KETIK, MALANG – Dokter Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang menyoroti generasi 'bolong vaksin' akibat pandemi Covid-19. Tidak lengkapnya vaksin dasar yang diperoleh masyarakat menjadi salah satu pemicu lonjakan campak yang kini mulai marak diperbincangkan.
dr Heri Sutanto, Sp.PD-KPTI, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik Infeksi, menjelaskan, campak bukanlah penyakit baru di masyarakat. Sebelum pandemi, kelengkapan vaksin membuat angka kejadian dan risiko cenderung rendah bahkan bebas dari campak.
"Virus kan selalu ada. Pada saat-saat tertentu di mana ada gap vaksin, jadi vaksin yang selama ini sudah rutin dilaksanakan, kemudian tidak terlaksana dengan baik, tidak diberikan kontinu, sehingga ada celah di situ. Memunculkan risiko orang-orang generasi tertentu yang mudah tertular campak," ujarnya, Selasa, 12 Mei 2026.
Saat pandemi sekitar tahun 2020, vaksin dasar anak sempat diberhentikan sementara. Saat ini generasi tersebut sudah masuk usia sekolah sehingga ketika terdapat satu anak terjangkit, lebih rentan menular ke anak lainnya.
Bahkan orang dewasa khususnya yang belum menerima vaksin juga berisiko mengalami penularan. Orang-orang dengan kondisi penyakit bawaan bahkan berpotensi mengalami dampak yang lebih parah, hingga memicu kematian.
"Begitu kasus campak meningkat, risiko penularan ke populasi-populasi lain juga muncul. Seperti orang tua yang dulu vaksinnya belum penuh, orang dengan diabetes, hipertensi, obesitas yang berlebihan. Orang-orang tersebut menderita campak dengan kondisi yang lebih serius, lebih berat, bahkan memunculkan komplikasi kematian," tegasnya.
Vaksinasi tidak membuat pasien kebal terhadap infeksi, namun dapat mencegah terjadinya gejala yang lebih berat ketika terinfeksi. dr Heri mengingatkan, campak dapat mudah menular melalui udara, bahkan ketika penderita batuk, berbicara, atau berada dalam satu ruangan dengan orang lain.
"Bayangin saja anak TK kena campak, masuk sekolah, semua teman-temannya akan tertular. Kalau mereka belum divaksin semua, satu generasi itu bergejala. Begitu pulang ke rumah, ketemu nenek, kakek, orang-orang di rumah, itu yang menular dan menyebabkan gejala campak menjadi berat," ungkapnya.
Masyarakat diminta waspada ketika mengalami demam, batuk, dan pilek yang disertai ruam di area wajah hingga mengejar ke seluruh tubuh. Ketika menemui gejala tersebut, masyarakat diimbau segera periksa ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.
"Harus segera periksa, apalagi kalau memiliki komorbid, diabetes, hipertensi, gangguan autoimun, atau obat-obatan yang dikonsumsi adalah obat-obatan yang mengganggu daya tahan tubuh tertentu. Kemudian kalau memang secara fisik dia capek, tertular penyakit tertentu," ungkapnya. (*)
