KETIK, JAKARTA – UNICEF merupakan lembaga PBB yang telah mendampingi anak-anak Indonesia sejak usia republik ini masih sangat muda. Hingga kini, organisasi tersebut tetap setia bermitra dengan pemerintah dalam mendukung peningkatan kualitas hidup anak-anak di Tanah Air.
Sejak Indonesia berjuang keluar dari ancaman kelaparan pascakemerdekaan, UNICEF telah hadir memberikan bantuan. Organisasi yang merupakan singkatan dari United Nations Children’s Fund atau Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa ini dikenal sebagai salah satu lembaga kemanusiaan dengan jangkauan bantuan anak terbesar di dunia.
UNICEF dibentuk pada 11 Desember 1946 dengan nama awal United Nations International Children’s Emergency Fund. Saat itu, mandatnya berfokus pada bantuan darurat bagi anak-anak di Eropa, Tiongkok, dan Timur Tengah yang terdampak Perang Dunia II.
Pada 1953, mandat tersebut diperluas untuk mendukung anak-anak di negara-negara berkembang. Bersamaan dengan itu, kata “International” dan “Emergency” dihapus dari nama resminya, meski singkatan UNICEF tetap digunakan hingga saat ini.
Di Indonesia, UNICEF mulai berkiprah pada 1948 melalui misi darurat untuk mencegah kelaparan di Pulau Lombok. Setahun kemudian, organisasi ini menandatangani perjanjian kerja sama resmi dengan Pemerintah Republik Indonesia untuk membangun dapur susu di Yogyakarta, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan.
Langkah tersebut menjadikan UNICEF sebagai lembaga PBB pertama yang menjalin kerja sama resmi dengan Pemerintah Indonesia.
Peran UNICEF semakin menguat pada 1969 seiring peluncuran Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) pertama oleh pemerintah. Bersama badan-badan PBB lainnya, UNICEF memberikan dukungan teknis guna menyokong agenda pembangunan nasional.
Sejak saat itu, cakupan programnya berkembang dari bantuan darurat menjadi dukungan pembangunan berkelanjutan.
Program UNICEF di Indonesia kini mencakup keberlangsungan hidup dan kesehatan anak, pendidikan, perlindungan anak, gizi, air dan sanitasi, serta kebijakan sosial. Fokus utamanya adalah memastikan setiap anak—baik laki-laki maupun perempuan—dapat mewujudkan potensinya tanpa ada yang tertinggal.
Kerja sama UNICEF dengan pemerintah dituangkan dalam Rencana Aksi Program Kerja yang memiliki tujuh tujuan utama. Target tersebut antara lain menurunkan angka gagal tumbuh (stunting) balita sebesar 14 persen, meningkatkan akses rumah tangga terhadap air minum bersih sebesar 15 persen, serta menekan angka kematian balita dari 24 menjadi 16 per 1.000 kelahiran hidup.
Selain itu, UNICEF juga mendorong cakupan imunisasi lengkap hingga 90 persen bagi anak usia 12–23 bulan, meningkatkan partisipasi pendidikan anak usia dini dari 63 persen menjadi 72 persen, serta memperluas cakupan layanan kesehatan, sosial, dan hukum bagi anak korban kekerasan dari 10 persen menjadi 20 persen. Upaya lainnya adalah menurunkan persentase anak yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional dari 11,8 persen menjadi 9 persen.
Sebagai salah satu kantor UNICEF pertama di Asia, UNICEF Indonesia kini bekerja dari Aceh hingga Papua. Kantor pusatnya berada di Jakarta, dengan lima kantor lapangan di Surabaya, Banda Aceh, Kupang, Makassar, dan Jayapura.
Program di setiap wilayah disesuaikan dengan kebutuhan daerah, dengan fokus pada anak-anak yang paling rentan.
Saat ini, UNICEF Indonesia dipimpin oleh Maniza Zaman yang menjabat sejak Agustus 2022. Dengan pengalaman panjang di berbagai negara, ia melanjutkan komitmen organisasi untuk menghadirkan keadilan dan kesempatan setara bagi setiap anak Indonesia agar dapat bertahan hidup, tumbuh dan berkembang, serta meraih masa depan yang lebih baik. (*)
