KETIK, JAKARTA – Selama ini, pembuatan yogurt selalu identik dengan penggunaan kultur bakteri instan atau yoghurt plain sebagai starter fermentasi. Namun siapa sangka, batang cabai yang kerap dianggap sebagai limbah tak berguna ternyata bisa mengubah susu menjadi yogurt sehat dan bernutrisi.
Potensi unik ini terungkap dalam penelitian Renna Rofifah Sabrina bersama tim dari Jurusan Biologi Universitas Negeri Padang. Berdasarkan riset mereka, bagian kelopak dan tangkai buah Capsicum (cabai) kaya akan bakteri Lactobacillus bulgaricus alami.
Selain menyediakan bakteri, kandungan kapsaisin pada cabai juga mampu meningkatkan laju metabolisme Lactobacillus. Alhasil, batang tumbuhan pedas ini bisa menjadi alternatif starter alami untuk memicu proses fermentasi susu.
Riset tersebut juga melakukan uji organoleptik terhadap 25 konsumen untuk membandingkan yogurt batang cabai berbasis air kelapa dengan yogurt starter bakteri komersial.
Hasilnya menunjukkan dualisme preferensi. Konsumen lebih menyukai aroma dan rasa yogurt yang memanfaatkan kombinasi tangkai cabai dan air kelapa. Yogurt dengan bakteri starter komersial tetap meraih penilaian tertinggi untuk urusan tekstur dan rasa secara keseluruhan.
Berdasarkan metodologi penelitian tersebut, berikut langkah-langkah pembuatannya:
- Panaskan sekitar satu liter air kelapa hingga mencapai suhu 85°C.
- Tambahkan 100 gram susu rendah lemak ke dalam air kelapa panas, lalu aduk hingga rata.
- Saat suhu campuran turun ke 60°C, pindahkan larutan ke dalam termos. Masukkan batang cabai yang telah dipisahkan dari buahnya.
- Tutup termos dengan rapat, bungkus menggunakan kain tebal untuk menjaga suhu hangat, dan didiamkan selama kurang lebih 20 jam. Setelah selesai, angkat batang cabai dan yogurt siap dikonsumsi.
Meski hasil penelitian ini menjanjikan, masyarakat diimbau untuk tidak sembarangan mempraktikkannya di rumah demi alasan keamanan pangan.
Penelitian ini belum bisa dijadikan landasan mutlak untuk pembuatan yogurt mandiri (homemade) tanpa pengawasan laboratorium. Penggunaan bahan alam terbuka seperti batang cabai berisiko membawa mikroba atau patogen lain yang tidak diharapkan selain Lactobacillus.
Oleh karena itu, produksi yogurt dengan metode ini memerlukan pengawasan ketat dan higienitas standar laboratorium. Langkah tersebut krusial untuk memastikan produk akhir aman dikonsumsi dan terhindar dari kontaminasi akibat proses fermentasi yang tidak terkontrol. (*)
.png)