KETIK, JAKARTA – Indonesia mencatatkan sejarah baru dalam dunia rekayasa bangunan pencakar langit. Menara Selatan (South Tower) di kompleks Indonesia 1, Jalan MH Thamrin, Jakarta, bakal menjadi gedung supertall tertinggi di dunia yang dialihfungsikan dari perkantoran menjadi hunian.
Dengan ketinggian mencapai 303,5 meter, Indonesia 1 South Tower melampaui rekor gedung 70 Pine Street di New York, Amerika Serikat, yang memiliki tinggi sekitar 290 meter.
Pencapaian ini menempatkan Indonesia di panggung global dalam penerapan konsep adaptasi fungsi bangunan pencakar langit.
Alih fungsi tersebut mengubah area perkantoran seluas 75.820 meter persegi menjadi apartemen.
Namun, pekerjaan ini tidak semudah membalik telapak tangan. Mengubah gedung setinggi ratusan meter menjadi hunian menghadirkan sejumlah tantangan rekayasa.
Tantangan utamanya adalah mengubah distribusi ruang, beban bangunan, hingga sistem utilitas tanpa mengganggu stabilitas struktur utama gedung.
Salah satu pekerjaan terbesar dalam konversi ini adalah mengantisipasi perubahan beban mati tambahan.
Apartemen membutuhkan komponen yang berbeda dari ruang perkantoran, mulai dari dinding pemisah antara unit, pelapis lantai peredam suara, hingga instalasi dapur dan kamar mandi di setiap unit. Seluruh komponen tersebut menambah beban permanen bangunan.
Pakar rekayasa struktur Indonesia, Davy Sukamta, menjelaskan bahwa penyesuaian pada Indonesia 1 South Tower dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan massa bangunan.
"Dalam kasus Indonesia 1 South Tower, total beban seismik keseluruhan dapat diseimbangkan, sehingga dipastikan tidak terjadi pergeseran signifikan pada periode alami struktur gedung," papar Davy.
Tantangan berikutnya adalah merombak sistem perpipaan.
Gedung perkantoran umumnya memiliki fasilitas toilet yang terkonsentrasi di area inti bangunan pada setiap lantai. Sementara itu, apartemen membutuhkan jaringan air bersih dan pembuangan limbah untuk setiap unit, termasuk dapur dan kamar mandi.
Konsekuensinya, diperlukan banyak jalur pipa vertikal baru yang tersebar di berbagai bagian pelat lantai.
Tantangan lain datang dari tekanan angin. Dengan ketinggian lebih dari 300 meter, Indonesia 1 South Tower harus menghadapi tekanan angin ekstrem, terutama hisapan angin negatif di bagian atas gedung.
Perubahan fungsi menjadi hunian juga menuntut penyesuaian sistem fasad. Jika gedung perkantoran umumnya menggunakan dengan bukaan terbatas, apartemen membutuhkan jendela yang dapat diakses dan dibuka oleh penghuni.
Selain itu, perubahan fungsi bangunan turut memengaruhi pola mobilitas penghuni. Gedung perkantoran memiliki karakteristik lalu lintas vertikal yang terkonsentrasi pada jam berangkat dan pulang kerja. Sebaliknya, apartemen beroperasi selama 24 jam dengan pola pergerakan penghuni yang lebih tersebar.
Karena itu, sistem elevator atau lift perlu disesuaikan dengan kebutuhan baru.
Aspek keselamatan tidak kalah penting. Perubahan fungsi bangunan menuntut penyesuaian sistem keselamatan kebakaran dan evakuasi, termasuk optimalisasi sistem pendorong udara bertekanan. Sistem ini berfungsi menjaga jalur evakuasi tetap terlindungi dari masuknya asap ketika terjadi kebakaran.
