KETIK, BOGOR – Keberhasilan IPB University menghasilkan varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia merupakan buah dari proses penelitian yang panjang. Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof Muhamad Syukur, mengungkapkan timnya mulai mengembangkan varietas tersebut sejak 2020.
Selama sekitar enam tahun, proses pemuliaan tidak selalu berjalan mulus. Peneliti menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan pendanaan penelitian hingga kebutuhan fasilitas yang memadai.
“Pertama tentu dana yang berkelanjutan. Kedua, lahan terbatas dan memerlukan rumah kaca. Ketiga, sumber daya manusia pendukung, mulai asisten pemulia, asisten lapangan hingga pegawai lapangan. Keempat, fasilitas pendukung seperti alat untuk analisis kepedasan yang mahal,” kata Prof Syukur.
Meski menghadapi berbagai tantangan, tim peneliti berhasil menghasilkan empat varietas habanero lokal yang kini telah memperoleh Hak Perlindungan Varietas Tanaman dan resmi terdaftar di Kementerian Pertanian RI.
Prof Syukur sendiri dikenal sebagai salah satu pemulia tanaman yang telah menghasilkan lebih dari 30 varietas cabai unggul. Inovasi habanero lokal menjadi salah satu pencapaian penting karena sebelumnya Indonesia belum memiliki varietas habanero yang memperoleh perlindungan resmi.
Keempat varietas tersebut juga menawarkan karakter yang berbeda, termasuk Tabia Sala 1 IPB dengan tingkat kepedasan ekstrem hingga 1,3 juta Scoville Heat Units (SHU), menjadikannya salah satu cabai paling pedas yang pernah dikembangkan di Indonesia.
Selain memiliki tingkat kepedasan tinggi, varietas tersebut dirancang agar mampu beradaptasi dengan iklim tropis, tahan terhadap penyakit keriting kuning, dan berpeluang dimanfaatkan oleh industri pangan maupun pasar ekspor, termasuk untuk kebutuhan produk olahan dan hot pack di Korea. (*)
.png)