Sebut Mirip Kostum Karnaval, Pelaku Budaya Minta Usulan Baju Khas Malang Dikaji Ulang

Jurnalis: Suci Wahyuningsih
Editor: Fisca Tanjung

9 Apr 2026 16:37

Thumbnail Sebut Mirip Kostum Karnaval, Pelaku Budaya Minta Usulan Baju Khas Malang Dikaji Ulang
Seragam Dikritik Tak Cerminkan Identitas, Pelaku Budaya Minta Kaji Ulang. (Foto : Suci Wahyu/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Usulan baju khas Kota Malang sebagai simbol budaya terus menuai sorotan. Sejumlah pelaku budaya menilai, konsep busana tersebut belum mampu merepresentasikan identitas asli daerah dan justru lebih menyerupai kostum karnaval tanpa nilai tradisi yang kuat.

Polemik baju khas yang dianggap sebagai identitas budaya Kota Malang masih menjadi perhatian para pelaku budaya. Mereka menilai busana tersebut tidak mencerminkan karakter asli Malang dan justru mengabaikan nilai adat serta unsur sakral yang seharusnya melekat dalam simbol budaya.

Dekip, perwakilan Persatuan Pembudi Budaya menyampaikan, seragam itu lebih tepat disebut sebagai kostum karnaval, bukan representasi budaya resmi. Ia menegaskan, dalam budaya terdapat nilai moral dan kesakralan yang tidak bisa dihilangkan begitu saja.

“Kalau masalah itu dengan pendorong saya sebagai seragam karnaval, malah bebas saja. Tidak ada adatnya sama sekali. Karena orang pakai budaya tentunya, ya adat moral budaya itu yang kita pakai. Sakke-sakralan itu. Tidak ada. Menganggap sebagai baju karnaval,” ujar Dekip.

Baca Juga:
Baju Khas Malang Diprotes, Pelaku Budaya Turun ke Jalan

Ia berpendapat bahwa identitas budaya Malang seharusnya dapat merefleksikan karakter masyarakatnya yang dikenal egaliter dan terbuka. Namun sampai sekarang, ia menilai belum terdapat kesepakatan di antara para pelaku budaya mengenai bentuk dan karakteristik yang tepat untuk diusung.

“Dari banyak orang-orang budaya masih belum terbuka,” ujar Dekip.

Ia juga menekankan pentingnya menyatukan perspektif budaya di kawasan Malang Raya yang terdiri dari Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Ia berpendapat bahwa hingga kini masih terdapat perbedaan perspektif yang mengakibatkan identitas budaya terfragmentasi.

“Karena kalau yang seperti A misalkan, jadi gelem batu, gelem kabupaten. Padahal kalau di luar sejarah harusnya Malang Raya jadi satu saja biar tidak ketemu-temu akhirnya,” ujarnya.

Ia menguraikan bahwa secara historis, sumber budaya Malang berasal dari daerah-daerah seperti Singosari, Kanjuruhan, dan Tumapel. Oleh karena itu, penentuan identitas budaya seharusnya mengacu pada sejarah tersebut dan disetujui secara kolektif oleh semua pihak yang terlibat

“Sementara prasyasti yang ada, contoh udeng yang di Singosari sudah dipakai untuk kabupaten. Harusnya disatukan, biar budaya yang melalui Dinas Kebudayaan Malang Raya kumpul bersama, jadikan kesemua,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa jika masalah ini tidak segera ditangani, maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan saat ini hanya berharap ada kesadaran dari para pengambil keputusan.

“Kita hanya berdoa saja. Seperti apa yang sudah kita lakukan tadi, mudah-mudahan tidak ada balas dari leluhur kita yang mungkin kecewa dengan apa yang sudah ditanggung,” ujarnya.

Sebagai peringatan jelas bagi pemerintah daerah, ia mengingatkan agar penetapan seragam itu sebagai identitas resmi segera dievaluasi kembali. Ia berpendapat, tindakan pertama yang harus diambil adalah memperbaiki pernyataan mengenai status seragam itu.

“Diralat saja dulu, kalimat bahwa itu sebagai seragam atau kas pertama. Diralat saja dulu, terus kemudian dibicarakan lagi,” terangnya.

Para pelaku budaya mengharapkan pemerintah dapat menciptakan kesempatan berdialog yang lebih luas dengan melibatkan berbagai pihak. Oleh karena itu, penyusunan identitas budaya Malang ke depan dapat dilakukan secara matang, komprehensif, dan benar-benar mencerminkan karakter wilayah. (*)

Baca Sebelumnya

Pemkab Lebak Gelar Musrenbang RKPD 2027, Fokus 4 Sektor Utama

Baca Selanjutnya

Perkuat Visi Misi, Pakaidonk Siapkan Ekspansi Luar Negeri

Tags:

Kritik tentang busana Pemkot Kota malang Baju Khas Malang Persatuan Pembudi Budaya Polemik baju khas

Berita lainnya oleh Suci Wahyuningsih

Kisah Suryadi: Bermodal Mental Santri dan Aktivis Jalanan, Kini Pimpin Komisi D DPRD Kota Malang

19 April 2026 14:22

Kisah Suryadi: Bermodal Mental Santri dan Aktivis Jalanan, Kini Pimpin Komisi D DPRD Kota Malang

Skyroom HOTEL THE 1O1 Malang OJ, Cafe Rooftop Favorit Anak Muda dengan View Pegunungan yang Estetik

12 April 2026 10:45

Skyroom HOTEL THE 1O1 Malang OJ, Cafe Rooftop Favorit Anak Muda dengan View Pegunungan yang Estetik

Sebut Mirip Kostum Karnaval, Pelaku Budaya Minta Usulan Baju Khas Malang Dikaji Ulang

9 April 2026 16:37

Sebut Mirip Kostum Karnaval, Pelaku Budaya Minta Usulan Baju Khas Malang Dikaji Ulang

Komisi D DPRD Kota Malang Jadi Garda Depan, Kesehatan dan Pendidikan Disebut Kebutuhan Dasar

8 April 2026 11:09

Komisi D DPRD Kota Malang Jadi Garda Depan, Kesehatan dan Pendidikan Disebut Kebutuhan Dasar

Refleksi HUT ke-112, DPRD Kota Malang Fokus Tuntaskan Masalah Banjir hingga Kemacetan

1 April 2026 21:46

Refleksi HUT ke-112, DPRD Kota Malang Fokus Tuntaskan Masalah Banjir hingga Kemacetan

Dari Kota Sejuk ke Kota Sibuk, Zulkifli Amrizal Kenang Perubahan Malang Sejak 1983

1 April 2026 10:00

Dari Kota Sejuk ke Kota Sibuk, Zulkifli Amrizal Kenang Perubahan Malang Sejak 1983

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Begini Nasib Relawan SPPG Kebondalem Pacitan Usai Program MBG Disuspend

Begini Nasib Relawan SPPG Kebondalem Pacitan Usai Program MBG Disuspend