KETIK, MALANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mendukung kegiatan edukasi dan pelatihan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang diselenggarakan oleh RW 13 Madyopuro Kota Malang pada Minggu, 28 Juni 2026. Hal ini sebagai upaya mengurangi penggunaan energi fosil dan mengendalikan emisi gas rumah kaca.
Sebagai instansi pemerintah daerah yang bertanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan hidup, pencegahan pencemaran, dan pelestarian alam di wilayah administratifnya, DLH Kota Malang selalu bersinergi dalam mendukung semua upaya penjagaan lingkungan di setiap sudut kota.
Salah satunya dengan turut hadir pada kegiatan edukasi dan pelatihan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang diselenggarakan oleh RW 13 Madyopuro Kota Malang. Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat RW 13 Madyopuro untuk bisa mendapatkan pengetahuan terkait pengelolaan sumber energi terbarukan.
Staf Bidang Tata Lingkungan DLH Kota Malang, Lailia Yuslichati Rahmadani, S.T., M.Ling, menyampaikan bahwa DLH sangat mendukung segala kegiatan warga yang berhubungan dengan upaya pelestarian lingkungan. Menurutnya, kegiatan ini bisa terus dilaksanakan secara massal untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca.
"Kami sangat support ya, karena kalau untuk masyarakat ini kita bisa mengurangi jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh masyarakat. Sehingga ke depan ketika kegiatan ini dilaksanakan secara massal maka kita bisa mengendalikan satu emisi gas rumah kaca, dua kita juga mengurangi energi yang dipakai dari sistem yang kurang ramah lingkungan, yang membutuhkan energi fosil," ujarnya.
Program Kampung Iklim (Proklim) tentunya menjadi pencapaian yang membanggakan bagi suatu wilayah di Kota Malang. Sehingga, sebagai kampung yang telah mendapatkan penghargaan tersebut, pengelolaan energi terbarukan merupakan wujud keberlanjutan untuk terus menciptakan kampung yang lestari.
Lia menjelaskan bahwa penyediaan pembangkit listrik menjadi salah satu yang didorong di setiap wilayah-wilayah yang sudah proklim. Menurutnya, sejauh ini masih terbatas penggunaan pembangkit listrik untuk lampu. Tentunya, ini juga menjadi motivasi bagi wilayah lainnya untuk bisa terus berupaya melestarikan lingkungan sekitar.
"Jadi kalau untuk wilayah-wilayah lain yang sudah proklim sebenarnya sudah memiliki, tetapi permasalahannya adalah apakah itu bentuknya pembangkit listrik atau bukan, maka itu yang menjadi salah satu yang kita dorong pembangkit listriknya, karena sejauh ini masih terbatas dari penggunaan untuk lampu," jelas Lia.
Ia juga menyampaikan dukungan untuk keberlanjutan edukasi ini. Sehingga kegiatan ini tak berhenti hanya pada pemaparan ilmu pengetahuan terkait PLTS tetapi juga penggunaan dan manfaat dari alat PLTS.
Dengan mengaplikasikan alat PLTS, tentunya ini akan menjadi nilai lebih dari suatu wilayah di Kota Malang, sehingga bisa mendapatkan bantuan dari pusat.
"Karena ini bukan dari kegiatan DLH ya, karena itu dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), artinya BPDLH itu bagian yang untuk mendukung kegiatan pendanaan untuk masyarakat, maka kami sangat support untuk keberlanjutannya," tutur Lia.
"Cuma kalau ini kan perlu diketahui bahwa akses dana ini adalah langsung dari pusat, jadi bukan dari daerah. Mungkin yang menjadi nilai unggulan adalah lokasi ini sudah proklim, sehingga mungkin mendapatkan bantuan," imbuhnya.
Dalam hal ini, Lia berharap kegiatan edukasi PLTS ini juga digelar di wilayah-wilayah lain, khususnya 30 lokasi proklim di Kota Malang. Sehingga, emisi gas rumah kaca bisa ditekan dan bisa bermanfaat pada ekonomi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya dalam menjaga bumi untuk terus lestari dengan menggunakan energi alami.
"Harapan saya adalah banyak lokasi yang bisa mereplikasi kegiatan ini sehingga mampu untuk menjadi salah satu contoh di wilayah-wilayah lain. Terutama untuk lokasi-lokasi proklim yang sekitar 30 lokasi, kita bisa hitung ketika 30 lokasi punya beberapa alat, dikalikan 30 berapa jumlah emisi gas rumah kaca yang bisa kita tekan dan juga manfaat ekonomi yang kita peroleh," ucapnya penuh harapan.(*)
.png)