KETIK, SURABAYA – Ingin merasakan bagaimana eloknya matahari saat terbenam dan cerahnya sang mentari saat terbit? Ikuti pengalaman naik KM Kirana VII jurusan Tanjung Perak di Surabaya menuju Pelabuhan Lembar di Lombok.
Berangkat dari Dermaga Ro-Ro siang hari, maka saat senja masih berada di sekitar laut Probolinggo, Jawa Timur. Ketika itu, matahari terbenam tampak jelas, tanpa ada apapun menghalangi.
Langit sore memang candu. Senja memang indah, sepanjang mata memandang, warna awan kuning kemerahan menyapa. Di ufuk barat, semakin tampak merah, dan semakin memerah. Matahari pun perlahan mulai tenggelam.
Kencangnya angin laut diiringi kumandang shalawat dari dalam kapal menjelang maghrib, menambah syahdunya suasana. Belum lagi ditambah pemandangan deburan ombak di sekeliling kapal.
"Biasanya melihat matahari terbenam terhalang bangunan atau gedung tinggi. Tak pernah tahu bagaimana terbenamnya. Tapi sekarang saya lihat matahari memang seolah-olah tenggelam di laut barat," kata Wati, warga Surabaya yang saat itu menumpang kapal menuju Nusa Tenggara Barat (NTB).
Baca Juga:
Haru, 11 Jurnalis Jawa Timur Berangkat Haji Setelah Menunggu 14 TahunAdzan akhirnya berkumandang. Langit juga semakin gelap. Lampu-lampu di kapal juga telah dinyalakan. Pertanda, malam sudah hadir dan waktunya bersantai, beristirahat di dalam kapal.
Tapi, pemandangan belum benar-benar tidur. Di selatan laut, tampak berpijaran lampu-lampu yang sangat terang. Warnanya kuning menyala dan tidak sedikit jumlahnya. Ternyata, itu adalah Paiton.
Paiton adalah pembangkit listrik tenaga uap di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Gemerlap lampu mempercantik indahnya kawasan malam hari, meski hanya tampak dari jauh.
Baca Juga:
Hardiknas 2026 di Grahadi Tampil Beda, Gubernur Khofifah Bangga Paskibra Lintas Jenjang dan Pidato 5 Bahasa SiswaTapi, semakin malam angin semakin kencang. Tak ada pilihan selain kembali ke dalam kapal. Sebelum mata terpejam, sejenak melepas penat dengan menyaksikan hiburan musik dangdut di panggung depan kelas ekonomi duduk.
Bermalam di atas laut memang seolah sudah larut, padahal jarum jam belum menunjukkan genap pukul 10 malam. Tapi, rasa kantuk otomatis datang menghampiri hingga akhirnya mata terpejam dan terlelap.
Tidur akhirnya terjaga ketika bunyi alarm handphone menunjukkan pukul 4 pagi. Tidak menunggu lama, suara adzan dari musalla kapal berkumandang. Bergegas mengambil air wudlu, menghadap kiblat dan beribadah kepada Sang Illahi.
Di ufuk timur, langit mulai terlihat menguning, lalu memerah. Padahal suasana masih tampak agak gelap, belum terang betul. Di atas geladak kapal, sudah tidak sedikit yang mengarahkan matanya ke arah timur.
Semakin memerah, perlahan mentari mengintip. Jika terbenam seolah tenggelam ke dasar laut, kini saat terbit sang surya seperti keluar darah laut.
Sinarnya juga sudah muncul. Suasana berubah pula menjadi agak terang, terang hingga semakin terang. Tanda pagi sudah tiba. Pemandangan sekitar juga sudah menyapa.
Terbitnya sang mentari tepat di depan, bersamaan dengan arah jalannya kapal. Dan di sisi kanan, gunung tinggi menjulang tampak gagah, kokoh persis di pinggir laut.
Itu adalah Gunung Agung, yang berarti perjalanan sudah tiba di Bali, bahkan sudah hampir melewati Pulau Dewata.
Teriknya sinar mentari benar-benar menghangatkan tubuh. Tak terlalu menyengat, tapi bisa dirasakan.
Caring yang berkesan. Matahari tampak langsung, di kelilingi laut sepanjang mata memandang dan dimanjakan indahnya Gunung Agung.
Ya, dari atas KM Kirana VII milik PT Dharma Lautan Utama (DLU), pemandangan tak hanya matahari terbenam (sunsite) saat senja. Mata ini juga disuguhkan terbitnya sang mentari (sunrise) di kala fajar menyingsing. Pengalaman yang sangat berkesan memang. Selain perjalanan, tapi berwisata sekalian. (*)