Mindspace BEM FEB UNESA Bahas Fenomena Doomscrolling dan Tantangan Gen Z di Era Digital

4 November 2026 13:34 4 Nov 2026 13:34

Devi Permatasari, Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Mindspace BEM FEB UNESA Bahas Fenomena Doomscrolling dan Tantangan Gen Z di Era Digital

Kegiatan Mindspace yang diselenggarakan oleh Departemen Politik dan Kajian Aksi Strategis BEM FEB UNESA, dengan mengusung tema yang bertajuk “Doomscrolling, Distracted, Disconnected : Ada Apa dengan Gen Z?”, pada Hari Selasa 3 November 2026 (Foto:Devi Permatasari/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Departemen Politik dan Kajian Aksi Strategis BEM FEB UNESA menyelenggarakan kegiatan Mindspace bertajuk “Doomscrolling, Distracted, Disconnected : Ada Apa dengan Gen Z?” di Warkop Podongopi, Jalan Jemur Andayani XVIII, Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya, Pada Selasa, 3 November 2026.

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk sharing session yang menghadirkan ruang diskusi interaktif mengenai pengaruh perkembangan teknologi digital terhadap kehidupan dan pola perilaku generasi muda.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh inspiratif, di antaranya Dr. Yoke Candra Katon, S.T., M.M. selaku Ketua Harian PW IKA ITS; Prof. Dr. Ahmad Ajib Ridwan, S.Pd., M.SEI. selaku Ketua Pemuda ICMI Jawa Timur; Prof. Dr. Anang Kistyanto, S.Sos., M.Si. selaku Dekan FEB UNESA; serta Wakil Dekan I FEB UNESA, Dr. H. Moch. Khoirul Anwar, S.Ag., MEI. ; dan dihadiri oleh Sekretaris Umum KONI Surabaya Bapak Randika Asiani Wijaya, M.Pd.  Diskusi ini juga diikuti oleh mahasiswa FEB UNESA dan mahasiswa dari berbagai fakultas lainnya.

Tema “Doomscrolling, Distracted, Disconnected : Ada Apa dengan Gen Z?” mengangkat tiga fenomena yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.

Doomscrolling merujuk pada kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara terus-menerus melalui media digital. Sementara itu, distracted menggambarkan kondisi ketika perhatian mudah teralihkan akibat paparan berbagai konten digital, sedangkan disconnected menunjukkan kondisi ketika seseorang justru merasa semakin jauh dari interaksi sosial secara langsung meskipun selalu terhubung melalui teknologi.

Melalui tema tersebut, Mindspace mengajak mahasiswa untuk merefleksikan kembali bagaimana penggunaan gawai dan media sosial memengaruhi produktivitas, pola pikir, hingga hubungan sosial. Pembahasan juga mencakup berbagai keresahan yang dihadapi Gen Z serta strategi dalam menyikapi tantangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Dalam diskusi tersebut, Dr. Yoke Candra Katon menyoroti perkembangan teknologi yang memiliki dua sisi, yakni dapat memberikan manfaat apabila dimanfaatkan secara bijak, tetapi juga berpotensi membawa dampak negatif apabila digunakan secara tidak tepat. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan kesadaran dan tanggung jawab penggunanya.

"Teknologi yang semakin canggih itu bisa membunuh kita sendiri dan membunuh orang lain," katanya.

Lebih lanjut, Dr. Yoke Candra Katon menyampaikan bahwa generasi muda perlu membangun etos kerja melalui empat prinsip, yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Keempat prinsip tersebut dinilai menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kapasitas diri serta menghadapi berbagai tantangan, baik di lingkungan akademik maupun dunia profesional.

Sementara itu, Wakil Dekan I FEB UNESA, Dr. H. Moch. Khoirul Anwar, S.Ag., MEI., menyoroti keresahan yang dialami generasi Z, khususnya dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Ia menilai bahwa tantangan dan permasalahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendewasaan diri. Oleh karena itu, generasi muda perlu memiliki keberanian untuk menghadapi masalah, bukan justru menghindarinya.

"Perihal distracted yang dialami Gen Z, hidup itu pasti menghadapi masalah. Kalau tidak berani menghadapi masalah, jangan hidup. Semakin kita menghadapi masalah, semakin membuat kita lebih baik," ujarnya.

Selain itu, Dekan FEB UNESA, Prof. Dr. Anang Kistyanto, S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya sikap ikhlas, kepekaan terhadap kondisi sekitar, dan inisiatif bagi mahasiswa.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga perlu memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta kemauan untuk mengambil tindakan tanpa harus selalu menunggu arahan. Sikap tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang aktif dan mampu memberikan kontribusi nyata.

Di sisi lain, Prof. Dr. Ahmad Ajib Ridwan menekankan pentingnya kesiapan generasi muda dalam menerima perubahan. Ia menyampaikan bahwa Gen Z perlu memiliki keterampilan dalam memilah informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.

Kemampuan tersebut menjadi penting mengingat derasnya arus informasi di media digital yang tidak seluruhnya dapat dipastikan kebenarannya.

Menurutnya, kebiasaan menerima dan menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu dapat menjadi salah satu kelemahan generasi muda. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun sikap kritis dengan menerapkan prinsip saring sebelum sharing agar tidak mudah terpengaruh maupun menyebarkan informasi yang keliru.

Pembahasan juga menyinggung kemampuan multitasking dan kreativitas Gen Z. Yoke memandang bahwa generasi muda memiliki potensi untuk mengerjakan berbagai hal sekaligus serta menghasilkan ide-ide kreatif. Potensi tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan mengatur prioritas dan mengarahkan fokus agar setiap pekerjaan dapat diselesaikan secara optimal.

Sejalan dengan hal tersebut, Yoke juga mengajak mahasiswa UNESA untuk terus mengembangkan kreativitas dan meningkatkan kapasitas diri agar mampu selangkah lebih maju dalam menghadapi berbagai perubahan. Pesan tersebut selaras dengan tagline UNESA, yakni "Satu Langkah di Depan", yang menjadi dorongan bagi mahasiswa untuk tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan mengambil peluang di tengah dinamika era digital.

Selain membahas tantangan di era digital, Mindspace turut menyinggung kesiapan mahasiswa dalam memasuki dunia kerja. Dalam diskusi tersebut, disampaikan bahwa perusahaan tidak hanya membutuhkan individu yang unggul secara akademis, tetapi juga mereka yang mampu menempatkan diri secara tepat dalam lingkungan profesional.

Kemampuan beradaptasi, memahami tugas dan tanggung jawab sesuai job description , serta mengetahui kapan harus mengambil tindakan menjadi keterampilan penting yang perlu dimiliki mahasiswa.

Melalui kegiatan Mindspace, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan dan memanfaatkannya secara bijak. Diskusi ini menjadi ruang refleksi bahwa kemajuan digital perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, pengelolaan diri, serta kepekaan sosial agar generasi muda tetap produktif, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan zaman. (*) 

Tombol Google News

Tags:

Departmen Polstrat Bem Feb Unesa Gen Z