KETIK, JAKARTA – Beberapa waktu lalu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami rangkaian erupsi sejak awal September 2026. Erupsi gunung berapi memuntahkan hujan abu vulkanik yang dapat membuat masyarakat terpapar partikel yang mengganggu saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di wilayah terdampak perlu mengurangi paparan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan yang sesuai.
Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Ahmad Fikri Syadzali, Sp.P., menjelaskan bahwa upaya pencegahan terutama bertujuan mengurangi jumlah abu yang terhirup, memperpendek durasi paparan, serta mencegah abu masuk dan terakumulasi di dalam rumah.
Saat hujan abu berlangsung, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di wilayah terdampak, masyarakat perlu menggunakan masker respirator yang sesuai, seperti N95.
Masker tersebut menjadi salah satu perlindungan untuk mengurangi masuknya partikel abu ke saluran pernapasan. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan kacamata pelindung untuk mengurangi paparan abu pada mata.
Ketika hujan abu berlangsung berat, masyarakat juga perlu menghindari aktivitas berkendara. Selain meningkatkan paparan terhadap abu, kondisi tersebut dapat mengganggu kenyamanan dan keamanan saat berada di jalan.
Perlindungan tidak berhenti ketika masyarakat kembali ke rumah. Pintu dan jendela perlu ditutup untuk mengurangi masuknya abu dari luar. Masyarakat juga perlu mengurangi infiltrasi udara dari luar agar abu tidak mudah masuk ke ruangan.
“Sementara itu, ketika berada di dalam rumah, masyarakat perlu menutup pintu dan jendela, serta mengurangi infiltrasi udara dari luar untuk mencegah abu masuk ke ruangan. Tubuh dan pakaian juga perlu dibersihkan setelah terpapar. Selain itu, sumber makanan dan air harus tetap terlindungi dari kontaminasi abu vulkanik,” jelasnya.
Membersihkan tubuh dan pakaian setelah terpapar juga penting dilakukan. Langkah tersebut membantu mengurangi keberadaan abu yang menempel pada tubuh maupun pakaian setelah seseorang beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga perlu memastikan sumber makanan dan air tetap terlindungi dari kontaminasi abu vulkanik. Abu yang masuk ke dalam rumah bukan hanya menjadi persoalan kualitas udara, tetapi juga dapat mencemari benda atau sumber yang dikonsumsi masyarakat.
Upaya perlindungan tersebut penting karena partikel abu memiliki ukuran dan komposisi yang beragam. Partikel yang lebih kecil dapat menembus lebih jauh ke saluran pernapasan, bahkan mencapai bagian paru-paru seperti bronkiolus dan alveolus.
Paparan abu juga dapat menimbulkan keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan, hidung tersumbat atau berair, peningkatan dahak, sesak napas, dan mengi. Pada paparan yang berulang atau dalam jumlah tinggi, abu vulkanik dapat memicu peradangan yang berlangsung lebih lama dan pada kondisi tertentu mengganggu fungsi paru.
Masyarakat juga perlu mengenali tanda bahaya setelah terpapar abu vulkanik. Sesak napas berat atau semakin progresif, saturasi oksigen terutama di bawah 92 persen, serta perubahan warna kebiruan pada kulit dan bibir merupakan kondisi yang perlu segera mendapatkan pertolongan medis.
Dengan demikian, perlindungan selama hujan abu perlu dilakukan sejak seseorang berada di luar rumah hingga kembali ke lingkungan yang lebih terlindungi. Mengenali dampak abu terhadap paru-paru sekaligus memahami tanda bahaya juga membantu masyarakat mengambil langkah lebih cepat ketika muncul gangguan kesehatan. (*)
