KETIK, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) kembali membuktikan taji akademiknya di kancah internasional. Berdasarkan rilis terbaru AD Scientific Index 2026 per 4 Mei 2026, UB mencatatkan performa kompetitif pada berbagai indikator utama, mulai dari H-Index, i10-Index, hingga jumlah sitasi (Citations).

Capaian ini menjadi cermin keberhasilan strategi UB dalam meningkatkan produktivitas publikasi dan dampak riset. Program prioritas universitas yang berfokus pada reputasi global, hilirisasi inovasi, serta penguatan kolaborasi akademik terbukti memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

AD Scientific Index menggunakan pendekatan researcher-to-institution model. Artinya, kualitas universitas dinilai langsung dari kontribusi akademik para penelitinya yang terindeks di Google Scholar.

Dalam pemeringkatan nasional berbasis Total H-Index, UB berhasil menduduki:

  • Peringkat 4 di Indonesia.
  • Peringkat 334 di Asia.
  • Peringkat 1.225 di dunia.

Tercatat sebanyak 1.599 staf akademik UB terindeks dalam sistem ini, dengan 24 peneliti berhasil menembus Top 10 percentile. Nurul Huda dari bidang Engineering & Technology/Food Science and Engineering menjadi peneliti UB dengan H-Index tertinggi (56).

Baca Juga:
UB Jadi Tuan Rumah Munas FSLDK ke-22, Soroti Pentingnya Peran Lembaga Dakwah bagi Kesehatan Mental Mahasiswa

Pada indikator i10-Index (publikasi dengan minimal 10 sitasi), UB bahkan menempati Peringkat 3 Indonesia (Peringkat 146 Asia). Peneliti dengan capaian tertinggi di kategori ini adalah Muh Zainul Arifin dengan i10-Index 251. Sementara itu, pada indikator Citations, Rachmat Kriyantono memimpin dengan torehan 19.468 sitasi.

Kekuatan akademik UB terbukti bersifat lintas ilmu. Sebaran peneliti unggul mencakup bidang teknik, pertanian, ilmu sosial, bisnis, ekonomi, sains, hingga kesehatan. Keunggulan spesifik terlihat pada Institutional Subject Rankings:

  1. Business & Management: UB menempati Peringkat 1 Indonesia dan Peringkat 17 Asia. Posisi ini menegaskan daya saing UB dalam bidang manajemen, akuntansi, komunikasi, hingga kewirausahaan.
  2. Engineering & Technology: UB berada pada Peringkat 4 Indonesia, memperkuat peran kampus dalam transformasi industri, energi bersih, dan ketahanan pangan.

Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., menegaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil pengembangan ekosistem akademik yang sistematis.

“Capaian ini menunjukkan bahwa peningkatan kinerja akademik UB berjalan dalam arah yang tepat. UB terus mendorong dosen dan peneliti untuk menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas, relevan, dan berdampak. Penguatan publikasi, kolaborasi internasional, mobilitas akademik, serta integrasi riset dengan pembelajaran menjadi bagian penting dari transformasi akademik UB,” ujar Prof. Imam.

Baca Juga:
Musyawarah Nasional FSLDK ke-22 Digelar di UB, Satukan Aktivis Dakwah Kampus Se-Indonesia

Ia menambahkan bahwa kualitas kontribusi ilmiah dan dampak sitasi kini menjadi parameter utama di samping jumlah publikasi.

Senada dengan hal tersebut, Kepala UPT Global Partnership and Reputation UB, Hendrix Yulis Setyawan, Ph.D., menyoroti momentum positif UB dalam lima tahun terakhir.

“Data AD Scientific Index memperlihatkan bahwa UB memiliki basis akademik yang kuat dan terus berkembang. Posisi UB pada H-Index dan i10-Index menunjukkan bahwa banyak karya ilmiah dosen UB telah memperoleh sitasi. Yang juga penting, indikator lima tahun terakhir menunjukkan adanya momentum positif. Artinya, produktivitas dan dampak akademik UB tidak hanya kuat secara historis, tetapi juga terus meningkat dalam periode terkini,” papar Hendrix.

Hendrix juga menjelaskan bahwa berbagai skema seperti matching fund, adjunct professor, dan hilirisasi riset menjadi mesin penggerak utama.

“UB terus memperkuat ekosistem akademik melalui riset unggulan, kolaborasi internasional, program dosen tamu, adjunct professor, publikasi bereputasi, matching fund, dana padanan, dan hilirisasi riset. Capaian dalam AD Scientific Index menjadi salah satu bukti bahwa program-program tersebut mulai tercermin dalam peningkatan produktivitas dan dampak akademik para peneliti UB,” tambahnya.

Terkait dominasi di bidang bisnis, Hendrix menilai hal tersebut sebagai pilar reputasi internasional yang sangat strategis bagi pembangunan berkelanjutan.

“Keunggulan UB pada Business & Management sangat strategis. Namun, UB juga memiliki kekuatan penting pada Engineering & Technology, Agriculture & Forestry, Social Sciences, dan bidang-bidang lain yang relevan dengan kebutuhan pembangunan. Ini menunjukkan bahwa UB tidak hanya mengejar pemeringkatan, tetapi juga memperkuat kontribusi ilmu pengetahuan untuk masyarakat, industri, dan agenda pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya.(*)