KETIK, LABUHAN BATU – Komandan Kodim (Dandim) 0209/Labuhanbatu, Letkol Kav Hanung Kaptiaji, menegaskan bahwa tudingan yang menyebut prajurit TNI Angkatan Darat (TNI AD) terlibat dalam kasus pencurian lembu di Desa Sei Siarti, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu, tidak benar.
Pernyataan itu disampaikan Letkol Kav Hanung Kaptiaji saat menggelar coffee morning bersama sejumlah awak media di Aula Kodim 0209/Labuhanbatu, Rantauprapat, Minggu, 28 Juni 2026, sebagai respons atas beredarnya video yang viral di media sosial.
Menurut Hanung, pihaknya telah berkoordinasi dengan Polres Labuhanbatu untuk menelusuri kebenaran video tersebut. Hingga kini, proses pendalaman masih terus dilakukan guna memastikan identitas orang-orang yang terekam dalam video.
Video yang beredar memperlihatkan sekelompok pria berjalan pada malam hari. Narasi yang menyertainya menyebut kelompok tersebut merupakan anggota TNI AD yang diduga mencuri lembu milik warga.
"Perlu kita tegaskan bahwa tidak ada TNI AD mencuri lembu, apalagi dibilang jumlahnya sampai sekompi. Itu tidak benar," ujarnya.
Hanung mengatakan, pihaknya masih mengumpulkan berbagai informasi untuk mengungkap fakta di balik video yang telah memicu perhatian publik tersebut.
Ia mengakui, di sekitar lokasi memang terdapat personel TNI AD yang telah lama ditempatkan untuk melaksanakan tugas pengamanan di kawasan perkebunan. Namun, keberadaan personel tersebut tidak bisa langsung dikaitkan dengan isi video yang beredar.
"Nah, terkait dalam video, kita masih mendalami apakah itu benar TNI AD, dari satuan mana serta ditugaskan oleh siapa. Kita terus pendalaman, jadi tidak bisa dipastikan," kata Letkol Kav Hanung Kaptiaji.
Hanung juga mengungkapkan kejanggalan lain dalam kasus tersebut. Berdasarkan hasil penelusuran sementara, peristiwa yang terekam dalam video diduga terjadi pada pekan ketiga Mei 2026. Namun, rekaman itu baru diunggah ke media sosial beberapa waktu terakhir hingga akhirnya menjadi viral.
"Saya juga heran mengapa video itu baru dipublikasikan sekarang," ujarnya.
Berawal dari Konflik Lahan dan Kehilangan Lembu
Dandim menjelaskan, viralnya video tersebut tidak terlepas dari konflik berkepanjangan antara dua warga di Desa Sei Siarti yang berkaitan dengan persoalan lahan dan kepemilikan lembu.
Perselisihan itu kemudian berkembang hingga memunculkan dua kelompok pendukung yang saling berseberangan.
Hanung tidak menampik bahwa di lokasi terdapat anggota TNI AD. Namun, menurutnya, keberadaan mereka merupakan bagian dari tugas resmi untuk menjaga keamanan wilayah.
"Kalau dibilang kok ada tentara, ya pasti. Kenapa, karena kan emang ada Bhabinsa atau Koramil. Peran mereka juga turut menciptakan kekondusifan," akunya.
Ia menegaskan, keberadaan aparat TNI di lapangan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa institusinya terlibat dalam dugaan pencurian lembu. Karena itu, informasi yang menyebut satu kompi TNI AD mencuri ternak warga harus diluruskan agar tidak berkembang menjadi hoaks.
Hanung kemudian menjelaskan kronologi awal konflik tersebut. Seorang warga yang sempat meninggalkan kampung halamannya menitipkan sejumlah lembu kepada seorang penjaga. Ketika kembali menjelang pelaksanaan ibadah kurban, warga itu mendapati jumlah ternaknya telah berkurang.
Pada waktu yang hampir bersamaan, warga lain juga mengaku kehilangan belasan ekor lembu. Persoalan itu kemudian berkembang menjadi perselisihan yang semakin memanas.
"Nah, itulah yang akhirnya timbul seteru disebutkan dalam video pencurinya adalah TNI AD. Saat ini, kedua pihak sudah masing-masing membuat laporan ke Polres Labuhanbatu," paparnya.
Kodim Tunggu Arahan Terkait Langkah Hukum
Hanung menilai, beredarnya video dengan narasi yang menyudutkan TNI AD telah berdampak terhadap nama baik institusi.
Meski demikian, ia mengatakan Kodim 0209/Labuhanbatu belum memutuskan apakah akan menempuh jalur hukum terhadap pihak yang menyebarkan video tersebut.
Menurutnya, keputusan tersebut masih menunggu arahan dari komando atas. Ia juga mempertimbangkan agar persoalan tersebut tidak memicu konflik baru dengan masyarakat.
Namun, apabila langkah hukum dinilai diperlukan demi memulihkan nama baik institusi, dirinya siap menjalankan perintah pimpinan.
"Saya sudah lapor ke komando, nanti menunggu apa perintah selanjutnya. Kemungkinannya, bisa iya bisa juga tidak," akunya.
Sebelumnya, video yang menarasikan dugaan satu kompi anggota TNI AD membawa belasan ekor lembu milik warga di Desa Sei Siarti, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu, ramai beredar di media sosial sejak Jumat, 26 Juni 2026. Dalam rekaman tersebut tampak sejumlah pria bertubuh tegap berada di lokasi yang gelap pada malam hari, disertai keberadaan beberapa ekor lembu, sebuah truk Colt Diesel berwarna kuning, serta benda yang disebut perekam sebagai alat pembius sapi.
Perekam video, Erwin Hutabarat, menuding belasan lembu milik ibunya diambil paksa oleh seorang warga dengan melibatkan puluhan orang yang disebut sebagai anggota TNI. Ia mengklaim sedikitnya sekitar 25 orang berada di lokasi dan menyebut proses mediasi yang sebelumnya direncanakan batal terlaksana karena salah satu pihak tidak memenuhi kesepakatan.
Di sisi lain, Jefrey Agusutomo Ariska yang disebut dalam video membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan lembu yang diambil merupakan enam ekor ternaknya sendiri, bukan 16 ekor seperti yang dinarasikan dalam video viral. Jefrey juga menyatakan tidak ada anggota TNI yang terlibat dalam pengambilan lembu tersebut.
Menurutnya, ia terpaksa mengambil ternaknya pada malam hari karena sebelumnya sejumlah lembunya kerap hilang. Dari semula memiliki 32 ekor lembu, kini jumlah ternaknya disebut tinggal 16 ekor. Ia mengaku telah melaporkan dugaan kehilangan ternak tersebut kepada kepolisian dan proses penanganannya masih berjalan. (*)
.png)