HKTI Diskusi dengan Kementan Soal Hasil Panen Kedelai

18 April 2026 20:06 18 Apr 2026 20:06

Surya Irawan, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail HKTI Diskusi dengan Kementan Soal Hasil Panen Kedelai

Ketua Bidang Kedelai Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Petrus Tjandra di sela-sela panen perdana kedelai di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta , Sabtu 18 April 2026 (Foto: Surya Irawan/Ketik.con)

KETIK, JAKARTA – Ketua Bidang Kedelai Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Petrus Tjandra meminta pemerintah pusat menyerap hasil panen kedelai dari para petani dan mengurangi ketergantungan impor untuk kebutuhan dalam negeri.

Hal itu ia sampaikan kepada Direktur Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Dyah Susilokarti di sela-sela kegiatan Panen Perdana Kedelai di Bumi Perkemahan, Cibubur, Jakarta, Sabtu 18 April 2026.

“Izin saya melaporkan kepada Ibu Direkrur mengenai apa yang kita lakukan dalam menanam kedelai. Kami ini tidak pernah gagal panen, tetapi yang ada kami gagal dibeli. Ini yang akhirnya membuat petani menjadi malas,” kata Petrus Tjandra.

Menurut Petrus, kondisi ini sudah terjadi sejak tahun 2000 dan masih berlangsung hingga sekali. Akibatnya, petani enggan menanam beli, karena kedelainya tidak dibeli pemerintah, kalaupun dibeli harga jatuh, di bawah pasar.

“Melihat hal ini petanu males, ngapain nanam kedelai, mending nanam jagung. Kedelai jadi tanaman pilihan paling akhir untuk di tanam, setelah jagung," ungkapnya.

Petrus berharap pemerintah mau memahami kondisi petani kedelai. Akibat tidak ada yang beli hasil panen mereka,. Kehidupan mereka pun menjadi susah makan dan tidak pernah sejahtera.

Ia sendiri sudah sering kali membujuk para petani kedelai untuk tidak putus asa. Karena itu, dengan adanya keterlibatan TNI dan Pramuka dalam meningkatkan produksi dan kualitas kedelai, dapat membenahi hal itu.

“Mudah-mudahan mulai hari ini, ada perubahan. Apa yang kita tanam di Cibubur ini  meski sedikir, bisa langsung ditanam dan dibeli Kementan,” katanya.

Petrus menegaskan, pengurus HKTI memilih tinggal di Cibubur untuk menyukseskan penanaman kedelai  dan mendampingi petani secara langsung setiap hari.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Nunik, Pak Kuku dan Pak Sam yang mau tinggal di Cibubur demi suksesnya tanaman kedelai, serta swasembada kedelai demi mengurangi ketergantungan dari inpor,” pungkasnya.

Menanggapi hal ini, Direktur Akabi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan Dyah Susilokarti mengatakan, pemerintah memastikan akan mengurangi ketergantungan impor kedelai.

Dyah mengatakan, seluruh hasil panen kedelai di Cibubur dibeli Kementan untuk dijadikan benih atau bibit varietas unggul.  Benih kedelai Cibubur akan digunakan untuk mendukung progam penanaman 1.000 hektar tanaman kedelai.

“Kementan tetap akan mengakomodasi kegiatan penanaman kedelai, walaupun lahannya tidak seluas 1 hektar. Kami ingin mengembangkan kualitas kedelai  unggulan, karena petani juga kerap menanyakan soal varietasnya. Kalau tidak sesuai mereka tidak mau,” kata Dyah.

Ia mengungkapkan, Kementan saat ini tengah mengembangkan varietas kedelai unggulan lainnya, selain varietas Argomulyo dan Grobogan.

Dyah berharap dukungan dukungan semua pihak agar berhasil mengembangkan varietal unggulan untuk kedelai.

“Argomulya dan Grobogan, yang paling bagus saat ini. Kita sedang mengembangkan varietas lain, mudah-mudahan ini berhasil,” harapnya.

Sebelumnya, Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bersinergi melakukan kegiatan panen perdana kedelai  di lahan seluas 5 hektar di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur pada Sabtu, 18 April 2026.

“Kenapa kita memilih kedelai, karena ini impornya sangat besar dan benih-benih kedelai di sini  berkurang jauh. Sehingg a kita diminta kembalikan kejayaan kedelai kita seperti masa Presiden Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang bisa swasembada kedelai dan mengurangi ketergatungan impor,” kata Mayjen TNI (Purn) Bahtiar Utomo.

Menurut dia, hasil kedelai yang ditanam cukup bagus, dimana satu batang berisi 40-60 bulir polong kedelai, serta kedelainya besar-besar dan rasa nya lebih gurih.

“Kita hitung hasilnya minimal 2-3 ton per hektar. Kita tanam 5 hektar menggunakan demplot. Dan kita juga mulai menanam di Lebak, Banten 200 hektar dan di Yogyakarta 160 hektar,” katanya.(*)

Tombol Google News

Tags:

#KwarnasGerakanPramuka #PanenKedelai #InfoJakarta #BeritaJakarta #PetrusTjandra #KurangiImpor #DyahSusilokarti