KETIK, BOGOR – Kondisi pencemaran laut di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Persoalan ini tidak lagi hanya terjadi di kawasan perkotaan, tetapi telah meluas hingga wilayah pesisir yang jauh dari pusat aktivitas manusia. Kondisi tersebut mengancam kualitas lingkungan laut sekaligus keberlangsungan ekosistem pesisir.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Etty Riani, menjelaskan bahwa sebagian besar pencemaran laut di Indonesia berasal dari aktivitas di daratan. Limbah domestik, industri, pertanian, hingga sampah yang terbawa aliran sungai menjadi sumber utama pencemaran sebelum akhirnya bermuara ke laut.
“Sebagian besar pencemaran laut berasal dari aktivitas di daratan, seperti limbah domestik, industri, pertanian, maupun sampah yang terbawa sungai hingga ke laut,” jelas pakar pencemaran lingkungan dan ekotoksikologi tersebut, dalam pernyataan tertulisnya, Minggu, 19 Juli 2026.
Menurut Prof Etty, pencemaran yang terus berlangsung tidak hanya menurunkan kualitas air laut, tetapi juga merusak berbagai ekosistem penting. Mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang menjadi habitat berbagai biota laut ikut terdampak sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir.
Ia mengungkapkan, sampah plastik masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran laut di Indonesia. Berbagai penelitian di kawasan pesisir menunjukkan bahwa limbah yang paling banyak ditemukan berupa kemasan makanan dan minuman sekali pakai, kantong plastik, botol, sedotan, styrofoam, hingga jaring dan tali plastik.
Masalah plastik dinilai semakin serius karena material tersebut sangat sulit terurai secara alami. Plastik bahkan dapat bertahan hingga ratusan tahun di lingkungan sebelum akhirnya terpecah menjadi partikel berukuran lebih kecil yang semakin sulit dikendalikan.
Jika kondisi pencemaran laut terus dibiarkan, dampaknya diperkirakan akan semakin luas dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Produktivitas sektor perikanan berpotensi menurun akibat rusaknya habitat ikan, sementara kualitas lingkungan pesisir juga terus mengalami degradasi.
Dampak ekonomi pun tidak bisa diabaikan. Nelayan berisiko mengalami penurunan hasil tangkapan dan kualitas produk perikanan, sedangkan sektor wisata bahari dapat kehilangan daya tarik akibat memburuknya kondisi lingkungan pesisir.
Prof Etty menegaskan bahwa penanganan pencemaran laut harus dilakukan secara terpadu. Menurutnya, penguatan penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat menjadi langkah penting untuk memulihkan kualitas ekosistem laut.
“Penanganan pencemaran laut harus dilakukan secara terpadu melalui penguatan penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat. Dengan begitu, kita dapat mewariskan ekosistem laut yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tutupnya.
Di balik persoalan tersebut, ancaman lain juga mulai menjadi perhatian para peneliti, yakni munculnya mikroplastik yang kini telah ditemukan pada berbagai biota laut, termasuk ikan, kerang, udang, hingga garam konsumsi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap keamanan pangan dan kesehatan manusia.
Selain itu, upaya mengatasi pencemaran laut tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Perubahan perilaku masyarakat, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai hingga memilah sampah sebelum dibuang, menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menekan masuknya limbah ke laut. (*)
.png)