KETIK, JAKARTA – Deretan promo flash sale, gratis ongkir, hingga kemudahan layanan paylater membuat aktivitas belanja kini semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Namun, di tengah derasnya arus konsumtif tersebut, muncul tren baru di kalangan generasi muda, yakni no buy challenge. Gaya hidup ini mengajak seseorang untuk menunda membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan sebagai langkah membangun kondisi finansial yang lebih sehat.
No buy challenge bukan berarti berhenti berbelanja sepenuhnya. Tantangan ini lebih menekankan pada kesadaran dalam mengelola pengeluaran dengan hanya membeli kebutuhan yang benar-benar penting.
Banyak orang memanfaatkan tantangan ini untuk mengurangi kebiasaan belanja impulsif, memperkuat dana darurat, melunasi utang, hingga mulai menata tujuan keuangan jangka panjang.
Fenomena tersebut turut ramai diperbincangkan di media sosial. Salah satunya disampaikan oleh pengguna Threads dengan nama akun @nadahavva.
Dalam unggahannya, ia mengaku memilih menunda membeli iPhone seharga sekitar Rp10 juta apabila dana darurat yang dimilikinya belum mencapai sekitar sepuluh kali lipat dari harga barang tersebut. Menurutnya, memiliki cadangan dana yang cukup jauh lebih penting dibandingkan membeli barang demi gengsi atau pengakuan sosial.
Ia juga mengingatkan agar keputusan membeli barang bernilai tinggi, terlebih melalui skema cicilan, dipertimbangkan secara matang agar tidak membebani kondisi keuangan di masa mendatang.
Pandangan serupa disampaikan investor Kalimasada saat menjadi pembicara dalam seminar "Cara Melek Finansial Lewat Investasi" di Universitas Ma Chung, Malang. Dalam pemaparannya, ia mengajak generasi muda untuk lebih dahulu "berinvestasi dari leher ke atas", yakni meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas diri sebelum mengejar gaya hidup yang terlihat mewah.
Sebagai ilustrasi, Kalimasada mengaku baru menggunakan iPhone setelah penghasilannya mencapai sekitar Rp100 juta. Ia juga membagikan prinsip sederhana yang selama ini dipegangnya, yaitu tidak membeli suatu barang apabila belum mampu membelinya hingga sepuluh kali lipat dari harganya.
Menurutnya, pola pikir tersebut membantu seseorang lebih disiplin mengendalikan keinginan, membedakan kebutuhan dengan hasrat konsumtif, serta membangun kebiasaan mengelola keuangan secara lebih bijak.
Kesadaran untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran kini mulai tumbuh di kalangan mahasiswa maupun pekerja muda, termasuk di Kota Malang. Banyak yang memilih mengurangi pembelian impulsif saat ada promo, menyusun anggaran bulanan, hingga mengalokasikan penghasilan untuk dana darurat, investasi, maupun pengembangan diri.
Di tengah budaya konsumsi yang terus berkembang, tren no buy menjadi pengingat bahwa kondisi finansial yang sehat tidak ditentukan oleh seberapa banyak barang yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan seseorang mengelola uang dan mempersiapkan masa depannya dengan lebih matang. (*)
.png)