KETIK, BONDOWOSO – Kabupaten Bondowoso kembali mencatatkan langkah strategis di panggung internasional. Pemerintah Kabupaten Bondowoso dipercaya menjadi lokasi pembelajaran lapangan (experiential learning) dalam program Course on Access to Justice.
Sebuah kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Fakultas Hukum Universitas Jember, dan The Centre for Human Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2).
Persiapan pelaksanaan program tersebut dimatangkan melalui rapat koordinasi yang dipimpin langsung Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, didampingi Wakil Bupati As'ad Yahya Syafi'i, di Pendopo Raden Bagus Asra, Bondowoso, pada Kamis, 30 Juli 2026.
Kepercayaan sebagai tuan rumah pembelajaran internasional dinilai menjadi peluang besar bagi Bondowoso untuk menunjukkan berbagai praktik terbaik pembangunan daerah kepada masyarakat global.
Program ini akan menghadirkan akademisi, peneliti, dosen dari sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia, serta mahasiswa internasional yang berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Australia, Filipina, India, Malaysia, dan Korea.
Dalam rapat koordinasi tersebut, dibahas secara rinci konsep pelaksanaan kegiatan lapangan yang dipusatkan di Kecamatan Sumberwringin. Kawasan tersebut dipilih karena dinilai memiliki berbagai contoh nyata pembangunan berbasis masyarakat yang berhasil diterapkan dan layak menjadi referensi pembelajaran bagi peserta dari berbagai negara.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta akan mempelajari berbagai inovasi Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam memperluas akses terhadap keadilan serta mewujudkan pembangunan yang inklusif.
Beragam isu strategis akan menjadi materi utama, mulai dari pencegahan perkawinan anak usia dini, percepatan penurunan stunting, perlindungan hak anak, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan daerah.
Tak hanya itu, peserta juga akan diajak mengenal lebih dekat potensi unggulan Bondowoso melalui materi tentang Ijen Geopark. Kawasan yang memiliki kekayaan geologi, keanekaragaman hayati.
Serta warisan budaya tersebut akan diperkenalkan sebagai contoh pembangunan berkelanjutan yang mampu mengintegrasikan aspek konservasi, edukasi, dan pengembangan pariwisata.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kunjungan akademik.
"Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan akademik, tetapi momentum diplomasi pembangunan Kabupaten Bondowoso," tegasnya.
Melalui program internasional ini, Bondowoso diharapkan semakin dikenal sebagai daerah yang berhasil menghadirkan inovasi pembangunan berbasis keadilan sosial, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Kepercayaan dari berbagai institusi nasional maupun internasional tersebut sekaligus menjadi pengakuan bahwa praktik pembangunan di Bondowoso memiliki nilai pembelajaran yang dapat direplikasi di berbagai belahan dunia. (*)
