KETIK, MALANG – Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) yang identik dengan aksi turun ke jalan dan orasi, Nurulloh Rizka Setiadi memilih cara berbeda. Founder kanal Bacasuara itu merayakannya dengan bersepeda mengelilingi Alun-alun Tugu Malang sebanyak 100 putaran, Jumat, 1 Mei 2026.
Aksi tersebut bukan sekadar olahraga, melainkan bentuk “protes fisik” yang ia gagas untuk merasakan langsung lelahnya para pekerja. Di atas sepeda, Rizka mencoba menghadirkan pengalaman yang menurutnya lebih reflektif dibanding sekadar menyuarakan tuntutan.
"Ini adalah ‘protes fisik’—cara untuk merasakan kelelahan yang sama dengan mereka yang bekerja keras setiap hari di lapangan. Di atas sepeda, kita semua sama, tidak ada kasta," ujarnya.
Rizka bukan sosok aktivis buruh konvensional. Ia dikenal sebagai founder dan book reviewer di kanal Bacasuara yang fokus pada peningkatan literasi di Indonesia. Melalui kontennya, ia merangkum buku-buku bertema psikologi hingga finansial agar lebih mudah dipahami masyarakat. Selain itu, ia juga aktif sebagai penulis dan kreator konten.
Meski tidak bekerja di sektor industri, Rizka menganggap dirinya bagian dari kelas pekerja. Ia menyebut dirinya sebagai “buruh kreatif” karena aktivitasnya tetap mengandalkan tenaga, pikiran, dan konsistensi untuk menghasilkan karya.
Rizka memilih memperingati Hari Buruh dengan cara yang berbeda, yakni dengan bersepeda mengelilingi Alun-alun Kota Malang sebanyak seratus kali. (Foto: Dok. Ketik.com)
Menurutnya, peringatan Hari Buruh tidak harus selalu dilakukan dengan pola yang sama. Ia memilih bersepeda 100 putaran sebagai simbol ketekunan dan kerja panjang yang melelahkan, namun harus diselesaikan.
"Kerja-kerja perubahan itu seperti bersepeda 100 putaran: membosankan, melelahkan, dan panas, tetapi harus dituntaskan sampai akhir," katanya.
Pemilihan lokasi di Alun-alun Tugu Malang pun bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut berada di jantung kota dan berdekatan dengan pusat pemerintahan. Rizka ingin menyampaikan pesan bahwa para pekerja selalu hadir, bergerak, dan mengawasi kebijakan yang diambil pemerintah.
"Ini pusat kota, dekat kantor wali kota dan DPRD. Saya ingin mengingatkan bahwa pekerja itu ada dan terus bergerak di depan mata para pengambil kebijakan," tuturnya.
Melalui aksinya, Rizka juga ingin mengajak pekerja untuk tetap sehat dan aktif bergerak. Ia percaya bahwa perubahan tidak lahir dari sikap diam, melainkan dari aksi—sekecil apa pun bentuknya.
Tak hanya itu, ia berharap seluruh pekerja, baik di sektor formal maupun informal, mendapatkan penghargaan yang layak. Bukan hanya soal upah, tetapi juga hak atas kesehatan, waktu bersama keluarga, serta lingkungan kerja yang manusiawi.
Baginya, peringatan Hari Buruh adalah momentum untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih adil bagi semua pekerja—dengan cara yang bisa dimulai dari diri sendiri. (*)
