KETIK, MALANG – Usaha kuliner sukses tidak selalu diawali dari tempat yang besar. Hal itu terlihat dari perjalanan Bakso Banyu Mili yang awalnya hanya berjualan menggunakan gerobak di depan pom bensin Tlogomas. Dari usaha sederhana tersebut, perlahan usaha ini berkembang hingga memiliki tempat sendiri seperti sekarang di Jalan Raya Jetis No. 15–19, Jetis, Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Menurut Sindi Astutik, usaha ini dirintis oleh sang ayah dan sempat beberapa kali berpindah lokasi sebelum akhirnya menetap di tempat yang sekarang selama kurang lebih enam bulan. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses berkembangnya usaha yang kini semakin dikenal.
Seiring berjalannya waktu, Bakso Banyu Mili mulai melakukan berbagai inovasi, salah satunya dengan menghadirkan konsep prasmanan. Konsep ini memungkinkan pelanggan untuk memilih sendiri menu yang diinginkan, sehingga memberikan pengalaman makan yang berbeda dibandingkan bakso pada umumnya.
Jumlah menu yang ditawarkan pun tidak sedikit. Saat ini terdapat sekitar 68 menu yang tersedia, meskipun pada awalnya hanya sekitar 22 menu. Penambahan menu dilakukan secara bertahap dengan melihat minat pelanggan. Selain itu, tersedia juga tiga pilihan kuah, yaitu original, gajeh, dan pedas, yang dapat dipilih sesuai selera.
Keunikan konsep tersebut membuat Bakso Banyu Mili tidak hanya diminati oleh pelanggan lokal, tetapi juga pelanggan dari luar daerah hingga luar negeri. Bahkan, produk bakso juga disediakan dalam bentuk frozen untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Di sisi lain, usaha ini berkembang tanpa mengandalkan promosi melalui media sosial. Pemilik lebih menekankan kualitas rasa dan kepuasan pelanggan sebagai kunci utama agar usaha tetap berjalan. Hal ini terbukti dari ramainya pengunjung setiap hari.
Bakso Banyu Mili buka mulai pukul 14.00 hingga 03.00 WIB dengan dukungan sekitar delapan karyawan. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama saat jumlah pelanggan menurun, seperti ketika mahasiswa sedang libur. Untuk mengatasinya, biasanya dilakukan penyesuaian pada jumlah produksi.
Selain itu, seluruh proses pembuatan masih dilakukan secara manual, sehingga membutuhkan tenaga dan ketelitian lebih. Rasa lelah menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam menjalankan usaha ini, namun tetap dijalani dengan komitmen yang kuat.
Nama “Banyu Mili” sendiri memiliki makna tersendiri, yakni terinspirasi dari harapan agar rezeki dapat terus mengalir seperti air. Filosofi tersebut menjadi semangat dalam mempertahankan usaha hingga saat ini.
Sindi menegaskan bahwa keyakinan menjadi hal penting dalam menjalankan usaha. “Yang penting yakin dulu, laku atau tidak, pasti ada jalannya,” ujarnya.
Ke depan, Bakso Banyu Mili diharapkan dapat terus berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat luas tanpa meninggalkan kualitas yang selama ini dijaga. (*)
