Saraf Kejepit Boleh Dipijat? Dokter Ingatkan Risiko Pijat Sembarangan

28 September 2026 01:00 28 Sep 2026 01:00

Thumbnail Saraf Kejepit Boleh Dipijat? Dokter Ingatkan Risiko Pijat Sembarangan

Ilustrasi saraf terjepit. (Pixabay/u_if8)

KETIK, JAKARTA – Pijat sering menjadi pilihan ketika seseorang mengalami nyeri pinggang karena dianggap dapat mengurangi rasa sakit. Namun, masyarakat perlu berhati-hati jika keluhan tersebut diduga berkaitan dengan saraf kejepit.

Neurolog sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Yeni Quinta Mondiani, SpN, mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pijat sembarangan ketika mengalami atau telah didiagnosis mengalami saraf kejepit.

“Kalau teman-teman didiagnosis sebagai saraf kejepit itu tidak boleh dilakukan pijat-memijat. Kecuali memang gerakan-gerakan khusus yang direkomendasikan oleh dokter fisioterapinya,” katanya.

Menurut dr Yeni, pijat memang dapat memberikan rasa nyaman ketika nyeri berkaitan dengan gangguan otot. Namun, masyarakat tidak dapat menyamakan seluruh nyeri pinggang sebagai gangguan otot.

 

Pastikan Penyebab Nyeri Lebih Dulu

Nyeri pinggang memiliki banyak kemungkinan penyebab. Sebagian besar kasus merupakan mechanical low back pain yang umumnya berkaitan dengan gangguan otot atau ligamen.

Kasus nyeri pinggang yang benar-benar disebabkan oleh saraf kejepit diperkirakan kurang dari 10 persen. Selain saraf kejepit, nyeri juga dapat berkaitan dengan penyakit degeneratif, trauma fisik, TB tulang, hingga penyebaran keganasan ke tulang belakang.

“Kalau nyeri pinggang bawah itu penyebabnya sangat bervariasi. Sebagian besar sebenarnya adalah mechanical low back pain yang umumnya berkaitan dengan gangguan pada otot atau ligamen,” ujar dr Yeni.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menentukan sendiri penyebab nyeri hanya berdasarkan sensasi yang dirasakan. Dokter perlu melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik dan saraf, serta tes provokasi untuk mencari sumber keluhan.

Jika diperlukan, dokter dapat menggunakan pemeriksaan penunjang seperti sinar-X, CT scan, atau MRI berdasarkan dugaan penyebab yang ditemukan dalam pemeriksaan awal.

 

Mengapa Pijat Bisa Berisiko?

Pijat dapat memberikan rasa nyaman pada nyeri yang berasal dari otot. Namun, kondisi tersebut berbeda jika sumber nyeri ternyata berasal dari saraf atau kondisi lain.

Menurut dr Yeni, pijat yang dilakukan tanpa memastikan penyebab keluhan berpotensi memperburuk kondisi apabila pasien sebenarnya mengalami saraf kejepit.

Karena itu, masyarakat perlu memastikan diagnosis sebelum menentukan tindakan. Jika fisioterapi diperlukan, gerakan atau teknik yang dilakukan juga sebaiknya mengikuti rekomendasi dokter atau fisioterapis.

Selain persoalan pijat, masyarakat juga perlu memahami bahwa nyeri pinggang yang menjalar ke kaki tidak otomatis berarti saraf kejepit. Sebagian besar kasus justru berkaitan dengan mechanical low back pain.

Tanda lain juga perlu diperhatikan. Nyeri pinggang yang disertai gangguan BAB atau BAK serta kebas atau hilangnya sensasi pada area bokong dan kemaluan dapat menjadi tanda cauda equina syndrome (CES) dan membutuhkan pemeriksaan medis segera.

 

Jangan Menunda Pemeriksaan

Jika masyarakat tidak mengetahui penyebab nyeri atau ragu menentukan langkah penanganan, dr Yeni menyarankan untuk memeriksakan diri terlebih dahulu.

“Kalau teman-teman bingung, datang saja dulu ke dokter umum. Sebenarnya dokter umum pun bisa mengenali tanda ini perlu dirujuk atau cukup ditangani,” ujarnya.

Pemeriksaan awal dapat membantu dokter menentukan apakah keluhan cukup ditangani atau membutuhkan rujukan lebih lanjut.

Dengan memastikan penyebabnya terlebih dahulu, masyarakat dapat menghindari penanganan yang tidak sesuai, termasuk pijat sembarangan pada kondisi yang seharusnya mendapatkan penanganan medis. (*)

Tombol Google News

Tags:

Nyeri Pinggang Saraf Kejepit Sakit Pinggang Gejala Saraf Kejepit Cauda Equina Syndrome Kesehatan Tulang Belakang Kesehatan Saraf