KETIK, LEBAK – Kehadiran beras produksi lokal Kabupaten Lebak melalui PT Lebak Niaga Perseroda mendapat sambutan positif dari masyarakat. Selain dinilai memiliki cita rasa yang sesuai dengan selera konsumen, beras produksi badan usaha milik daerah (BUMD) Kabupaten Lebak tersebut juga dinilai memiliki kualitas yang baik dengan harga yang relatif terjangkau.

Salah seorang warga Rangkasbitung, Nengsih, mengaku kini beralih mengonsumsi beras produksi PT Lebak Niaga Perseroda setelah sebelumnya mencoba dalam jumlah kecil.

Nengsih mengatakan dirinya pertama kali membeli beras produksi PT Lebak Niaga Perseroda sebanyak 5 liter di kawasan Aweh, Rangkasbitung.

Setelah mencoba dan merasa cocok dengan kualitas beras tersebut, ia kemudian kembali membeli dalam kemasan yang lebih besar.

“Awalnya saya beli beras PT Lebak Niaga di Aweh itu 5 liter. Setelah mencoba dari 5 liter itu ternyata enak dimakan, dimasak juga pas,” kata Nengsih Kepada wartawan, Senin (21/9/2026).

Baca Juga:
Bulog Lebak-Pandeglang Percepat Bantuan Pangan Alokasi Juli-Agustus-September

Menurut dia, beras lokal tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dan sesuai dengan selera keluarganya. Ia menyebut beras tersebut memiliki aroma khas, berwarna putih dan pulen setelah dimasak.

“Saya beralih ke beras lokal karena memiliki khas beras lokal, memiliki wangi, putih dan pulen. Enak untuk dimakan,” ujarnya.

Setelah kemasan 5 liter yang dibelinya habis, Nengsih kemudian memutuskan membeli beras kemasan 25 kilogram dengan kategori Premium. Ia mengaku sudah beberapa kali membeli beras tersebut untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

“Setelah habis membeli 5 liter beras PT Lebak Niaga, saya kembali beli satu karung ukuran 25 kilogram merek Premium. Yang merek Premium itu ada kali sudah beli lima karung,” tuturnya.

Baca Juga:
Realisasi APBD Lebak Capai Rp1,93 Triliun, BKAD: Data Dilaporkan Rutin ke Kemendagri melalui SIPD

Namun, saat hendak membeli kembali beras kategori Premium, stok yang dicarinya sedang kosong. Nengsih kemudian mencoba beras kategori Medium.

Di luar perkiraannya, beras Medium yang dicobanya juga dinilai memiliki rasa dan kualitas yang tidak jauh berbeda dengan beras Premium.

“Kemarin beli yang merek Premium lagi kosong, lalu saya beli yang merek Medium. Ternyata merek Medium juga enak, tak kalah dengan merek Premium,” katanya.

Harga Beras Dinilai Terjangkau

Selain kualitas dan rasa, harga menjadi salah satu pertimbangan Nengsih dalam memilih produk beras lokal tersebut. Ia menyebut pernah membeli beras Premium kemasan 25 kilogram dengan harga Rp375.000 per karung.

Sekitar dua bulan kemudian, harga beras Premium yang dibelinya mengalami penurunan menjadi Rp372.500 per karung. Sementara beras Medium yang dibelinya terakhir dihargai Rp362.500 per karung untuk ukuran yang sama.

“Waktu itu yang merek Premium saya beli seharga Rp375.000. Selang dua bulan harga beras Premium turun menjadi Rp372.500. Kemarin saya beli yang merek Medium seharga Rp362.500,” ungkapnya.

Bagi Nengsih, pilihan terhadap beras produksi daerah bukan semata-mata karena rasa dan harga. Sebagai warga Kabupaten Lebak, ia juga merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut mendukung keberadaan produk lokal.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang menggunakan produk hasil daerah sendiri, maka semakin besar pula peluang perputaran ekonomi terjadi di daerah.

“Apalagi saya orang Lebak, tentunya harus mendukung produk-produk lokal agar pertumbuhan ekonomi selalu berada di Lebak,” pungkas Nengsih.