Pertemuan Krisis di Washington Berakhir Buntu, Ketegangan AS–Denmark soal Greenland Meningkat

Editor: Muhammad Faizin

17 Jan 2026 05:00

Headline

Thumbnail Pertemuan Krisis di Washington Berakhir Buntu, Ketegangan AS–Denmark soal Greenland Meningkat
(dari kiri ke kanan) Menteri Luar Negeri Greenland, Vivian Motzfeldt; Menlu Denmark Lars Løkke Rasmussen; Wakil Presiden Amerika Serikat, J.D. Vance dan Menlu AS, Marco Rubio dalam pertemuan tingkat tinggi di Washington beberapa waktu lalu. (White House Gov)

KETIK, JAKARTA – Pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland di Washington pada 15 Januari 2026 lalu berakhir tanpa terobosan. Justru mempertegas kebuntuan diplomatik terkait masa depan Greenland dan memicu kekhawatiran akan memburuknya hubungan transatlantik.

Pertemuan tersebut mempertemukan Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen dan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt dengan Wakil Presiden AS J.D. Vance serta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Meski secara formal digambarkan sebagai dialog antarmitra, pernyataan publik yang disampaikan usai pertemuan menunjukkan tingkat ketegangan yang jarang terlihat antara sekutu NATO.

Rasmussen secara terbuka mengakui bahwa pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan substantif dan menyebut adanya perbedaan yang mendasar dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.

“Kami masih memiliki perbedaan mendasar,” kata Rasmussen kepada wartawan, pada 16 Januari 2026. 
“Jelas bahwa presiden (Trump) memiliki keinginan untuk menaklukkan Greenland," sambungnya.

Baca Juga:
Greenland Sempat Memanas Karena Ambisi AS, Menlu Sugiono: Indonesia Pilih Netral dan Damai

Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling gamblang sejauh ini bahwa Denmark memandang pendekatan Washington bukan sekadar tekanan diplomatik, melainkan upaya sistematis untuk mengubah status wilayah Greenland.

Rasmussen mengatakan Denmark akan membentuk kelompok kerja tingkat tinggi untuk membahas kekhawatiran keamanan Amerika Serikat, namun ia tidak menyembunyikan pesimismenya.

“Apakah itu bisa dilakukan, saya tidak tahu,” ujarnya.

Dari pihak Greenland, Motzfeldt menegaskan kembali bahwa keterlibatan Nuuk dalam pembicaraan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai kesiapan untuk menyerahkan kedaulatan.

Baca Juga:
Denmark Kirim Tentara ke Nuuk, Krisis Greenland Kian Memanas

Greenland, kata dia, hanya bersedia membahas kerja sama, bukan perubahan status politik atau kepemilikan wilayah.

Di tengah kebuntuan tersebut, sikap Washington tetap keras. Presiden Trump kembali menyampaikan bahwa Amerika Serikat memerlukan Greenland demi kepentingan keamanan nasional dan internasional. Ia juga menilai bahwa jika NATO tidak mengambil peran utama dalam mengamankan wilayah Arktik itu, Amerika Serikat akan bertindak sendiri.

“Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan internasional,” kata Trump dalam pernyataan terpisah.

“Jika NATO tidak melakukannya, orang lain akan melakukannya.”

Retorika itu memperdalam kekhawatiran di Eropa bahwa isu Greenland telah bergeser dari perbedaan pandangan strategis menjadi ancaman langsung terhadap prinsip kedaulatan sekutu NATO. Kekhawatiran tersebut segera direspons dengan langkah konkret.

Denmark mengumumkan peningkatan kehadiran militernya di Greenland melalui latihan dan penguatan pasukan di kawasan Arktik. Operasi tersebut, yang dilaksanakan dalam kerangka NATO, dimaksudkan sebagai sinyal kesiapsiagaan dan solidaritas Eropa, bukan sebagai provokasi terhadap Amerika Serikat.

Sejumlah negara Eropa, termasuk Swedia, Jerman, dan Prancis, dilaporkan menyatakan kesiapan untuk mengirimkan kontingen kecil sebagai bentuk dukungan. Seorang pejabat Eropa menggambarkan situasi ini sebagai ujian serius bagi aliansi transatlantik.

“Kami tidak pernah membayangkan harus mempertahankan kedaulatan wilayah sekutu dari tekanan sekutu lainnya,” kata pejabat tersebut.

Pertemuan di Washington yang semula diharapkan meredakan ketegangan justru memperjelas garis konflik. Di satu sisi, Amerika Serikat menempatkan Greenland sebagai kepentingan strategis yang tidak dapat ditawar. Di sisi lain, Denmark dan Greenland menegaskan bahwa kedaulatan bukan isu yang bisa dinegosiasikan, bahkan dengan sekutu terdekat sekalipun.

Bagi Greenland, eskalasi ini menempatkan wilayah tersebut di pusat pusaran geopolitik global. Dengan populasi yang kecil namun posisi strategis yang besar, Greenland kini menjadi simbol benturan antara kepentingan keamanan global dan hak menentukan nasib sendiri.

Hingga pertengahan Januari 2026, tidak ada tanda bahwa ketegangan ini akan segera mereda. Pertemuan di Washington justru memperlihatkan bahwa konflik diplomatik soal Greenland telah memasuki fase yang lebih keras, dengan implikasi langsung terhadap hubungan AS–Eropa dan masa depan solidaritas NATO. (*)

Baca Sebelumnya

BMKG: Cuaca Kota Palembang 17 Januari 2026 Diprakirakan Berawan, Ternate Cerah

Baca Selanjutnya

OJK Jabar Berharap Hasil SNLIK 2026 Makin Dekati Target 2029

Tags:

Greenland AS ingin kuasai Greenland Aneksasi Greenland Denmark

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Akademisi: Langkah Mendesak

15 April 2026 05:41

Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Akademisi: Langkah Mendesak

Bertemu Macron di Istana Élysée, Prabowo Perkuat Kerja Sama Indonesia–Prancis

15 April 2026 05:08

Bertemu Macron di Istana Élysée, Prabowo Perkuat Kerja Sama Indonesia–Prancis

Takut Dibunuh Intel Iran, Anak Buah Netanyahu Minta PM Israel Boleh Tak Hadiri Sidang Korupsi

14 April 2026 07:20

Takut Dibunuh Intel Iran, Anak Buah Netanyahu Minta PM Israel Boleh Tak Hadiri Sidang Korupsi

Makan Sebelum Kenyang, Hara Hachi Bu: Rahasia Umur Panjang Warga Okinawa

14 April 2026 06:20

Makan Sebelum Kenyang, Hara Hachi Bu: Rahasia Umur Panjang Warga Okinawa

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

12 April 2026 11:40

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

12 April 2026 11:00

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar