KETIK, MALANG – Wacana penutupan program studi (prodi) yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri menuai respons dari kalangan perguruan tinggi. Rektor Universitas Islam Malang (UNISMA), Junaidi, menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak bisa diambil secara gegabah.

Menurutnya, pendekatan penutupan bukanlah solusi utama dalam menjawab tantangan relevansi pendidikan tinggi. Ia menilai, pembinaan dan pengembangan program studi jauh lebih tepat dibandingkan langkah instan berupa penutupan.

“Penutupan prodi tidak boleh dilakukan secara gegabah. Pembinaan dan pengembangan jauh lebih bijak dibandingkan penutupan sepihak,” tegasnya.

Junaidi menekankan, relevansi suatu program studi tidak semata-mata ditentukan oleh kebutuhan industri jangka pendek. Perguruan tinggi memiliki mandat yang lebih luas, yakni membentuk manusia dan peradaban melalui pendidikan.

Ia juga menyoroti keberadaan program studi keguruan yang kerap dipandang kurang relevan dalam perspektif industri. Padahal, menurutnya, sektor pendidikan akan selalu dibutuhkan dalam kondisi apa pun.

Baca Juga:
UNISMA Buka Lowongan 66 Dosen Baru 2026, Cek Formasi dan Syarat Lengkapnya!

“Selama masih ada manusia, pendidikan akan selalu dibutuhkan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada penciptaan tenaga kerja, tetapi juga pada pembentukan karakter, nilai, dan arah masa depan bangsa. Karena itu, kebijakan terkait program studi harus disusun secara hati-hati dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang.

UNISMA, lanjutnya, memilih untuk memperkuat kualitas dan daya saing program studi melalui pembinaan, inovasi, dan adaptasi, alih-alih menempuh langkah cepat berupa penutupan. (*)

Baca Juga:
Rektor UIN Malang Pilih Transformasi Kurikulum Ketimbang Tutup Prodi