo (2013 – sekarang), Peserta Sarasehan Budaya dan Adat di Bali (2015), Pengurus Struktural Baranusa (2021 – sekarang), Ketua Pelaksana Tradisi Takir Plontang di Desa Demuk, Pucanglaban (2018).
Rekam jejak ini menjadi bukti nyata bahwa pengabdian tulus yang berakar dari daerah mampu memberikan dampak luas dan meraih penghormatan di tingkat dunia. (*)
