KETIK, MALANG – Gagal seleksi Perguruan Tinggi di Indonesia tidak membuat Alwi Arifin Menyerah. Setelah tertolak jalur SNMPTN, SBMPTN dan Bidikmisi, Ia justru berhasil meraih beasiswa S1 di Huaqiao University, China. Sebelas tahun belalu, ia kini berkarier sebagai dosen di Fujian Polytechnic Normal University.
Alwi merupakan lulusan SMA Nurul Jadid. Ia memperoleh informasi program beasiswa sarjana ke China melalui sekolah tersebut. Selain itu, ia telah mencoba berbagai jalur seleksi perguruan tinggi di Indonesia.
“Tentu ada keinginan kuliah di dalam negeri. Waktu itu saya mendaftar Bidikmisi, SNMPTN, dan SBMPTN, tetapi belum diterima. Alhamdulillah saya lolos seleksi beasiswa ke China sehingga tetap bisa melanjutkan kuliah,” ucap Alwi, Jumat, 17 Juli 2026.
Pada 2014, Alwi berangkat ke China dan menempuh pendidikan di Huaqiao University, Xiamen. Ia mengambil program Bachelor of Education in Chinese Language. Pada 2018 ia berhasil menyelesaikan studi sarjananya.
Kehidupan sebagai mahasiswa asing bukan perkara mudah bagi Alwi. Ia mengaku mengalami culture shock sejak pertama tiba di China. Perbedaan bahasa, budaya, cara berkomunikasi, hingga kebiasaan masyarakat menjadi tantangan yang harus ia hadapi setiap hari.
“Untuk mengatasinya ya menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan budaya lokal, tanpa mengurangi kewajiban-kewajiban pribadi,” ungkapnya.
Salah satu pengalaman paling membekas terjadi ketika ia menjadi relawan pengajar di daerah pegunungan di China bagian barat. Wilayah tersebut memiliki keterbatasan fasilitas sehingga kehidupan sehari-hari sangat berbeda dengan kota-kota besar. Menariknya, kawasan tersebut mayoritas beragama Islam.
"Lokasi tempat mengajar sekitar 20 sampai 30 kilometer. Karena kondisi air dan cuaca, untuk mandi harus pergi ke kamar mandi umum yang berbayar. Saat itu saya hanya bisa mandi sekitar tiga hari sekali, bahkan pernah seminggu sekali. Untungnya cuacanya cukup sejuk sehingga tidak sering berkeringat," kenangnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2018, Alwi kembali ke Indonesia. Ia bekerja sebagai penerjemah Selama sekitar satu tahun. Namun, keinginannya untuk memperdalam ilmu membuatnya memutuskan kembali ke China pada 2019.
Akhirnya, ia berhasil menerima China Scholarship Council (CSC) dengan beasiswa penuh. Alwi kemudian melanjutkan studi di kampus yang sama. Ia memilih program Master of Teaching Chinese to Speakers of Other Languages (MTCSOL). Pendidikan tersebut sukses di selesaikan pada 2022. Tak hanya itu, ia dipercaya mengajar di Fujian Polytechnic Normal University sejak 2022. Kesempatan itu datang seiring ia menyelesaikan program magisternya.
"Sejak dulu memang cita-cita saya menjadi guru. Syukurlah ada kesempatan mengajar di Fujian Polytechnic Normal University," katanya.
Selain mengajar, Alwi juga aktif sebagai penerjemah dalam berbagai kegiatan Indonesia dan China. Bahkan, Ia pernah menjadi bagian tim penerjemah Wakil Presiden RI, Ma’ruf Amin saat kunjungan ke Fuzhou. Alwi berharap ia dapat memberikan kontribusi untuk negara dan bangsa walaupun kescil.
“Ke depan saya ingin bisa berkontribusi untuk bangsa dan negara. Meskipun kontribusinya kecil, semoga bisa bermanfaat dan membawa perubahan yang lebih baik. Sekarang yang terpenting adalah menjalankan kewajiban mengajar dengan baik," imbuhnya.
.png)