Dari Cermee Bondowoso ke Pentas Jatim, PP Raudlatul Falah Bawa Konsep “Rahayu” dalam Pesantren Sehat

5 Oktober 2026 13:16 5 Okt 2026 13:16

Haryono, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Dari Cermee Bondowoso ke Pentas Jatim, PP Raudlatul Falah Bawa Konsep “Rahayu” dalam Pesantren Sehat

Santri putri saat membuat Berbagai berkas, data, dokumentasi, serta bukti implementasi program pesantren sehat disiapkan dan dikirimkan secara online sebagai bagian dari proses penilaian. Foto: Haryono/Ketik.com

KETIK, BONDOWOSO – Pondok Pesantren (PP) Raudlatul Falah, Kranang, Ramban Wetan, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, membawa semangat kearifan lokal dalam ajang Lomba Implementasi Pesantren Sehat IKI (Inisiatif, Kolaborasi, dan Inovasi) Pesat Jawa Timur 2026.

Pada 4 Oktober 2026, pesantren tersebut mengikuti tahapan penilaian lomba secara daring. Berbagai berkas, data, dokumentasi, serta bukti implementasi program pesantren sehat disiapkan dan dikirimkan secara online sebagai bagian dari proses penilaian.

Keikutsertaan PP Raudlatul Falah bukan tanpa alasan. Pesantren ini ditunjuk oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso bersama Puskesmas Cermee untuk mewakili wilayah tersebut dalam ajang tingkat Jawa Timur.

Dalam prosesnya, Dinas Kesehatan Bondowoso, Puskesmas Cermee, dan PP Raudlatul Falah membangun kolaborasi untuk mempersiapkan seluruh aspek yang menjadi indikator penilaian.

Komposisi penilaian dalam lomba tersebut melibatkan tiga unsur. Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso memiliki bobot penilaian sebesar 20 persen, Puskesmas Cermee 30 persen, sedangkan bimplementasi yang dilakukan PP Raudlatul Falah menjadi bagian terbesar dengan bobot 50 persen.

Dari seluruh peserta, nantinya akan dipilih 10 besar untuk mengikuti tahapan penilaian selanjutnya. Yang menarik, PP Raudlatul Falah tidak sekadar mengedepankan program kesehatan secara teknis. 

Pesantren tersebut mengusung tema “Rahayu”, akronim dari Raudlatul Falah Memayu Hayuning Bawana, sebagai ruh utama dalam keikutsertaannya.

Lora Muhammad ‘Auilyaur Rosyid, menjelaskan bahwa konsep Memayu Hayuning Bawana merupakan filosofi Jawa yang memiliki makna menjaga keselamatan, keharmonisan, dan keindahan kehidupan serta alam semesta.

“Melalui semangat memayu hayuning bawana, kami berupaya menanamkan kesadaran bahwa menjaga kesehatan dan lingkungan merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab bersama,” ujar Lora Muhammad ‘Auilyaur Rosyid.

Menurutnya, filosofi tersebut menjadi landasan bagi pesantren untuk membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Kesehatan dan kebersihan tidak dipandang semata sebagai kewajiban sosial, tetapi juga sebagai bagian dari nilai keagamaan yang perlu ditanamkan kepada seluruh warga pesantren.

Ia menegaskan, pesantren memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menjadi tempat menimba ilmu agama. Lingkungan pesantren juga menjadi ruang pembentukan karakter generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap kesehatan diri, kesehatan orang lain, sekaligus kelestarian lingkungan.

“Pesantren tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga menjadi ruang untuk membentuk generasi yang peduli terhadap kesehatan diri, kesehatan sesama, dan kelestarian lingkungan,” tuturnya.

Melalui konsep “Rahayu”, PP Raudlatul Falah berupaya mempertemukan nilai-nilai keagamaan, kesehatan, dan kepedulian lingkungan dalam satu gerakan. 

Harapannya, budaya hidup sehat tidak berhenti sebagai program lomba, tetapi menjadi kebiasaan yang terus tumbuh dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari warga pesantren.

Keikutsertaan dalam IKI Pesat Jawa Timur 2026 pun menjadi momentum bagi PP Raudlatul Falah untuk menunjukkan bahwa pesantren dapat mengambil peran strategis dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, bersih, harmonis, dan berkelanjutan.(*)

Tombol Google News

Tags:

Ponpes Raudlatul Falah Cermee Bondowoso Dan Inovasi Jawa Timur 2026 Dinas Kesehatan Bondowoso info bondowoso kabar bondowoso