KETIK, BONDOWOSO – Membangun citra sebuah daerah tidak cukup hanya dengan mempromosikan destinasi wisata atau menampilkan potensi ekonomi. Identitas daerah juga lahir dari cerita yang dibangun masyarakatnya sendiri.
Gagasan inilah yang didorong Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI) melalui program Community-Driven Digital Storytelling Intergenerational di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Program tersebut digelar di Pendopo Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Minggu malam (04/10/2026), dengan mempertemukan sekitar 50 peserta dari lintas generasi, mulai Generasi X, Milenial, Generasi Z hingga Generasi Alpha.
Melalui pendekatan tersebut, SPPB UI tidak sekadar memberikan pelatihan produksi konten digital. Masyarakat diajak menjadi aktor utama dalam menggali potensi lokal, menyusun cerita, memproduksi konten, hingga menyebarluaskannya melalui kanal digital.
Kegiatan dipimpin Henny Saptatia Drajati Nugrahani, S.S., M.A., Ph.D., Ketua Departemen Kajian Strategik Global dan Kewilayahan (KSGK) sekaligus Ketua Program Studi S2 Kajian Wilayah Eropa SPPB UI. Ia didukung tim dosen dan anggota klaster riset SPPB UI dengan latar belakang keilmuan yang beragam.
Tim tersebut antara lain melibatkan Mohamad Dian Revindo, Ph.D., Ketua Klaster Riset T-SMART Lab sekaligus Wakil Direktur LPEM UI dan Dosen Tetap SPPB UI, serta Dr. Lita Sari Barus, Dr. David Ronald Tairas, Susy Ong, Ph.D., Jelang Ramadhan, Ph.D., Dr. Shobichatul Aminah, dan Dr. Puspitasari.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Dwi Wahyudi, S.Sos., M.M., membuka kegiatan tersebut.
Henny mengatakan Bondowoso memiliki beragam kekayaan lokal yang berpotensi menjadi kekuatan identitas daerah. Persoalannya, potensi tersebut perlu dikemas dalam cerita yang autentik dan mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Bondowoso memiliki kekayaan potensi lokal yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat diceritakan dari perspektif masyarakatnya sendiri dan dikembangkan menjadi narasi yang kuat, kreatif, serta mampu menjangkau publik yang lebih luas,” ujar Henny.
Menurut dia, transformasi digital telah mengubah posisi masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak berperan sebagai konsumen informasi, kini mereka juga memiliki kemampuan untuk menjadi produsen sekaligus penyebar informasi.
Karena itu, generasi muda dan masyarakat lokal perlu ditempatkan bukan hanya sebagai target komunikasi pemerintah atau promosi daerah, melainkan sebagai pihak yang memiliki peran menentukan dalam membentuk cerita tentang daerahnya sendiri.
Salah satu kekuatan program ini adalah keterlibatan empat kelompok generasi dalam satu ruang kolaborasi. Generasi X membawa pengalaman dan pengetahuan lokal, sementara generasi Milenial, Z, dan Alpha memiliki kedekatan yang lebih kuat dengan perkembangan teknologi serta budaya digital.
Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI) melalui program Community-Driven Digital Storytelling Intergenerational di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. (Foto: Haryono/Ketik.com)
Pertemuan lintas generasi tersebut diharapkan melahirkan pertukaran pengetahuan dua arah. Pengetahuan dan pengalaman yang telah berkembang di masyarakat dapat dipadukan dengan kemampuan mengemas cerita dalam format digital yang lebih kreatif dan relevan.
Dengan model tersebut, proses branding Bondowoso tidak dibangun sepenuhnya dari atas ke bawah. Sebaliknya, masyarakat didorong untuk menemukan sendiri cerita, nilai, identitas, dan potensi yang layak diangkat sebagai wajah daerah.
SPPB UI menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan design thinking dalam menjalankan program. Tahapannya mencakup pemetaan potensi lokal, pelatihan digital storytelling, produksi konten secara kolaboratif, publikasi, serta evaluasi berbasis data.
Keterlibatan tim multidisipliner menjadi bagian penting dari program tersebut. Perspektif ekonomi, manajemen, komunikasi, perkotaan, budaya, hubungan internasional, hingga kajian strategik dan kewilayahan dipertemukan untuk melihat pembangunan daerah secara lebih utuh.
Pendekatan ini membuat regency branding tidak berhenti pada persoalan bagaimana sebuah daerah terlihat menarik di mata publik. Lebih jauh, branding dipandang sebagai proses membangun identitas, memperkuat kapasitas masyarakat, mengembangkan kreativitas, serta menciptakan narasi daerah yang memiliki nilai ekonomi dan sosial.
Mohamad Dian Revindo turut memperkuat perspektif ekonomi dan pengembangan potensi daerah. Sementara anggota tim lainnya berkontribusi melalui bidang keahlian masing-masing dalam menggali, mengolah, dan mengembangkan potensi Bondowoso menjadi cerita yang komunikatif.
Bagi SPPB UI, kegiatan tersebut sekaligus menjadi implementasi tridarma perguruan tinggi dengan mempertemukan pengetahuan akademik dan kebutuhan nyata masyarakat serta pemerintah daerah.
Program ini juga membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat untuk membangun kapasitas lokal secara bersama-sama.
Program Community-Driven Digital Storytelling Intergenerational secara khusus diarahkan untuk meningkatkan literasi digital, kemampuan produksi konten kreatif, serta membangun ekosistem kolaborasi antargenerasi.
Dalam jangka panjang, pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat identitas Bondowoso sekaligus meningkatkan daya saing dan visibilitas daerah, baik di tingkat nasional maupun global.
Kegiatan di Pendopo Kabupaten Bondowoso menjadi salah satu tahap awal dari rangkaian program yang akan dilanjutkan dengan pendampingan, produksi konten, publikasi, dan evaluasi. SPPB UI juga menargetkan terbentuknya model community-driven digital storytelling yang dapat berjalan secara berkelanjutan dan berpotensi direplikasi di daerah lain.
Pada akhirnya, pesan yang dibawa program ini cukup jelas: branding daerah tidak harus selalu datang dari lembaga pemerintah atau institusi besar. Ketika masyarakat diberi ruang untuk bercerita, mereka dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun identitas daerah.
Melalui kolaborasi lintas generasi dan lintas disiplin ilmu, SPPB UI mendorong Bondowoso untuk tidak sekadar dipromosikan, tetapi mampu menceritakan dirinya sendiri - dengan cerita yang autentik, kreatif, dan lahir dari masyarakatnya. (*)
