RSSA Malang Ciptakan BIRU, Inovasi yang Bisa Deteksi Penyakit Jantung Bawaan Anak Hanya 5-8 Menit

13 Agustus 2026 17:00 13 Agt 2026 17:00

Lutfia Indah, Gumilang

Redaksi Ketik.com
Thumbnail RSSA Malang Ciptakan BIRU, Inovasi yang Bisa Deteksi Penyakit Jantung Bawaan Anak Hanya 5-8 Menit

Inovasi BIRU yang dikembangkan oleh RSSA untuk mendeteksi dini penyakit jantung bawaan pada anak. (Foto: RSSA Malang)

KETIK, MALANG – Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang berhasil mengembangkan inovasi Bantu Identifikasi Risiko Utama Penyakit Jantung Bawaan Sejak Dini (BIRU). Inovasi tersebut mampu mendeteksi dini penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak. 

Sang inisiator BIRU, dr Valerinna Yogibuana menjelaskan PJB dapat berpengaruh pada gangguan tumbuh kembang, gagal jantung, hingga kematian apabila tidak terdeteksi sejak dini. Sayangnya banyak anak yang baru terdiagnosis ketika kondisinya telah berat.

"Inovasi ini dikembangkan sebagai metode skrining yang sederhana, cepat, dan mudah diterapkan untuk membantu mengenali anak yang berisiko mengalami Penyakit Jantung Bawaan. Ada tiga tanda utama, yaitu biru atau sianosis, infeksi saluran pernapasan berulang, dan gagal tumbuh," ujarnya, Kamis 13 Agustus 2026.

Tahap uji coba telah dilakukan pada 20 Januari 2023 dan diterapkan pada 7 Februari 2024. Inovasi tersebut juga dilengkapi dengan Buku Saku Edukasi Penyakit Jantung Bawaan yang mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, inovasi BIRU kembali dikembangkan dengan bentuk aplikasi digital. Pengembangan tersebut untuk mempermudah proses skrining agar lebih sistematis. 

"Melalui aplikasi ini, tenaga kesehatan dapat mengisi data pasien, melakukan penilaian berdasarkan tiga indikator utama BIRU, memperoleh hasil risiko secara otomatis, serta mendokumentasikan hasil pemeriksaan dan rekomendasi tindak lanjut dalam satu sistem yang terintegrasi," lanjutnya. 

Skrining yang dilakukan pun tak memakan waktu lama, hanya sekitar 5-8 menit per anak. Apabila dalam hasil skrining menunjukkan risiko penyakit jantung bawaan maka pasien dirujuk melakukan pemeriksaan echocardiography sebagai baku emas dalam penegakan diagnosis. 

"Selain mempermudah tenaga kesehatan dalam melakukan identifikasi dini, inovasi ini juga meningkatkan pemahaman orang tua mengenai tanda-tanda bahaya Penyakit Jantung Bawaan sehingga anak dapat memperoleh penanganan lebih cepat," jelasnya. 

Inovasi BIRU juga terbukti bermanfaat bagi pasien di RSSA Malang. Dari 1.008 siswa SD yang mengikuti skrining, dihasilkan 96 persen menunjukkan sensitivitas dan spesifitas 92,1 persen. 

"Berbagai kasus Penyakit Jantung Bawaan berhasil ditemukan lebih awal sehingga mempercepat proses rujukan, mengurangi risiko komplikasi, serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan anak," pungkasnya.  (*)

Tombol Google News

Tags:

Inovasi Biru Biru Rssa Malang Penyakit Jantung Bawaan RSSA Malang